Contoh Toleransi Rasulullah SAW.


Oleh: Drs. H. Umar Sa’id

Nabi besar Muhammad SAW baik sebagai manusia maupun selaku pemimpin ummat dan negara senantiasa menunjukkan sikap bersahabat terhadap pemeluk-pemeluk agama lain, yang mencerminkan sifat toleransi itu. Berbedaan agama tidaklah menjadi halangan bagi beliau untuk mengunjungi upacara-upacara perkawinan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Beliau kerapkali menjenguk orang-orang yang kematian (ta’ziah) yang berlainan agama. Beliau melihat mereka di waktu sakit, selalu berkunjung dan bertemu kepada keluarga-keluarga orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Tatkala suatu delegasi orang-orang nasrani dari Najran datang mengunjungi beliau, maka beliau membuka jubahnya dan membentangkannya di atas lantai untuk tempat duduk tamunya itu, sehingga utusan-utusan tersebut kagum terhadap penerimaan beliau yang begitu hormat. Seperti diketahui, utusan-utusan itu akhirnya memeluk agama Islam, bahkan menarik pula kaum mereka masuk agama Islam.

Jika pada suatu ketika beliau mengalami kesempitan dan memerlukan uang, maka seringkali beliau meminjam kepada orang-orang yang beragama Nasrani atau Yahudi, walaupun sahabat-sahabat beliau yang akrab senantiasa siap sedia meringankan kesulitan itu. Sengaja beliau meminjam kepada orang-oarang yang berlainan agama untuk memberikan contoh yang bersifat pendidikan (edukatif) pelaksanaan sikap dan sifat toleransi itu.

Rasulullah senantiasa menunjukkan jiwa besar menghadapi pemeluk-pemeluk agama lain yang nyata-nyata melakukan sikap permusuhan terhadap beliau dan ummatnya, tanpa terguris sedikitpun juga dalam hati beliau untuk membalas dendam.

Contoh toleransi Rasulullah yang paling mengesankan kepada pihak musuh ialah sikap lapang dada yang beliau tunjukkan ketika Futuhatul Makkiyah, yaitu pada waktu kaum Muslimin merebut Kota Makkah kembali pada ke-10. Rasulullah pada waktu itu berada dalam posisi berkuasa penuh.

Pada mulanya kaum Quraisy menyangka, bahwa pasukan Islam tentulah akan melakukan tindakan-tindakan pembalasan (represaile) atas kekejaman dan penganiayaan yang pernah mereka lakukan terhadap kaum Muslimin. Akan tetapi, persangkaan itu, hilang sirna, setelah mendengarkan pidato Rasulullah yang diucapkan oleh beliau di pintu Ka’bah tatkala baru saja sampai di Kota Mekkah. Pidato itu berbunyi sebagai berikut:

“Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya Allah telah melenyapkan dari kamu zaman kemegahan jahiliyah, yang selama ini senantiasa kamu agung-agungkan sebagai lambang kebesaran nenek moyangmu. Ketahuilah, bahwa seluruh makhluk ini berasal dari rumpun yang satu, yaitu turunan Nabi Adam. Nabi Adam asal mulanya dijadikan dari tanah.

Dengarlah kalam Allah yang mengatakan:

“Wahai manusia! Kami ciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berkaum-kaum supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu pada sisi Tuhan ialah orang-orang yang paling taqwa. Allah itu Maha Tahu dan Mengerti.” (Al-Hujurat: 13)

Nabi berkata: “Wahai kaum Quraisy! Apakah kamu sangka yangakan saya lakukan terhadap kamu?”

Dengan suara bernada ketakutan yang dibalut semangat pengharapan untuk dikasihani, kaum Quraisy menjawab: “Tentulah Anda akan memperlakukan kami dengan cara baik, ya saudara kami yang budiman.”

Rasulullah menjawab dengan membacakan ayat Allah yang mengatakan:

“Yang akan hendak saya sampai kepada kamu ialah seperti yang diucapkan saudaraku (Nabi Yusuf) kepada kaumnya, “Pada hari ini tidak ada lagi penysalan, (celaan, tuntutan) terhadap kamu. Tuhan telah mengampuni kamu. Sesunguhnya Tuhan itu Maha Pemurah dari segala yang pemurah.” (Yusuf: 92)

Dengan lapang dada dan toleransi Rasulullah terhadap orang-orang Quraisy, yang sebelumnya bertindak ganas dan kejam terhadap kaum Muslimin, “Air tuba dibalas dengan air susu.”

Ampunan-ampunan dan amesti yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap bekas-bekas lawannya, adalah fakta-fakta sejarah yang menunjukkan kebesaran jiwa dan toleransi yang diajarkan Islam. Tidak ada dalam sejarah satu contoh toleransi yang demikian tinggi mutunya seperti yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Beliau pernah menyatakan: “Nilai watak dan pribadi seorang Pahlawan dapat diketahui dari kemampuannya menguasai diri dan memberikan maaf dan ampunan terhadap lawan-lawannya dikala ia sedang berkuasa penuh.”

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s