Puasa, Saatnya untuk Merenung.
22 August 2010 Leave a comment

Budayawan Emha Ainun Najib
JAKARTA – Ibadah puasa merupakan sebuah momen sekali dalam setahun yang sebaiknya dirayakan dengan keheningan bukan dengan kemeriahan.
Hal ini karena ibadah puasa pada dasarnya adalah sebuah kontemplasi tahunan, wadah bagi manusia untuk merenung. Demikian disampaikan tokoh intelektual Islam dan juga budayawan, Emha Ainun Najib, Sabtu (21/8/2010), dalam acara Kilau Ramadhan, di Masjid Al-Ittihaad, Tebet, Jakarta.
“Puasa adalah kesempatan pacaran dengan Allah, berdua. Maka dari itu, Idul Fitri pun hanya satu malam yang merupakan puncak dari kesunyian dengan Allah,” ujarnya di hadapan para jemaah yang masih antusias mendengarkan siraman rohani Cak Nun meski sudah hampir memasuki tengah malam.
Cak Nun, sapaan akrabnya, pun mengaku keheranan dengan cara perayaan bulan puasa masyarakat yang lebih sering dengan keramaian. “Puasa itu sangat pribadi untuk setiap manusia dan Tuhan. Puasa tidak ada hubungannya dengan Ramadhan karena ini adalah kontemplasi,” ujarnya.
Ia melanjutkan, Allah SWT sesungguhnya sudah menciptakan suatu siklus hidup yang dalam setahun diberikan waktu khusus bagi manusia untuk bertafakur, beritikaf, dan berkontemplasi. “Di dalam hidup, tiap ada aksi pada ada saat dimana manusia butuh berkontemplasi atas aksinya tersebut,” tandas Cak Nun.
KOMPAS
Emha: Islam Itu Besar.
JAKARTA – Budayawan Emha Ainun Najib atau yang biasa dipanggil Cak Nun mengatakan bahwa Islam itu besar sehingga ummatnya tidak perlu membela Islam.
Hal ini karena Islam sesungguhnya hadir justru untuk membela Islam, bukan sebaliknya. “Islam itu baik sekali, sangat besar, dan sangat indah. Kenapa dibela? Islam hadir membela manusia, bukan sebaliknya. Saya ini bau, hatinya kotor apa pantas bela Islam?” ungkapnya, Sabtu (21/08/2010), saat memberikan taushiyah “Kilau Ramadhan” di Masjid Al-Ittihaad, Tebet, Jakarta.
Menurutnya, orang-orang yang mengatasnamakan diri untuk membela Islam justru terkesan lebih hebat, bahkan lebih mulia daripada Islam. “Islam itu sangat mulia. Kalau kita bela, kesannya kita lebih hebat, lebih mulia daripada Islam,” ujar budayawan ini.
Ia mengungkapkan, manusia tidak boleh merasa hebat, super, ayau kebal. “Mengapa? Karena ingat ada Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Kalau ingin hebat, hebat didalam diri saja saat menaklukkan diri sendiri. Jangan keluar. Kalau diluar, serahkan semuanya kepada Allah SWT,” ungkap Cak Nun.
Selain masalah cara pembelaan terhadap Islam, Cak Nun di dalam taushiyahnya yang dihadiri sekitar seratus anggota jemaah juga menyoroti berbagai persoalan kehidupan sehari-hari yang sering kali disalahkan manusia karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan. Ia mencatat beberapa hal sepele yang seharusnya tidak diperdebatkan, termasuk itu permasalahan cara beribadah yang berbeda-beda di beberapa daerah yang kerap dicap sebagai bidah.
Penulis: Sabrina Asril
Editor: Jodhi Yudono
KOMPAS, 22 Agustus 2010, 08.04 WIB








Komentar: