Penjual Roti Tewas Terpanggang.
10 June 2011 Leave a comment
Bedeng Enam Pintu dan Satu Rumah Terbakar
PALEMBANG — Bedeng enam pintu dan satu rumah semi-permanendi Jl DI Panjahitan, Lr Sederhana, RT 02/01, Kelurahan Plaju Ulu, Kecamatan Plaju, Palembang ludes terbakar. Peristiwa yang berlangsung Kamis (9/6), sekitar pukul 02.15 WIB, mengakibatkan lima keluarga atau 19 jiwa yang menghuni bedeng tersebut menjadi korban. Satu diantara penghuninya ditemukan tewas. Kelima korban itu masing-masing Surip (70), Eko Maryadi (43), Chandra Zulkirana (38), Sudarto (50), dan Amsiah (70).

Photo by: Sumeks
Korban Surip ditemukan tewas terpanggang di bedengnya oleh petugas pemadam kebakaran dan warga saat memadamkan bara api di tempat kejadian kejadian perkara (TKP). Jasadnya kemudian dievakuasi ke kamar jenazah Rumah Sakit Dr Mohammad Husein (RSMH) Palembang. “setelah didata, ada tujuh kepala keluarga (KK) yang bertempat tinggal di bedeng tersebut. Dalam sau bedeng ada yang dihuni oleh dua KK dan semuanya berjumlah 19 jiwa. Selain itu, tak ada barang-barang penghuni bedeng yang dapat diselamatkan sehingga kerugian mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Sanusi (46) ketua RT setempat.
Korban yang selamat, kata Sanusi, saat ini mengungsi di rumah kerabat mereka. Sedangkan korban yang meninggal dimakamkan setelah diakukan visum dokter di rumah sakit. “Kita juga membuka posko bantuan di lokasi guna meringankan beban para korban atas kejadian ini,” kata Sanusi.
Informasi yang dihimpun Sumatera Ekspres, kejadian itu awalnya diketahui oleh Eko Maryadi sekitar pukul 02.15 WIB. Ketika ia mendengar ada suara gemuruh dan teriakan. Eko lalu keluar dari bedengnya dan melihat api yang sudah membesar dari bedeng yang ditempati Surip. Api yang berasal dari rumah Surip itu diduga berasal dari kayu bakar. Pria yang tinggal sendirian itu sempat memasak air menjelang tidur itu. Diduga ketiduran di kursi, korban tidak menyadari api dari kayu bakar itu semakin membesar. Api kemudian menjalar dengan cepat dan membakar lima bedeng dan satu rumah semi permanen. “Dia (korban Surip, red) sedang sakit dan tapi sering lupa dan tertidur kalau masak air. Seperti malam itu, dia sedang masak air dan tertidur sehingga tidak menyadari api telah membakar dapur dan meludeskan bedeng lainnya,” kata Sudarto yang terbilang masih keluarga Surip.
Api baru dapat dipadamkan sekitar pukul 04.00 WIB setelah tujuh unit mobil pemadam kebakaran dari Dinas Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) Kota Palembang dan dibantu dua unit mobil pemadam dari Pertamina. Meski api berhasil dipadapkan, warga masih tampak panik lantaran belum mengetahui keberadaan Surip. Petugas dan dibantu warga sekitar berhasil menemukan jasad Surip yang hangus terbakar di dalam bedengnya. “Waktu api membakar dapur bedengnya Mbah Surip, sayasempat mendobrak pintunya. Saya hanya berhasil menyelamatkan Sawali, tetapi Mbah Surip tidak bisa saya selamatkan api sudah membesar. Saat api sudah padam Mbah Surip ditemukan telah hangus terbakar dengan posisi duduk di kursi besi,” sambung Sudarto lagi.
Terpisah, Kapolresta Palembang, Kombes Pol Drs Agus Sulistiyomo MSi, melalui Kapolsekta Plaju AKP Oscar Heuza SH mengatakan, pascakejadian itu polisi telah melakukan olah TKP guna menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Untuk kepentingan penyelidikan, enam bedeng dan satu rumah tersebut dipasang garis polisi (police line). “Hasil olah TKP sementara, api berasal dari bedeng yamg ditempati korban Surip. Diduga penyebabnya, karena korban tertidur saat memasak dengan menggunakan kayu bakar. Untuk penyelidikan, tim Labfor telah mengambil beberapa sampel arang untuk diteliti lebih lanjut,” kata Oscar.
Di bagian lain, usai dievakuasi dari rumahnya di Jl DI Panjahitan, Lr Sederhana, RT 02/01, Kelurahan Plaju Ulu, Plaju, Pakde–sapaan akrab Surip (70)–dibawa ke Kamar Jenazah Rumah Sakit Dr Mohammad Hoesin (RSMH) untuk diidentifikasi. Jasad korban yang tewas terjebak dalam kebakaran itu hangus dan sulit dikenali. Namun pihak keluarga maupun warga sekitar meyakini kalau jasad tersebut merupakan Pakde Surip. Ditemui di kamar jenazah, jenazah Pakde diurus oleh Sanusi (46) Ketua RT, Yono (41) warga setempat, dan Brama (24) keponakan korban. Usai diidentifikasi, oleh petugas forensik jenazah korban kemudian dibawa pihak keluarga ke tempat tinggalnya untuk dimakamkan. Tampak raut sedih dan lelah terpancar dari ketiganya, namun kepeduliannya terhadap Pakde menyentuh mereka untuk mengurusi jenazah Pakde Surip.
Diceritakan Sanusi (46) ketua RT 02/01, Kelurahan Plaju Ulu, Kecamatan Plaju tempat korban tinggal mengaku terkejut lantaran ada warganya yang terjebak dalam peristiwa kebakaran yang menghanguskan satu rumah panggung yang dihuni tujuh kepala keluarga itu. Ia bersama warga sendiri sangat terpukul saat melihat kalau Pakde ternyata terjebak di balik puing-puing kebakaran dalam kamar rumahnya yang berada dilantai bawah. “Api padam sekitar pukul lima subuh. Waktu kami bersihkan barang, kami terkejut waktu kami buka seng yang ada di kamar Pakde. Tahunya Pakde masih duduk terlentang di kursinya dan sudah tewas terpanggang,” beber Sanusi.
Ditambahkannya, kalau warga dan kerabatnya yang lain mengira Pakde berhasil selamat dari kebakaran tersebut. Selain itu, kamar Pakde terletak agak ke belakang dan tidur sendiri saat kejadian. Informasinya Pakde juga tengah sakit dan beberapa hari ini hanya tinggal di kamarnya. Keseharian Pakde berdagang roti di depan lorong rumahnya dengan menggunakan gerobak. Biasanya Pakde lebih banyak tidur di gerobak rotinya tersebut. Namun sejak sakit, Pakde tak sanggup berjualan dan lebih banyak beristirahat di rumahnya.
Ditambahkan Brama Saputra (24) keponakan korban mengakutak menyangka kalau pamannya masih terjebak dalam kebakaran tersebut. Ia mengaku tak memiliki firasat kalau korban bakal meninggal. “Aku ketemu Pakde Rabu (8/6) siang waktu duduk santai di rumah. Pakde memang lagi sakit, tapi tak ada tanda-tanda atau firasat kalau Pakde bakal meninggal,” jelas Brama.
Begitupun Yono (41) warga setempat juga tampak sedih saat mengetahui Pakkde meninggal dalam peristiwa itu. Menurutnya, Pakde kesehariannya Pakde baik dan ramah. Di lingkungan tempat tinggalnya, Pakde dikenal sebagai penjual roti. “Pakde itu penjual roti, sudah puluhan tahun dio jualan roti. Dio jugo sesepuh di sini, karena sudah lama tinggal disini,” pungkasnya.
Di Empat Lawang, Tiga Rumah Guru Terbakar.
Di Kabupaten Empat Lawang, si jago merah menghanguskan tiga rumah dinas guru SDN 10 Desa Muara Aman, Kecamatan Pasemah Air Keruh. Musibah ini terjadi, Rabu (8/6) sekitar pukul 21.30 WIB. Camat Pasemah Air Keruh, M Suryadi, mengatakan, tiga rumah dinas guru tersebut ditempati 12 jiwa. Yakni rumah kepala sekolah Ruslan ditempati 4 jiwa, kemudian dua rumah guru lainnya, yakni Lesi Susanti dan Marpuah. “Tapi tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut,” ujar Suryadi.
Sumber api, jelas Suryadi, diduga berasal dari salah satu rumah guru. Seperti biasanya, mereka menjalankan aktivitas memasak dengan menggunakan kayu bakar. diduga lupa memadamkan kayu kayu bakar tersebut, sehingga api menjalar ke rumah yang semipermanen. “Kejadian ini sudah kita sampaikan kepada pemerintah melalui Dinas Sosial agar bisa diberi bantuan uang,” ungkap Suryadi.
sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Empat Lawang, H Syahril SIp MM, mengatakan, peristiwa kebakaran tersebut belum diketahui penyebabnya.
Bengkel Meubel dan Dapur Ludes.
Sebuah bengkel usaha kayu dan meubel milik Sainuri (35), serta dua dapur rumah warga di Jl A Yani, Kelurahan Pagar Agung, Kabupaten Lahat, ludes terbakar sekitar pukul 11.00 WIB, kemarin (9/6). Penyebab kebakaran tersebut belum diketahui.
Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan , kebakaran diketahui setelah ada warga yang kebetulan melintas di jalan tersebut dan berteriak ada kepulan asap hitam membubung tinggi. “Aku idak tau nian pak kalo ado kebakaran di belakang rumah aku ini, kalo bukan ado uwong yang teriak dari jalan. Pas kujingok bener nian pak, api sudah naek besak nian di bagian belakang rumah aku,” ungkap Nuraini (41), salah seorang korban yang dapur rumahnya ikut ludes terbakar.
Sementara Teguh (28), salah satu warga sekitar mengaku terkejut melihat kepulan asap hitam yang awalnya berasal dari bagian belakang rumah Nuraini, yaitu bengkel meubel. Saat itu ia sedang berada di bagian atas, hendak memperbaiki kusen rumah. Namun ia melihat asap membubung tinggi. (35/mg25/mg37/mg19)
Sumatera Ekspres, Jumat, 10 Juni 2011.








Komentar: