Wuih….. ada Danau Merah di Pagaralam.
4 December 2010 1 Comment
PAGARALAM – Warga Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, Sabtu (4/12/2010) menemukan danau yang permukaan airnya berwarna merah dengan luas enam hektar di perbatasan Provinsi Bengkulu atau sekitar Bukit Raje Mandare.
Keberadaan danau ini juga baru dapat dijangkau dengan waktu sekitar dua hari dengan berjalan kaki melewati kawasan hutan dan bukit Rimbacandi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Selatan.
“Kami bersama rombongan 21 orang, termasuk dua paranormal, melakukan ekspedisi di kawasan Rimbacandi dengan menelusuri tebing, hutan, dan perbukitan selama dua hari baru sampai di lokasi danau merah tersebut,” kata Asmidi, warga setempat di Pagaralam.
Letak danau itu di sekitar perbukitan Raje Mandare di perbatasan antara Kota Pagaralam dan Kaur, Provinsi Bengkulu yang terkenal dengan banyak tersimpan berbagai peninggal bersejarah termasuk candi.
Menurut dia, di daerah itu memang banyak hal yang aneh bisa ditemukan. Bukan hanya ada danau dengan air berwarna merah, tapi juga ada lokasi yang menimbulkan aroma pandan bila malam hari.
“Namun anehnya, meskipun dilihat dari permukaan berwarna merah, tapi ketika air diambil menggunakan tangan, diangkat ke permukaan, justru warnanya seperti biasa. Bening dan jernih,” kata dia.
Selain danau merah, di hutan Raje Mandare yang penuh keanehan itu juga ada berbagai satwa raksasa. Misalnya kelabang dengan lebar 30 cm dan panjang 50 cm, burung raksasa, dan kerbau yang telinganya ada sarang lebah.
Ant
Sriwijaya Post — 4 Desember 2010.
PAGARALAM – Selain ditemukan danau dengan permukaan air berwarna merah, di hutan Raje Mandare di perbatasan Bengkulu – Sumatera Selatan ini diketahui banyak keanehan.
Menurut Kasmidi, danau merah itu sendiri juga aneh, setidaknya menurut pengetahuan. Sebab, meskipun airnya terlihat berwarna merah, tetapi kalau diciduk pakai tangan atau gayung, airnya terlihat biasa saja. Bening dan jernih. Keanehan lain, kata Kasmidi, ada satu lokasi tak jauh dari danau yang menimbulkan aroma pandan bila malam hari. Hal itu tidak ditemukan pada lokasi lain.
Masih cerita Kasmidi, di Hutan Raje Mandare juga ada sejumlah satwa raksasa. Misalnya, kelabang dengan lebar 30 cm dan panjangnya 50 cm, burung raksasa, dan kerbau yang telinganya ada sarang lebahnya. Yang mengherankan, pohon-pohon hutan yang tegak berdiri di atasnya pun seperti mempunyai tatanan tersendiri. Kalau tanah tempat pohon itu tumbuh masih masuk wilayah Tanah Basemah Pagar Alam, maka semua pohonnya miring ke arah Pagar Alam. Namun, kalau tempat tumbuhnya Bengkulu, maka pohon-pohonnya miring ke arah Bengkulu pula, atau berlawanan dengan arah Pagar Alam.
Masih di daerah itu, semua jenis burung dan hewan hutannya cukup jinak, tidak takut terhadap manusia. Meski begitu, agar burung dan hewan tidak lari, pengunjung tidak bolei mengeluarkan suara atau berbicara. “Ada hal lain yang kami temukan, seperti kelabang ukuran lebar 30 cm dan panjang 50 cm, burung raksasa, dan kerbau yang telinganya ada sarang lebah atau tawon. Namun, kami tidak tahu apa saja yang tersimpan di daerah Bukit Raje Mandare itu,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya setempat, Syafrudin, mengatakan, daerah Rimbacandi memang masih banyak menyimpan misteri yang hingga kini belum dapat terungkap, termasuk keberada Bukit Raje Mandare yang banyak memiliki peninggalan sejarah.
Sayangnya, pihak pemerintah setempat masih terkendala dana untuk melakukan penelitian di daerah itu. Selain itu, juga ada keterbatasan tenaga ahli. Untuk itu, diperlukan studi lebih lanjut untuk mengungkap misteri Hutan Raje Mandare.
Ant
Sriwijaya Post — 4 Desember 2010.









Pingback: www.grosirkita.com