Sukses SEA Games Prioritas.
17 July 2011 Leave a comment
PALEMBANG, SRIPO — Pemberitaan dugaan suap kasus Wisma Atlet SEA Games yang merambat ke sejumlah pejabat Sumsel, termasuk di antaranya dituduhkan ke Gubernur Sumsel H Alex Noerdin membikin heboh masyarakat Sumsel dan publik nasional yang saat ini sedang menyoroti Sumsel.
Pemberitaan itu mengakibatkan persiapan SEA Games itu sendiri tenggelam. Padahal untuk menjadikan Sumsel sebagai tuan rumah SEA Games ke-26 perjuangannya sangat sulit dan panjang. “Seharusnya kalau kita memang warga Sumsel berikan dukungan penuh kepada Pemprov Sumsel. I’am calling all my friend (saya memanggil semua teman saya, red) untuk mendukung SEA Games. Kita sukseskan SEA Games dulu. Setelah itu terserah bagaimana,” kata Alex Noerdin dalam caffe morning di Venus Karaoke Jl Basuki Rahmat, Sabtu (16/7).
Berpakaian batik dipadu celana hitam, Alex mengaku akan menghadapi banyak agenda kemarin. Di antaranya mengantar anggota DPR RI Komisi X ke Wisma Atlet Jakabaring. Hadir pada kesempatan itu seluruh unsur pimpinan media massa di Sumsel dan kepala biro/koresponden koran nasional di Sumsel. Dari Sriwijaya Post hadir Pemimpin Redaksi, Hadi Prayogo. Acara itu dimoderatori Redpel Sripo Hj L. Weny Ramdiastuti
Sebelumnya sebagai pengantar pertanyaan, moderator mengemukakan, belum pernah ada dalam sepanjang sejarah penyelenggaraan SEA Games tuan rumah mengalami hal seperti sekarang ini. Yakni, persiapan penyelenggaraan justru kalah gaungnya dari kasus korupsi. Dan hal itu sedikit banyak mengganggu konsentrasi seluruh unsur di daerah yang sedang bekerja. Padahal, media massa lokal khususnya sudah berupaya memberi ruang yang besar pada persiapan SEA Games. Baik dari sisi venues, kegiatan, dan atlet-atletnya.
Menjawab hal itu, Alex setuju. Ia sependapat berita tentang dugaan suap itu bukanlah seperti pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. “Karena belum tentu ini nila. Belum tentu terbukti. Yang jauh lebih penting sebenarnya adalah upaya kita dan perjuangan kita menjadi tuan rumah,” katanya.
Ia mengajak yang hadir untuk membayangkan bagaimana menyulap lahan 325 hektare menjadi kawasan sport city hanya dalam waktu singkat. Belum tentu semua provinsi bisa. Belum lagi, kesulitan tiang pancang sampai harus cari ke Surabaya. Tiang pancang itu dibawa pakai tronton. Tapi terhalang di Merak. Akhirnya tidak melalui Selat Sunda tapi dibawa lewat Boom Baru. “Bagaimana kita menimbun rawa. Ratusan ribu kubik tanah merah diambil dari berbagai tempat. Bagaimana kita menghadapi komentar politisi yang macam-macam,” ujaarnya
“Saya terpukul. Tapi, saya yakin semua ini ada hikmahnya. Saya jadi tahu siapa yang sahabat, siapa yang pura-pura. Tapi, lupakan semua itu,” tambahnya.
“Kalau saya memang salah saya tidak akan bisa lepas. Kalau saya terima gratifikasi pasti akan ketahuan kemudian. Karena apalah artinya saya yang hanya seorang Gubernur,” ujar Alex sambil menyebutkan pejabat di atas Gubernur banyak yang dijerat KPK.
“Kalau saudara menyimak dakwaan jaksa ada kesepakatan internal PT DGI yang saya tidak ketahui. Untung itu belum diterima. Kalau diterima lain ceritanya. Tapi, tolong jangan bunuh dulu karakter saya,” pintanya. Alex juga mengajak semua pihak untuk berpikir positif
“Belum tentu ini semua benar. Ini kesempatan pertama dan terakhir. Kalau SEA Games sukses kita bisa jadi tuan rumah Asian Games. Kita sudah punya modal dasar. Tinggal tambah delapan blok lagi (di Wisma Atlet, red) ujarnya.
Ini semua, kata Alex, bukan demi kepentingan pribadi. Karena apabila gagal, kata Alex, kemana muka republik ini akan dipertaruhkan. “Jangan kita rusak sendiri. Padahal orang lain ikut bangga. Ikut kagum. Ini tidak akan terulang lagi,” katanya.
Tentang stafnya di lingkungan Pemprov Sumsel yang disebut-sebut menerima suap, Alex memilih tidak mau berkomentar. Biarlah, katanya, berjalan di ranah hukum.
Triliunan Rupiah
Ditambahkan, gara-gara SEA Games ke Sumsel sudah masuk triliunan rupiah. Angka itu didapat antara lain dari investasi perluasan bandara internasional, ruang terbuka hijau, pembuatan lintasan rel kereta api dan lain-lain.
Soal tuduhan suap Alex mengaku tidak risau karena ia memang tidak menerima. Ia juga tidak risau dengan pengerjaan venues secara fisik. Alex justru merisaukan pelaksanaan SEA Games yang langsung dikomandoi pusat.
Maksud Alex, dalam hal ini, soal acara pembukaan. Ada 3.500 penari yang akan terlibat namunsampai sekarang belum ada koordinasi yang jelas. Untuk itu, diputuskan sejak tiga bulan terakhir penari lokal latihan sendiri secara terpisah-pisah karena dananya belum keluar. “Kita harus jauh lebih hebat dari Laos (penyelenggara SEA Games ke-25, tahun 2009, red),” tandasnya.
Menjawab usul apakah perlu ada statamen dari Menpora atau bahkan Presiden SBY tentang pelaksanaan SEA Games tetap akan berlangsung di Palembang, Sumsel, Alex mengaku tidak bisa meminta demikian. “Bila dinyatakan seperti itu oleh beliau-beliau syukur tapi saya tidak mungkin meminta. Yang pasti setuju atau tidak setuju, SEA Games akan tetap berlangsung di Palembang.”
Ia juga setuju dengan usulan ada city tour untuk berbagai lapisan masyarakat yang meninjau venues setiap hari. Dengan demikian, masyarakat Sumsel tahu dan mendukung SEA Games di daerahnya.
Progress Report
Pada kesempatan itu, Alex juga menjawab laporan maju per venues. Juga termasuk rencana kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada final bola volli antarklub se-Asia pada 30 Juli mendatang. Sebelumnya tanggal 28 Juli dijadwalkan akan meninjau Jakabaring.
Alex juga menjawab soal Siloam, soal rencana pembuatan jalan tol tahap I (Kayuagung – Jakabaring) sepanjang 32 Km. Pengerjaannya direncanakan 1,5 tahun. Investornya dari Malaysia. Peresmiannya juga akan dilakukan Presiden SBY bersamaan dengan pembukaan SEA Games, November mendatang.
Jalan tol tahap kedua dari Jakabaring — Alang-Alang Lebar — Betung sejauh 100 Km. Jalan tol ini akan menjadi jalan tol terpanjang pertama di luar Jawa. Dengan demikian diharapkan bottle neck traffic akan teratasi. Selain juga sedang dirintis jalan darurat khusus untuk angkutan batubara. Dimulai dari Lahat ke atas. Khususnya lewat perkebunan.
Dengan percepatan-percepatan itu, Alex menargetkan dapat melipatgandakan APBD sampai 4,3 triliun rupiah. Sementara dulu semasa baru menjabat (2008), APBD Sumsel Rp 2,1 triliun. “Insya Allah kita bisa menyusul Riau dan Kaltim. Artinya kalau dana untuk pembangunan tercapai maka akan mudah membawa Sumsel melompat jauh ke depan,” harapnya.
Menjawab Siloam
Menjawab soal pembangunan RS Siloam, Alex mengaku tidak mengerti mengapa orang tidak setuju. “Mereka menang tender,” katanya.
Kalau dirinya disebut banyak menerima dari Siloam, ia mengaku. Namun yang dimaksud menerima itu hal-hal yang menguntungkan untuk Sumsel. “Kita dapat lapangan kerja, dapat rumah sakit internasional, dan lain-lain,” katanya.
Diungkapkan ada lima poin dalam kontrak yang harus dipenuhi pemenang tender. Harus bangun sekolah internasional, membangun undermall, membangun kolam renang, merenovasi indoor basket, dan 30 tahun kemudian semua itu kembali jadi milik Pemprov Sumsel. “Setelah itu per tahun kondribusinya masuk untuk daerah,” kata Alex.
Ia juga sudah mensyaratkan pihak Siloam tidak boleh memakai salib, membolehkan karyawan pakai jilbab, tidak ada misi agama, dan boleh pakai tenaga lokal. “Kalau setelah semua syarat itu dipenuhi tapi masih ditolak juga saya harus mempertanyakan ada apa,” katanya. (wen/hdp)
Sriwijaya Post, Minggu, 17 Juli 2011.








Komentar: