Jangan Lihat Ampera Sebagai Tempat Melintas Saja.



Wakil Ketua DPRD Sumsel, A Djauhari memberikan pemaparan tentang kondisi Jembatan Ampera di Palembang dan juga Jembatan Musi II. SRIWIJAYA POST/SYAHRUL HIDAYAT.

PALEMBANG Wakil Ketua DPRD Sumsel A Djauhari menyatakan, saat ini sudah ada rasa khawatir terhadap jembatan di Sumsel, khususnya Jembatan Ampera. Alasannya Jembatan Ampera aset milik bangsa dan punya nilai history dalam perjuangan Indonesia memerdekakan diri dari penjajahan.

“Jangan sekedar melihat jembatan sebagai tempat melintas antara kawasan ulu dan ilir. Tetapi Jembatan Ampera milik bangsa dan menjadi ikon Sumsel,” katanya dalam Sripo Forum di Hotel Arya Duta Palembang, Kamis (17/2/2011).

Namun saat ini pakar jembatan belum berkumpul untuk memperhatikan jembatan-jembatan di Sumsel, khususnya Jembatan Ampera. Pakar jembatan diharapkan bisa membuat desain jembatan baru yang kokoh dan memperkuat jembatan yang ada.

Menurutnya kekuatan Jembatan Ampera saat ini masih sebatas dugaan-dugaan. Belum ada yang bisa memastikan bahwa jembatan itu kokoh dan mantap tidak roboh. Bila Jembatan Ampera roboh, maka hilang sudah semua nilai yang ada di jembatan tersebut.

“Sebelum roboh, sekaranglah kita memberi perhatian kepada Jembatan Ampera. Belum ada atensi yang besar terhadap Ampera. Kalau tidak segera diatasi, anak cucu kita bisa menyeberang,” kata Djauhari.

Soegeng Haryadi
Sriwijaya Post — 17 Februari 2011.



Ahli Manajemen Tranportasi, Dr Erika Buchori saat menyampaikan materinya pada Sripo Forum bertema Beban Ampera Makin Berat, Kamis (17/2/2011) di Hotel Aryaduta Palembang. SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT.

PALEMBANG Ahli Manajemen Tranportasi, Dr Erika Buchori mengatakan kemacetan di Jembatan Ampera merupakan persoalan serius yang mendesak dicarikan penyelesaian.

“Paradigma yang ada terutama khususnya bangsa kita jembatan itu landmark. Padahal jembatan itu terusan fungsi network daripada jaringan jalan yang ada,” kata Erika yang menjadi satu dari enam pembicara pada diskusi Sripo Forum bertemakan Beban Ampera Makin Berat, Kamis (17/2/2011) di Hotel Aryaduta Palembang.

Erika yang juga aktif di Dewan Kota Palembang menuturkan data yang ada memuat rasio volume kendaraan di Ampera 1,7 pada pagi hari, 1,2 siang hari dan 1,26 sore hari. Angka ini jauh dari angka yang direkomendasikan yakni tak sampai 1,0.

Masih menurut Erika, secara fisik jembatan tersebut menurutnya mungkin masih tetap ada. Namun, keberadaannya tak terlalu berarti sekiranya tidak semuanya bisa lewat pada waktu yang diinginkan.
“Itu problem. Kalau mau lewat antre sampai 2-3 jam, itu masalah,” katanya.

Larangan truk melintas di Ampera pasca terbakar Oktober 2010 lalu menurut Erika memang menunjukkan hasil. Dari penelitian yang dilakukan menurutnya sebelum ada larangan 43 persen truk melintas di Ampera. Angka ini turun menjadi tiga persen dengan asumsi 40 persen truk beralih ke Jembatan Musi II. Tetapi yang jadi persoalan adalah masih ada angka tiga persen truk yang melintas di Ampera.
“Mengapa tidak nol. Ini berartti di kala lengah, tidak tidur masih ada juga yang mencuri-curi untuk melintas,” katanya.
Ini menurutnya menjadi warning dan untuk mengatasi masalah tersebut menurutnya perlu dipasang CCTV.
“Karena tidak mungkin kalau petugas harus terus berjaga di tempat tersebut terus menerus,” katanya.

Sriwijaya Post – Kamis, 17 Februari 2011 10:39 WIB



Pemimpin Redaksi Sripo, Hadi Prayogo saat menyampaikan kata sambutan pada acara diskusi Sripo Forum Beban Ampera Makin Berat di Hotel Aryaduta, Kamis (17/2/2011). SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT.

PALEMBANG Jembatan Ampera yang kondisinya mengkhawatirkan bagi sebagian besar orang awam ternyata kondisinya masih cukup aman sebagai akses transportasi. Hal ini disampaikan Prof Sohei Matsuno saat berlangsungnya diskusi Sripo Forum Beban Ampera Makin Berat di Hotel Aryaduta, Kamis (17/2/2011).
Matsuno yang hingga masih aktif sebagai pengajar di Universita IBA ini menuturkan kendati aman tetap harus ada studi terhadap Ampera.

Pemimpin Redaksi Sripo Hadi Prayogo saat sambutan selamat datang mengatakan Sripo Forum merupakan agenda rutin dan topik sesuai tema yang memang menonjol. Sengaja tema kali ini diangkat mengenai Jembatan Ampera mengingat 21 Februari mendatang adalah soft launching penggunaan Ampera.

Sriwijaya Post – Kamis, 17 Februari 2011 09:59 WIB


Fauzi Thamrin (kanan), tokoh masyarakat Sumsel ketika memaparkan Sejarah Ampera saat berlangsungnya Diskusi Sripo Forum “Beban Ampera Makin Berat” yang digelar di Hotel Aryaduta Palembang, Jl Angkatan 45, Kamis (17/2/2011). Duduk di sebelah kirinya Pemimpin Redaksi Sripo, Hadi Prayogo. SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT


Prof Sohei Matsuno, dosen Universitas IBA Palembang yang juga pakar jembatan saat memberikan pendapatnya tentang kondisi Jembatan Ampera. Matsuno menjadi satu dari enam pembicara pada Diskusi Sripo Forum “Beban Ampera Makin Berat” yang digelar di Hotel Aryaduta Palembang, Jl Angkatan 45, Kamis (17/2/2011). SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT

Sriwijaya Post – Kamis, 17 Februari 2011 10:51 WIB



Mifta, mahasiswa IAIN Raden Fatah Palembang mengajukan pertanyaan kepada narasumber pada Sripo Forum di Hotel Arya Duta Palembang, Kamis (17/2/2011), tentang kondisi Jembatan Ampera Palembang. SRIPO/SYAHRUL HIDAYAT

Sriwijaya Post – Kamis, 17 Februari 2011 11:11 WIB

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s