Menyiapkan Tempat di Akhirat.
22 June 2011 Leave a comment
Oleh: Ust Ir H Salihul Fajri
Ketua Yayasan Ma’had Izzuddin
Allah SWT berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Al-Hasyr: 18 )
MANUSIA yang telah mengikat janji kepada Allah bahwa saya bersaksi dan bersumpah tidak ada yang pantas disembah dan ditaati kecuali Allah, mereka inilah yang diseru oleh Allah agar bertakwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk akhiratnya.
Dahsyatnya Hari Kiamat
Hari kiamat merupakan hari paling sulit, firman Allah;
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras.” (Al-Hajj: 1-2)
Allah Yang Maha Penyayang mengingatkan bahwa azab itu begitu dekat, maka kepada hamba-Nya yang telah mengikat janji kepada-Nya diingatkannya, firman-Nya;
“orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka. Maka nikmat Tuhan kamu yang yang manakah yang kamu dustakan? Inilah neraka jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa. Mereka berkeliling di antaranya dan di antara air mendidih yang memuncak panasnya.” (Ar-Rahman: 41-44)
Mengapa saat Allah menggambarkan neraka jahannam memakai kalimat Ha dzi hi (kata tunjuk dekat) inilah, bahwa saat kemaksyiatan pengkhianatan janji kepada Allah dilakukan maka azab itu bukan saja diakhirat di dunia pun mereka akan merasakan azab yang keras dari Allah.
Kembali ke Pangkuan Allah
Maka orang beriman yang normal tentunya serta merta mendengarkan seruan Allah, mendekat dan semakin mendekat kepada Allah SWT. Senantiasa hatinya banyak bersyukur dan sadar sesadarnya bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali lewat pertolongan dan kasih sayang-Nya. Kedekatannya yang menumbuhkan kerinduan untuk senantiasa menikmati shalat, zakat, puasa serta ibadah pokok dan merasa damai saat mampu mencintai siapa yang dicintai Allah selanjutnya mampu membenci siapa yang dibenci Allah dan membenci apa-apa yang dibenci Allah.
Hai orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahan dan memasukanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan;
“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( At-Tahrim: 8 )
Orang yang kembali kepada Allah bertaubat maka ibarat seseorang yang badannya penuh lumpur dan kotoran trasa gerah dan menyakitkan. Maka mandilah ia dengan mata air segar sejuk yaitu taubat, apa yang terjadi kotoran akan rontok berguguran, pori-pori terbuka menampung oksigen merasakan tiupan angin yang sejuk. Itulah taubat begitu nikmat dan banyak keutamaan bagi mereka.
Lupa Kepada Allah SWT
Namun ironinya manusia kebanyakan saat diberi cobaan oleh Allah baik itu kesenangan dan penderitaan kebanyakan mereka melupakan Allah, bahkan meninggalkan Allah SWT. Dalam firman-Nya;
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)
Perhatikan ayat ini, kebanyakan manusia itu lalai mempersiapkan dirinya menghadapi hari akhiratnya. Bahkan mereka kemudian lupa kepada Allah, asyik dengan yang dicintai di dunia ini sebagaimana firman Allah;
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran; 14)
Pasangan pemuda dan pemudi belum menikah, yang asyik masyuk, tergila-gila satu dengan yang lain terlilit kerinduan karena cinta yang membara, mereka lupa kepada orangtua bahkan lupa kepada pesan-pesan Allah.
para pedagang, pengusaha yang sangat mencintai berkembangnya bisnis dan dagangannya, khawatir jika rugi dan gagal, maka waktu tenaga perhatiannya akan tumpah kepadanya, jangankan Allah SWT makan saja kadang terlupakan. Para petani dan peternak, sangat ingin tanaman dan ternaknya berkembang dan menguntungkan dirinya, kalau bisa berlipat ganda. Karena mendengar kiri kanan agar tanaman atau ternaknya aman dan berkembang biak maka mereka syirik kepada Allah, melakukan ritual kepada selain Allah. Selayak manusia yang telah berjanji kepada Allah untuk menyembah Allah selayaknya.
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiammat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah: 165)
Maka marilah kita mempersiapkan akhirat semaksimal mungkin, senantiasa beramal shaleh yang banyak, meninggalkan yang dibenci dan dilarang Allah. Senantiasa memperkuat hubungan dengan Allah lewat ibadah wajib dan menambah dengan yang sunnah sehinngga Allah mencintai kita.
Kita berharap termasuk hamba-Nya yang akan dipanggil dengan penuh kerinduan oleh Allah, di akhirat kelak.
“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al-fajr: 27-30) (*)
Sumatera Ekspres, Jumat, 17 Juni 2011.









Komentar: