KH Zainuddin MZ, Dai Sejuta Ummat Kini Telah Tiada.
8 July 2011 Leave a comment

Oleh: H Hendra Zainuddin MPdI
Pimpinan Pesantren Aulia Cendekia Palembang
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan Bapak Dai Sejuta Ummat, semoga diterima di sisi-Nya. Amin. Selamat jalan Ayah, terima kasih atas segala yang telah engkau berikan kepada kami. Kuingin melihat engkau tersenyum di pangkuan Allah SWT. Amin. Telah berpulang guru bangsa kita, Bapak KH Zainuddin MZ. Semoga mauidzah hasanahh dan semangat perjuangan beliau tetap terwariskan kepada generasi penerus bangsa dan amal hasanahnya diterima Allah SWT. Amin.
DEMIKIANLAH bait-bait pernyataan belasungkawa dari para penggemar setia KH Zainuddin MZ di halaman akun Facebook sang dai. Ketiga ungkapan duka cita dan kehilangan di atas adalah secuil di antara 32.404 orang penggemar KH Zainuddin MZ di akun situs jejaring sosial tersebut.
Dai kondang, KH Zainuddin Muhammad Zein atau lebih dikenal dengan nama KH Zainuddin MZ meninggal dunia, Selasa, 5 Juli 2011, pukul 10.15 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta dalam usia 60 tahun. Sebelum meninggal dunia, KH Zainuddin MZ sempat tak sadarkan diri sebelum dibawa ke rumah sakit. Diduga , penyebab ia meninggal dunia akibat penyakit jantung. KH Zainuddin MZ yang lahir di Jakarta, 2 Maret 1951 menyelesaikan semua sekolahnya di Jakarta dan menyelesaikan strata satu di Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kemudian ia mendapatkan doktor honoris causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia.
KH Zainuddin MZ yang dijuluki dai sejuta ummat memang dai seorang dai yang multitalenta. Betapa tidak, ia bukan hanya piawai berceramah, tetapi bersama ia pernah mencoba peruntungan lain di jalur politik. Ia masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebab adanya friksi, KH Zainuddin MZ ikut menggalang kekuatan PPP Reformasi, yang belakangan menjelma menjadi Partai Bintang Reformasi. Ia bahkan sempat menjadi ketua umum partai itu. Namun karena terjadi friksi ketika ada pergantian ketua umum. KH Zainuddin MZ pamit dari politik dan kembali kehabitatnya sebagai dai.
Kini dai sejuta ummat telah tiada. Kita tidak bisa lagi mendengarkan ceramah agama secara live di stasiun televisi atau di panggung. Kita hanya bisa mendengarkan ceramah beliau melalui kaset-kaset atau video CD.
Bercermin Pada Sosok KH Zainuddin MZ
Fungsi sebagai Ulama
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah bersabda;
“Ulama adalah pewaris para Nabi.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda RA)
Ulama merupakan tokoh sentral dalam penyebaran dan dakwa Islam, sehingga Nabi Muhammad SAW mengatakan ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama Islam. Kematian salah seorang ulama mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi kaum muslimin. Bahkan lebih jauh, di dalam shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr:
“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah diwafatkannya para ulama.”
Dengan meninggalnya seorang ulama atau dai yang alim merupakan pertanda atau isyarat akan segera datangnya hari kiamat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah SWT. Karena ulama atau dai adalah orang-orang yang menjadi penyambung ummat dengan Rabb-nya, agama dan Rasulullah SAW. Mereka adalah sederetan orang yang akan menuntun ummat kepada cinta dan ridha Allah.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di RA mengatakan;
“Keutamaan ilmu dan ulama karena Allah SWT menyebut mereka secara khusus dari manusia lain. Allah SWT menggandengkan persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya dan malaikat-malaikat-Nya. Dan Allah SWT menjadikan persaksian mereka (ulama) sebagai bukti besar tentang ketauhidan Allah SWT, agama, dan balasan-Nya. Dan wajib atas setiap makhluk menerima persaksian yang penuh keadilan dan kejujuran ini. Dan para ulama adalah imam-imam yang harus diikuti. Semua ini menunjukkan keutamaan, kemuliaan dan ketinggian derajat mereka, sebuah derajat yang tidak bisa diukur.” (Tafsir As-Sa’di, hal: 103)
Ulama dan dai sebagai pemegang otoritas dalam hal pengetahuan agama Islam bertugas selaku tabligh (menyampaikan) ketika para Nabi dan Rasul telah wafat. Dalam hal ini, menurut M Quraish Shihab, sebagai pewaris para Nabi, tugas pokok ulama dan dai sebagai tabligh adalah pertama, menyampaikan ajaran kitab suci Al-Qur’an (tabligh) kepada ummat manusia. Sebagaimana Rasulullah SAW diperintahkan;
“Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu, dan jika engkau tidak (melakukannya), maka bermakna tiadalah engkau menyampaikan perutusan-Nya: Allah jualah yang akan memeliharamu dari (kejahatan) manusia.” (QS. Al-Maidah: 67)
Kedua, menjelaskan kandungan kitab suci Al-Qur’an;
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu jelaskan kepada manusia.” (QS. An-Nahl: 44)
Ia juga menuntut ulama untuk terus menerus mengajarkan kitab Allah dan sekligus membaca dan mempelajarinya (QS. Al-Fatir: 35). atau dalam istilah Al-Qur’an menjadi Rabbaniyin yang hanya menyembah Allah Ta’ala dengan ilmu dan amal yang sempurna (QS. Ali Imran: 79). Maknanya ulama atau ilmuwan dituntut untuk memberi nilai rabbani pada ilmu mereka.
Ketiga, memutuskan perkara atau problem yang dihadapi masyarakat. Ulama tentunya selalu peka terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dalam masyarakat. Apabila terjadi masalah keagamaan yang aktual dalam masyarakat, dan amat memerlukan kepastian jawaban tentang status hukumnya menurut agama Islam, para ulama harus segera memberikan jawaban, baik dengan cara memberikan fatwa kepada masyarakat atau dengan cara ikut berperan memberi suatu keputusan sebagai hakim agama lewat peradilan agama, manakala hal tersebut menyangkut tuntutan persengketaan kedua belah pihak yang harus diputuskan melalui institusi dan lembaga peradilan agama yang resmi. Hal tersebut memang menjadi tugas ulama, karena sebagaimana memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 213 yang artinya:
“Manusia itu (dahulunya) satu ummat. Lalu Allah mengutus para Nabi untuk menyampakan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberikan kepuutusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”
Dalam sejarah, Nabi Muhammad SAW menampilkan dirinya untuk menyelesaikan persengketaan-persengketaan, dan memberikan fatwa-fatwa, di samping menyampaikan kepada manusia apa yang diwahyukan Allah kepadanya tentang hukum-hukum, dan mengatur pelaksanaanhukum-hukum tersebut.
Keempat, memberikan contoh pengalaman sebagai suri teladan yang baik. ulama dimata masyarakat dipandang sebagai sosok figur yang kharismatik dan tokoh spiritual, tentunya harus mencerminkan yang baik dan terpuji, baik ucapan, sikap, dan perilakunya, sehingga mampu menjadi suri teladan yang baik atau dalam ungkapan bahasa Arab menjadi uswah hasanah bagi masyarakat, sebagaimana halnya Nabi Muhammad yang harus menjadi rujukan dan panutan mereka. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya;
“Sungguh telah pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan rahmat (rahnat) Allah, dan (kedatangan) hari kiamat, serta banyak mengingat Allah.”
Al-Qur’an mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai Nabi adalah keluhuran budi pekertinya.
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4).
Beliau adalah manusia yang lain dalam nurani, fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagunganya, karena beliau mendapat bimbingang Tuhan dan keddudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak demikian. Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia, termasuk para ulama sebagai pewaris para Nabi, karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat dimiliki oleh manusia. Ulama yang dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik dalam masyarakat berati telah dapat menerapkan metode dakwah bi al-hal yang paling baik.
Semua fungsi yang diemban oleh seorang ulama dan dai telah dilakoni oleh KH Zainuddin MZ. Ia bukan seorang hanya sosok seorang yang mumpuni dalam bidang ke-Islaman, tetapi juga seorang dai yang mampu menyampaikan pesan-pesan ke-Islaman dengan baik serta mampu menyentuh semua lapisan masyarakat. KH Zainuddin MZ telah mampu menyampaikan tabligh yang terkandung dalam Al-Qur’an dan sekaligus menjadi panutan bagi para dai-dai muda lainnya. Di samping itu, KH Zainuddin MZ telah melaksanakan dakwah bi al-hal yang dibuktikan dengan membangun Masjid Fajrul Islam yang nantinya akan dilengkapi dengan pondok pesantren.
Totalitas Dakwah
Kepergian KH Zainuddin MZ sontak mengejutkan banyak pihak termasuk para sahabatnya. KH Zainuddin MZ dinilai sebagai pribadi yang mudah bergaul dan cerdas dalam berdakwah. “Sampai saat ini, belum ada dai yang retorika ceramahnya seperti almarhum. Dia cerdas karena karena bisa menyampaikan bahasa yang merakyat,” ujar sahabat KH Zainuddin MZ, KH Noer Muhammad Iskandar SQ (okezone, 5/7/2011)
Selain itu, kata Noer Iskandar, sosok KH Zainuddin MZ juga tidak pernah menutup diri untuk bergaul dengan para ulama yang usianya jauh lebih muda. Bahkan, KH Zainuddin MZ kerap memberikan masukan kepada dai-dai muda. Sejumlah kalangan, baik politisi maupun profesional menyebut KH Zainuddin MZ sebagai sosok penyejuk bangsa yang tak pernah lelah memberi kontribusi bagi penguat kerukunan antar ummat.
Sementara Angelina Sondakh, menilai almarhum KH Zainuddin MZ adalah seorang pendidik masyarakat yang berwibawa dan nasionalis. Bahkan tokoh-tokoh non-muslim pun mengatakan bahwa KH Zainuddin MZ salah satu sosok ulama penting yang piawai dalam membangun spirit kejuangan bangsa. “Dia tak hanya milik Muslim, tetapi seluruh rakyat. Karena, almarhum mampu memberikan mutiara-mutiara kata orisinil khas Indonesia. Kata-katanya langsung bisa dicerna dan diterpkan dalam kehhidupan sehari-hari di tengah masyarakat kita yang majemuk,” kata Edward Waleleng.
Tentunya semua penilaian dan pujian yang dilontarkan oleh para sahabat-sahabat KH Zainuddin MZ bukanlah isapan jempol. Selama menjadi dai, sosok KH Zainuddin MZ dikenal pribadi yang sangat dekat jemaahnya. Dan lebih jauh, semua tugas seorang ulama dan dai yang telah dijelaskan di atas ada alam diri KH ZAinuddin MZ. Ia seorang tabligh yang menyampaikan isi kandungan Al-Qur’an yang mudah dimengerti oleh masyarakat dan memiliki suri tauladan yang baik (uswahtun hasanah).
Ulama Peduli Kesehatan
Berprofesi menjadi seorang ulama atau dai memang tidak mudah. Di samping harus berkorban, baik waktu, tenaga dan pikiran, juga terkadang harus merelakan kebahagiaan berkumpul bersama keluargadan kesehatan. Seperti yang dialami KH Zainuddin MZ. Layaknya seorang dai, KH Zainuddin MZ sangat sibuk mengisi ceramah dan berbagai pengajian. Saking sibuknya untuk melayani ummat, terkadang ia melupakan aspek kesehatan. Seperti diberitakan dimedia massa bahwa meninggalnya KH Zainuddin MZ akibat menderita penyakit jantung. Ia diketahui sudah lama mengidap tekanan darah tinggi dan kolesterolnya pun bermasalah. “Sudah sejak lama ia mengidap penyakit kolesterol dan tekanan darah tinggi. Beliau kan ulama, sering berkeliling jadinya kecapekan. Begitu juga dalam hal makanan kurang mengontrol seperti makan kambing. Pada Sabtu malam kemarin, Pak KH Zainuddin MZ berkeliling samapi 3-4 tempat di Jakarta. Jadi mungkin kecapekan,” kata sahabat KH Zainuddin MZ, Muzani kepada detik.com, Selasa (5/7/2011).
Apa yang dialami KH Zainuddin MZ tidak mustahil juga dialami oleh ulama dan dai-dai lainnya. Karena itu, menurut hemat penulis, seorang ulama atau dai seyogyanya secara rutin dan berkala melakukan olahraga dan memeriksakan kesehatan ke dokter ahli (general check up). Berolah raga secara teratur dapat memacu jantung jantung, pernafasan dan peredaran darah menjadi lebih baik. Biasakanlah berolah raga setiap hari dengan kegiatan yanng ringan seperti berjalan kaki, joging, bersepeda, dan sebagainya. Selain olah raga ada lagi yang tidak kalah pentingnya adalah memeriksakan kesehatan berkala secara teratur ke dokter. Guna pemeriksaan kesehatan terprogram adalah agar penyakit atau kelainan yang timbul dapat terditeksi dengan lebih cepat sehingga pengobatan pun tidak akan memakan banyak biaya, waktu dan tenaga.
Di samping berolah raga dan memeriksakan diri ke dokter, seorang ulama atau dai perlu makan makanan yang sehat (higienis) dan bergizi serta sesuai aturan sebab makanan yang enak belum tentu sehat. Sesuai dengan sabda Nabi SAW; “Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang.”
Dengan menerapkan pola hidup sehat, akan mengurangi risiko jantung, stroke dan penyakit diabetes, meningkatkan stabilitas sendi, mengurangi stres, dan sebagainya. DDi sinilah, kami mengajak para ulama dan dai yang mobilitasnya sangat tinggi dalam membimbing dan melayani ummat hendaklah memperhatikan aspek kesehatan. Ulama dan dai sebagai aset ummat laksana lentera yang mampu menerangi kehidupan. Dan kita selaku ummat Islam berdo’a, Insya Allah KH Zainuddin MZ mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Amin. (*)
Opini
Sumatera Ekspres, Jumat, 8 Juli 2011.








Komentar: