“Ceramah” di Majelis Taklim.


PALEMBANG H Herman Deru mencoba menjadi “penceramah” dalam kunjungannya ke Masjid Besar Almahmudiyah di Jl Koronggo Wirosantiko, kemarin (10/7) sore. Kunjungan ke tempat ibadah yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Suro tersebut dalam kapasitas sebagai ketua Nasional Demokrat Sumsel.

Tujuannya, memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan silaturahmi dengan majelis Taklim KH Abdurrahman delamat. Menggunakan pakaian koko dan peci plus sorban melingkar di bahu, Deru tamapk seperti kiai yang akan memberikan ceramah.

Dalam taushiyahnya ia mengungkapkan, tugas manusia dalam kehidupan sehari-hari adalah menjalin hubungan baik . Hal ini disebut dengan ukhuwah. “Di dalam ukhuwah ini, ada dua macam. Yakni, ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniah,” ujarnya.

Untuk ukhuwah Islamiah, silaturahmi yang dilakukan antarsesama ummat muslim. Sedangkan ukhuwah insaniah untuk seluruh ummat manusia. Ia juga menyebut tentang ibadah shalat lima waktu yang sifatnya wajib. Dalam membaca surat saat shalat, sejak zaman dahulu hingga saat ini tidak ada perubahan bahasa yang dilakukan. “Di Islam, bacaan shalat tak ada yang diterjemahkan dalam bahasa Komering, Jawa, Palembang dan bahasa lainnya. Kita tetap menggunakan bahasa yang diajarkan sesuai ketentuan-Nya,” kata Deru yang juga sebagai Bupati OKU Timur ini.

Ia juga mengungkapkan, betapa simpelnya agama Islam dalam melakukan ibadah. Gerakan dalam shalat juga tidak menjadi masalah, karena tiap orang berbeda-beda melakukan. “Sebut saja takbiratul ihram yang berbeda-beda. Namun, saat saya tanyakan dengan Kiai saya, hal itu tak masalah. Yang penting adalah tidak mengurangi jumlah rekaat, bacaan dan tidak salah,” bebernya.

Selain itu, pakaian kaum wanita dalam shalat juga telah ditentukan. Semuanya serba tertutup dan dilakukan oleh semua ummat muslim di dunia. “Hanya penyebutan saja yang berbeda,” ungkapnya.

Ia juga mencoba berinteraksi dengan beberapa candaan. Misalnya statusnya saat kegiatan tersebut sebagai penceramah meskipun hanya sebatas pengetahuan umum. “Kalau penceramah dibayar, kalau saya malah memberikan uang,” katanya disambut tawa sekitar sekitar 200 orang yang hadir. Hal tersebut karena ia memberikan sumbangan uang kepada masjid tersebut.

Ketua Majelis Taklim KH Abdurrahman Delamat, Hj Nyimas Zuhroh mengungkapkan, masjid tersebut didirikan pada 1310 Hijriyah atau sudah berusia sekitar 120 tahun. Dalam sejarahnya, pernah selama 30 tahun tak diperbolehkan kegiatan shalat Jumat oleh Belanda. “Di lokasi berdirinya masjid ini, juga bisa di sebut sebagai kampung para kiai. Salah satu adalah KH Abdurahman Delamat, Kiai Solihin dan sebagainya. Kita menyambut baik kunjungan Pak Herman Deru ke masjid ini,” imbuhnya. (mg44)

Sumatera Ekpres, Senin, 11 Juli 2011.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s