Sekolah Masih Melanggar.
20 July 2011 Leave a comment
RIANG: Mengenakan kalung permen plus nama diri serta topi dari kulit bola kaki, para siswa mengikuti MOS yang dimulai, kemarin. Mereka diajarkan mengenal lingkungan hingga cara baris berbaris dan upacara bendera.

Photo by: Sumeks.co.id
PALEMBANG — Meskipun dilarang, aksi perploncoan masih terjadi di sejumlah sekolah di Metropolis. Pelanggaran dominan dilakukan sekolah menengah atas, di mana para siswa diharuskan mengenakan pelbagai aksesori selama masa orientasi sekolah (MOS). Pantauan Sumatera Ekspres di SMAN 1 Palembang misalnya, pelajar pria harus mengenakan topi terbuat dari bola, gelang tali rapiah, papan nama terbuat dari kardus yang dipajang di dada. Sejumlah aksesori tersebut harus ditempil permen. “Permennya sudah ditentukan, harus lima macam,” ujar seorang perserta MOS SMAN 1 Palembang, Ads, kemarin. Karena hanya mempunyai tiga macam permen, ia sempat dimarahi oleh siswa senior panitia MOS.
“katanya kalau kali ini masih diberi toleransi, tapi kalau besok (hari ini, red) diulangi lagi, tidak ada ampun,” ungkapnya.
Bagaimana dengan siswa wanita? Mereka harus mengenakan kucir rambut dari tali rapiah sebanyak 7 buah. Selebihnya, aksesori lain sama dengan peserta MOS pria. Tak hanya itu, para siswa tadi juga “dipaksa” berjemur di bawah terik matahari, dengan dalih mendapatkan pelatihan mengenai tata upacara bendera. Sementara itu, sejumlah siswa lengkap dengan aksesori serius mendengarkan instruksi dari polisi mengenai tata cara upacara bendera di lapangan basket SMAN 1. Menahan panas, sesekali para peserta MOS mengernyitkan dahi dan mengelap keringat yang jatuh dari ke pelipis mata.
Hal serupa juga terjadi di SMAN 10 Palembang. Para siswa diharuskan mengenakan aksesori berupa tas, terbuat dari karung beras, sapu lidi, papan nama dari kardus yang diikatkan pada tali rapiah dan gelang rapiah ditempeli permen. Kepala SMAN 10 Palembang, Drs Jonson Liberty MSi mengaku jika penggunaan aksesori tersebut hanya untuk meramaikan dan memeriahkan suasana. “Hukuman fisik atau kekerasan tidak diperkenankan selama MOS.” Karung dan sapu lidi yang dipakai siswa, tambah dia, bertujuan agar para siswa lebih mengenal lingkungan sekolah. “Kalau nama (papan nama, red) itu agar siswa lebih cepat dikenali.”
Dengan alasan itulah, ia menegaskan jika apa yang dilakukan termasuk mengharuskan siswa mengenakan sejumlah aksesori tersebut tidak melanggar aturan. “Kalau yang tidak boleh bergaya plonco seperti mengenakan pita rambut seperti orang tidak waras. Kalau masih taraf wajar rasanya tidak apa.” Lagipula, terang Jonson, kegiatan yang digelar selama MOS lebih ditekankan kepada pengenalan lingkungan sekolah dan sistem pengajaran termasuk pengenalan para guru. “Termasuk, melaksanakan MOS secara gembira,” ungkap dia.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Palembang, Agus Tridasa menegaskan, jika memang aturan pelarangan penggunaan aksesori dan perploncoan dikeluarkan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), maka sudah seharusnya pihak sekolah mematuhinya. Jika memang terjadi aksi perploncoan maka pihaknya akan mengingatkan Kepala Dinas, sedangkan pihak sekolah harus membatalkan kegiatan tersebutt. “Kalau terjadi perploncoan, kekerasan fisik, silahkan lapor ke kita (Komisi IV, red) tukas Agus.
Di SMAN 15 Palembang juga dilakukan MOS tahun ajaran 2011/2012. Para siswa baru yang menimba ilmu di tempat tersebut “digembleng” para kakak kelasnya anggota OSIS. Pantauan Sumatera Ekspres, mereka dilatih baris berbaris di halaman upacara sekolah tersebut. Latihan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB. Semua perlengkapan yang dipakai siswa diperiksa. Mulai dari sapatu dan tali yang harus hitam dan sebagainya. Bahkan, mereka juga mendapatkan pengajaran cara memberi hormat kepada bendera merah putih yang benar. “Hai…,” tanya seorang anggota OSIS kepada para siswa baru yang menberikan hormat kepada bendera merah putih. Bila mereka menjawab sapaan tersebut, maka mereka mendapat hukuman dari kakak kelasnya. “Jangan pernah menggubris omongan orang lain, ketika sedan posisi hormat. Termasuk pertanyaan dari kakak kelas kalian,” ungkap anggota OSIS melalui microphone-nya.
Dalam kegiatan tersebut, beberapa siswa tidak kuat menahan panas. Beberapa siswa harus mendapat pertolongan dari anggota OSIS. Bahkan, seorang siswa baru terjatuh ketika sedang berdiri mengikuti latihan baris berbaris tersebut. Ia harus digotong ke salah satu kelas karena tak kuat menahan. Beberapa aksesori, juga dikenakan siswa baru dalam MOS tersebut. Seperti permen, serbet kain di kepala dan tangan, tas plastik, jilbab dan peci dan sebagainya, “Untuk pengenaan jilbab itu untuk seluruhnya, meski non-muslim juga mengenakan jilbab karena ini hanya aksesori,” ungkap Hj Betty Suarni SPd, Wakil Kesiswaan SMAN 15 Palembang.
Peserta MOS yang tak kuat dan harus dibawa ke UKS, disebabkan karena tak mempersiapkan diri dengan baik. “Mungkin karena nggak sempat sarapan,” ujarnya. Saat upacara pagi hari, sekitar 6 orang harus dirawat di unit kesehatan sekolah (UKS). Untuk aksesori permen, memiliki sisi edukatifnya tentang peringatan hari besar Islam. Misalnya, 10 permen menandakan tanggal 10 Muharram, 17 Rabiul Awal, 1 Syawal dan sebagainya. “Itu berdasarkan jumlahnya masing-masing dan mereka harus bisa menjelaskan.”
Sebanyak 262 siswa dari tujuh kelas mengikuti MOS di MAN 2 Palembang. Para siswa mengenakan beragam aksesori dalam MOS tersebut. Ada banyak hal positif yang diajarkan kepada para siswa baru. Misalnya, para siswa belajar praktik baris berbaris dengan pakaian yang terdapat makanan ringan, rumbai dan tas karung. Mereka mengikuti gerakan yang diperagakan instruktur dari jajaran TNI. baris berbaris ini berlangsung di lapangan bola IAIN Raden Fatah.
MOS juga berlangsung di SMAN 1 Palembang. Pantauan koran ini, tampak anggota Satlantas Polresta Palembang, Bripka Muhtasyor dan rekannya sedang mengajarkan cara baris berbaris serta tata cara upacara dan memimpin upacara bendera. Para siswa baru SMAN 1 ini berasal dari tujuh kelas yang diterima. Mereka terlihat mengenakan atribut kulit bola kaki dan permen serta atribut lainnya selama MOS.
Kabid Dikmenti Disdik Sumsel, Drs Widodo MEd mengatakan, tidak diperkenankan adanya aktivitas perploncoan pada MOS. “Aturannya sudah jelas, berikut sanksi bagi yang melanggar. Tinggal lagi kontrol pihak sekolah harus ketat. Itu yang kurang dilakukan,” katanya.
Mestinya, selama MOS sekolah sudah menyusun acara yang bermanfaat untuk siswa baru. Waktu pelaksanaan sendiri harus efektif dan efisien sehingga tidak memberikan ruang bagi siswa kelas II dan III memanfaatkan kesempatan ini untuk menggelar acara lain tanpa sepengetahuan pihak sekolah. “Adanya acara yang disusun sekolah secara langsung akan menutup peluang kreasi dari para senior siswa baru ini untuk menggelar acara sendiri. Sehingga perploncoan baik fisik maupun psikis siswa baru tidak terjadi. Ini akan mencegah kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan pada MOS,” tegas Widodo.
Di sisi lain, pemandangan menarik saat siswa TK dan SD sekolah di hari pertama kemarin. Agenda upacara bendera terlewatkan, namun tetap saja yang namanya anak-anak celingak-celinguk mencari orang tuanya, “Tolong ibu-ibu, anaknya tidak usah diantar ke depan ruang kelas,” ujar seorang guru di SDN 179. (mg44/46/mg13)
Sumatera Ekspres, Selasa, 19 Juli 2011.








Komentar: