Kolong Ampera Jadi Gudang
15 October 2010 Leave a comment

JADI GUDANG : Kolong Jembatan Ampera di Kelurahan 7 Ulu yang selama ini jadi barang dagangan para pedagang. Tampak sisa barang bekas terbakar dalam “gudang” itu (kiri).
PALEMBANG – Belum habis rasa prihatin masyarakat terhadap kebakaran puluhan lapak yang berada di bawah Jembatan Ampera, kondisi ini diperparah dengan temuan yang lebih mengagetkan lagi. Yakni, ditemukan barang-barang seperti baju BJ (baju layak pakai yang dijual lagi), botol minuman keras, kertas koran, bungkus nasi dan lainnya di kolong jembatan.
Kolong yang dimaksud di sini adalah semacam rongga antara tiang penyangga dan badan jembatan. Dijadikannya kolong Ampera menjadi semacam gudang ini, bermula dari sulitnya memadamkan sisa kebakaran beberapa hari lalu.
Meskipun air sudah disiramkan untuk mengurangi panas, eh ternyata masih tetap ada uap panas dari badan jembatan. Setelah diselidiki ternyata kolong Jembatan Ampera dijadikan tempat gudang barang bekas milik pedagang yang biasa mangkal di bawah Ampera.
Kolong dengan ukuran tinggi sekitar 1/2 meter tersebut masih menyisakan uap panas. Beberapa barang yang berhasil dievakuasi dari kolong tersebut seperti bekas kertas bungkus nasi, baju-baju serta sisa-sisa barang bekas lain.
“Masya Allah, kita sudah sangat khawatir akan kondisi jembatan, eh ternyata ada kejadian yang di luar dugaan. Sungguh tidak terpuji tindakan membuat kolong itu jadi tempat gudang barang,” kata Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Palembang, Apriadi S Busri, CES yang dikonfirmasi, Rabu (13/10) sekitar pukul 16.45.
Apriadi pun langsung mengontak ponsel Kepala Pol PP dan Direktur PD Pasar untuk memastikan kejadian yang sebenarnya. Selanjutnya Apriadi pun langsung mengontak, Aidil Fikri, Kepala Satuan Kerja Non-Vertikal Departemen PU yang masih ada di lokasi bawah Jembatan Ampera.
Menurut Apriadi, berdasarkan informasi dari Aidil memang benar adanya barang-barang bekas di kolong jembatan. Namun jumlahnya tidak terlalu banyak, bisa jadi sudah hangus terbakar atau sudah diambil pemiliknya. Apriadi pun langsung meluncur ke lokasi eks kebakaran dan melihat dari dekat petugas sedang membersihkan dan mengecek kolong jembatan tersebut.
Jembatan Ampera masuk dalam kapasitas jembatan nasional sehingga menurut Apriadi ada tim khusus yang menanganinya yaitu dari Departemen PU sedangkan untuk pengawasan dari Palembang dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) III. Namun bukan berarti Pemkot Palembang tidak mempunyai tanggungjawab mengingat letak jembatan ini ada di tengah kota Palembang.
“Itu sebetulnya tanggungjawab kita semua. Namun karena pembiayaan pemeliharaannya mahal maka jembatan Ampera dibiayai pemerintah pusat melalui Departemen PU. Tanggungjawab kita dalam hal penataan di lokasi bawah dan sekitarnya termasuk menertibkan para pedagang,”kata Apriadi seraya menegaskan mulai hari ini seluruh aktivitas perdagangan di bawah jembatan akan distop semua mulai dari lokasi eks kebakaran sampai ke pinggir sungai.
Informasi diketahuinya kolong jembatan dibuat sebagai gudang penyimpanan ini ketika tim peneliti dari Litbang Departemen PU, tim dari Balitbangda Sumsel serta tim dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) III sedang melakukan pengecekan ke lokasi pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB. “Kita lihat ke dalam, kenapa masih ada uap panas, ternyata banyak barang-barang di dalam kolong itu. Ada sisa baju bekas, ada sisa sampah bahkan ada sisa botol minuman keras di dalamnya,”kata Aidil yang sampai sore tetap berada di lokasi.
Pedagang Membenarkan Beberapa eks pedagang yang masih berada di lokasi eks kebakaran membenarkan bila kolong itu memang untuk penyimpanan barang-barang mereka. Ny Y, salah seorang pedagang yang enggan disebutkan jati dirinya secara lengkap mengatakan sejak berjualan di lokasi tersebut dirinya memang kerap menyimpan barang di atas kolong jembatan. “Petak kami ukurannya sangat terbatas.
Habis untuk muatk barang dagangan saja, jadi kalau ada barang stok maka kami simpan di atas sana (kolong). Mau disimpan di mana lagi, di situlah yang aman,” kata Ny Y, Rabu (13/10).
Hal senada diungkapkan Dv yang mengaku juga berdagang di areal eks kebakaran ini. Menurutnya, tidak setiap saat menyimpan barang di atas kolong jembatan. Hanya sewaktu-waktu saja bila stok barang baru datang dan tidak ada tempat lain untuk menyimpannya.
“Setahu saja, pemilik petak yang banyak menyimpan barang di kolong, kalau pedagang kecil-kecil dan eceran biasanya jarang,” kata Dv. (saf)
Sriwijaya Post – Kamis, 14 Oktober 2010 09:54 WIB








Komentar: