Ampera Diyakini Masih Aman
17 October 2010 Leave a comment

Jembatan Ampera pasca kebakaran, Minggu (10/10) berstatus berbahaya. Pagar jembatan Wong Kito ini bengkok terpanggang si jago merah. Foto diambil Senin (11/10).
PALEMBANG – Pakar jembatan berdarah Jepang, Prof Dr Sohei Matsuno meyakini Jembatan Ampera aman pasca terbakar beberapa waktu lalu.
Ia menentang opini yang mengatakan kondisi Jembatan Ampera mengalami masa kritis. Menurut Matsuno, terjadinya kebengkokkan handrail (pagar besi) bukan akibat panas. Tetapi disebabkan tekanan gaya dari handrail akibat kebakaran disampingnya. Sementara handrail yang bengkok sebenarnya tidak terbakar. “Buktinya tidak gosong,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, poster-poster iklan yang di tempel di bawah jembatan yang posisinya sejajar dengan besi yang terbakar pun tidak terbakar. Hal ini membuktikan kalau temperatu panas di bawah 200 derajat celcius. “Handrail yang bengkok justru menjadi bukti kalau jembatan ini aman,” tegasnya.
Eko Adisaputro
Sriwijaya Post — 15 Oktober 2010.
Tak Perlu ke Jepang untuk Cek Ampera

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Palembang, Apriadi S Busri CES saat memeriksa kondisi Jembatan Ampera, Rabu (13/10).
PALEMBANG – Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Palembang, Apriadi S Busri CES mengatakan tidak perlu harus datang ke negara Jepang untuk mencari tahu kondisi Jembatan Ampera karena segala sesuatunya bisa diatasi.
“Kenapa harus jauh-jauh ke Jepang. Untuk apa? Untuk mencari orang yang buat Jembatan Ampera, ya kalau orangnya masih ada, kalau sudah mati? Kan sudah ratusan tahun,” kata Apriadi, Kamis (14/10).
Menurut Apriadi, Indonesia umumnya sudah punya tenaga ahli dalam bidang jalan dan jembatan bahkan ahli sudah sangat menguasai masalah beton, betel dan seluk beluk perjembatan. Departemen PU khususnya sudah mengatasi masalah jalan dan jembatan. Termasuk Jembatan Ampera diakui Apriadi sudah bisa diatasi Departemen PU.
Terkait kontraktor Jepang yang membuat Jembatan Ampera diakui Apriadi bahwa data berapa waktu dan ketahanan atau data-data kontruksi Jembatan Ampera sudah tersimpan di Departemen PU sehingga mereka sudah bisa mengatasinya. “Kalau di Pusat itu Departemen PU. Berhubung Jembatan Ampera adalah milik negara jadi ditangani khusus Departemen PU dan kalau di sini melalui Balai Besar Penyelenggaran Jalan Nasional II,” kata Apriadi.
Saftarina
Sriwijaya Post — 14 Oktober 2010
PALEMBANG – Salah seorang tim peneliti dari Litbang Departemen PU mengalami kecelakaan kerja pada saat melakukan penelitian di Jembatan Ampera, Rabu (13/10) sekitar pukul 16.45 WIB.
Pria yang merupakan salah satu anggota tim peneliti dari Jakarta ini, terlihat berdiri di atas tangga besi. Tiba-tiba tangganya oleng dan jatuh.
Pria umur 35 tahunan yang jatidirinya dirahasiakan tim peneliti ini langsung terhempas ke tanah dengan posisi terlentang dan tangga besi mengenai kaki kirinya. Secara fisik, beberapa bagian tubuhnya tidak mengalami cedera.
Kaki kirinya terlihat membengkak dan pria ini sempat meringis kesakitan. Selanjutnya dengan bantuan beberapa aparat Pol PP dan sesama tim peneliti, pria ini diangkat dengan tandu untuk dibawa ke rumah sakit. “Nggak usahlah disebutkan namanya. Kita nggak tahu namanya,” kata Aidil Fikri, Kepala Satuan Kerja Non – Vertikal Departemen PU yang langsung ikut sibuk memberikan pertolongan. (saf)
Sriwijaya Post — 14 Oktober 2010

Bengkok dan bahaya : Pagar Jembatan Ampera bengkok, pasca terpanggang si jago merah, Senin (11/10) malam. Kini kondisi Jembatan Ampera dalam status bahaya.
PALEMBANG, SRIPO – Kebakaran kios penampungan dan penjualan Pakaian Bekas (BJ) yang berada di bawah Jembatan Ampera Kelurahan 7 Ulu, Minggu (10/10) kemarin meninggalkan kerusakan serius. Dinas PU Bina Marga Sumsel saat ini un tidak bisa menjamin keamanan Ampera. Apakah jembatan yang dibangun Jepang dan diresmikan Presiden RI Pertama Bung Karno ini masih kuat atau sudah rapuh. Untuk melakukan langkah berikut, pihaknya menunggu hasil investasi Tim Terpadu, yang berasal dari Kementerian PU Pusat.
Kepala Satuan Kerja (Satker) Utilitas Jalan dan Jembatan Metropolitan PU Bina Marga Ir H Aidil Fiqri MT di bawah Jembatan Ampera, Senin (11/10) mengatakan, Jembatan Ampera bisa saja roboh. “Jujur saja, struktur beton di sisi kiri dan kanan jembatan diragukan kekuatannya, bahkan bisa saja roboh. Bayangkan besi pagar jembatan saja bisa melengkung oleh lidah api, bagaimana bagian struktur beton badan jembatan yang dipanggang api. Kami tidak bisa menjamin kondisi Jembatan Ampera saat ini, apakah kuat atau tidak,” kata Aidil Fiqri.
Dikaitkan dengan pelaksanaan SEA Games XXVI, 2011 mendatang, dan apa yang akan dilakukan. Aidil berujar, tidak mungkin Jembatan Ampera dilakukan pembongkaran.
Pasalnya, perbaikan tidak bisa satu atau dua bulan, dan pekerjaan ini sangat berat karena secara struktur bangunan, Jembatan Ampera ini merupakan kontruksi satuan utuh yang panjang. Bukan seperti struktur jembatan sekarang yang dibangun per segmen. (sin)
Sriwijaya Post — 12 Oktober 2010
Ampera Seberang Ulu Steril dari Pedagang
PALEMBANG – Pasca kebakaran 7 Ulu tepatnya di bawah Jembatan Ampera, para pedagang didateline untuk segera meninggalkan lokasi sepanjang Jembatan Ampera.
“Berdasarkan perintah Walikota Palembang sehubungan dengan musibah kebakaran di bawah Jembatan Ampera Seberang Ulu 10 Oktober 2010 lalu, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan demi keselamatan pedagang atau pembeli maka kawasan tersebut ditutup per 13 Oktebeq 2010,” kata Direktur Utama PD Pasar Palembang Jaya, Drs H Syaifuddin Azhar MM, Kamis (14/10).
Menurut Syaifuddin, tidak diperkenankan lagi melakukan aktivitas apa pun di kawasan bawah Jembatan Ampera Seberang Ulu.
Selanjutnya bagi para pedagang dipersilakan untuk pindah ke tempat atau pasar atau pasar yang sudah disedikan Pemkot Palembang. Ada pun pasar alternatif tersebut antara lain Pasar Retail Jakabaring, Pasar Kertapati, Pasar Sekanak, Pasar Kuto, Pasar Lemabang, Pasar 16 Ilir Lantai 4 dan 5. Bagi yang ingin mendaftap ke pasar-pasar tersebut maka pihaknya akan segera mendata.
“Kita gratiskan selama enam bulan,” kata Syaifuddin seraya menambahkan bagi yang ingin mendaftap datang ke Kantor PD Pasar Palembang Jaya Jl KH A Dahlan No 64 Lt II Pasar Bukit Kecil Palembang.
Saftarina
Sriwijaya Post — 14 Oktober 2010
PD Pasar Siap Relokasi Pedagang

Walikota Palembang H Eddy Santana Putra meninjau lokasi bawah Jembatan Ampera. Walikota marah dan merasa kecolongan, karena di bawah jembatan ini dijadikan gudang pakaian BJ
PALEMBANG – Kepala PD pasar, Syarifuddin Azhar ketika meninjau lokasi kebakaran, Senin (11/10) mengatakan siap menyalurkan para pedagang eks kebakaran. Ada beberapa lokasi yang menjadi alternatif yang akan menampung para pedagang ini antara lain, pasar ritel Jakabaring, pasar Sekanak, pasar 16 ilir.
Menurut Syarifuddin, beberapa lokasi ini masih kosong dan belum banyak ditempati pedagang sehingga bisa menjadi alternatif. Sedangkan lokasi eks kebakaran 7 ulu belum ada kepastian, masih diizinkan atau tidak
oleh Pemkot Palembang, mengingat lokasi ini pas di bawah jembatan yang sangat rentan terhadap kondisi jembatan yang menjadi ikon Palembang.
Tak hanya Kepala PD Pasar, Syarifuddin Azhar, Walikota Palembang H Eddy Santana Senin (11/10) pagi langsung meninjau lokasi.
Sriwijaya Post – Senin, 11 Oktober 2010 13:10 WIB
Rp 300 Juta Terbakar Dalam Sekejap

Tim Labfor Polda Sumsel melakukan pemeriksaan kondisi Jembatan Ampera pasca terpanggang api
PALEMBANG – Hajjah Nurhayati (52 th), pedagang pakaian bekas eks yang menjadi korban kebakaran di bawah Ampera, dengan wajah sedih mengaku bingung mau pindah tempat jualan. Ia sudah berjualan selama 14 tahun di lokasi eks kebakaran tersebut.
Ia mengaku rugi Rp 300 juta karena baru saja menyetok barang 100 bal pakaian bekas dan satu pun tak ada yang terselamatkan. Ia meminta pemkot mencarikan jalan keluar untuk berjualan kembali.
“Apakah di lokasi ini masih diperbolehkan atau pindah ke lokasi lain, dimana lokasinya,” kata Nurhayati sambil menangis, Senin 911/10) .
Nurhayati mengaku kecewa karena ketidaksigapan petugas BPK. Katanya api mulai berkobar pukul 22.00, kiosnya masih jauh dari api. Tetapi petugas mengaku kesulitan menyemprotkan air. Sekitar pukul 23.00 kiosnya baru terbakar.
>Sriwijaya Post – Senin, 11 Oktober 2010 13:24 WIB








Komentar: