Evaluasi Diri di Bulan Ramadhan.


bismilah2-1

Oleh: Prof. Dr. H. Aflatun Muchtar, MA\

Puasa Ramadhan yang menyengat di musim kemarau ini. Jika dirasakan memberikan penyegaran bahwa hidup harus sabar dan selalu mengingat Allah agar mencapai ketenangan sekaligus kesadaran diri, betapa hari akhir kian mendekat. Dan sesungguhnya dan kehidupan semakin hari semakin menjauh dari “ruh” ke-Islaman. Pada saat yang sama, kehidupan akhirat semakin mendekat. Manusia tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana ia menemui kematian.

Seorang ulama pernah mengingatkan bahwa kita adalah kumpulan dari hari-hari. Setiap berlalu satu hari dari rangkaian waktu, maka sesungguhnya bagian kita sudah terhempas. Ia tak akan pernah kembali. Ketahuilah, bahwa dunia hanya terdiri atas tiga hari. Hari kemarin, yang tidak akan pernah kembali dan sudah jauh meninggalkan kita. Sementara hari ini, adalah hari yang harus kita tulis dengan tinta emas amalan baik, kita ukir dengan pena kemuliaan.

Ambillah mutiara-mutiara hikmah dari masa lalu. Tidak pernah beruntung orang yang menyia-nyiakan hari ini setelah menyia-nyiakan kesempatan hari kemarin. Sedangkan hari esok merupakan kesempatan bagi mereka yang telah Allah SWT kehendaki.Meski bisa jadi kita bukanlah orang yang akan menjumpai hari esok apalagi memilikinya.

“Waktu itu laksana pedang, jika engkau tidak memotongnya (mengisinya dengan kebaikan), niscaya ia akan memenggalmu.

Demikianlah salah satu perkataan sahabat yang banyak memiliki hikmah, Ali bin Abi Thalib.

Waktu adalah kehidupan, barangsiapa menyia-nyiakan waktu maka ia telah menyia-nyiakan kehidipannya.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Al-’Ashr: 1-3)

Waktu bulan puasa pun merupakan berkah tersendiri bagi kita untuk meningkatkan diri kepada-Nya. Guna mengevaluasi atau bermuhasabah diri kita. Di bulan suci ini dan bulan berikutnya. Evaluasi diri dari amalan hari kemarin serta menimbang perbuatan waktu lalu, adalah keniscayaan seorang mukmin. Umar bin Khattab pernah mengingatkan:

“Hitunglah dirimu, sebelum kalian dihitung. Timbang-timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di hari kiamat).”

Di tempat lain Al-Hasan mengatakan:

“Orang mukmin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Hisab akan menjadi ringan bagi mereka yang telah menghisab diri di dunia, dan akan menjadi berat pada hari kiamat bagi mereka yang mengambil perkara ini, tanpa muhasabah.”

Sementara Maimun bin Mahram, sebagaimana dikutip Sa’id Hawwa dalam Al-Mukhtakhlash fii Tazkiyatil Anfus (mensucikan Jiwa), menganggap evaluasi diri ini lebih penting daripada mengaudit kekayaan. Ia mengatakan:

“seseoang hamba tidak termasuk golongan Muttaqin sehingga ia menghisab dirinya lebih keras ketimbang mengaudit terhadap mitra usahanya. Dua orang mitra usaha pun saling menghitung setelah melakukan usaha.”

Allah SWT menegaskan agar manusia selalu menghitung dan mempersiapkan amal, sebagai bekal hidup di akhirat kelak.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18 )

Sangatlah tepat kiranya, di bulan Ramadhan ini sebagai lahan atau ajang mengevaluasi diri kita sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya. Guna menemukan perubahan yang bermakna positif bagi diri kita. Kita temukan bahwa kehidupan yang hakiki adalah menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Marilah kita terus evaluasi diri kira. Wallahua’lam bishawab

Puasa dan Jiwa Tawadhu.

Oleh: Ust. Syofwatilah Mohzaib. S.Sos.I

Bulan Ramadhan memiliki banyak sekali hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik oleh kaum beriman dalam menjalankan puasa. Puasa dapat menumbuhkan jiwa tawadhu. Jiwa ini sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Orang yang tawadhu sudah langka di zaman sekarang ini. Tidak rakus jabatan. Tidak sekedar mempopuleritaskan diri demi kekuasaan. Tidak pamer. Tidak riya’. Walaupun dirinya memilki kelebihan, tidak merasa tinggi. Sifat-sifat tidak terpuji benar-benar dijauhi oleh orang yang tawadhu. Di bulan suci ini kita pun dapat menggembleng diri kita untuk tawadhu. Berakhlak terpuji dan berpikiran jernih.

Menurut Ibnu Mandhur, dalam karyanya Lisanul Arab menjelaskan tq-wa-dla sama dengan ta-dzal-la-la yang berarti merendahkan hati (humble). Seorang yang tawadhu bersikap rendah hati dengan cara memposisikan dirinya tidak lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Merendah hati tidak sama dengan menghinakan diri sendiri. Menurut Imam Ghazali, kehinaan itu justru ada pada kesombongan, sedangkan sikap tawadhu merupakan ekspresi dari keluhuran budi pekerti. Tawadhu yang seperti ini bisa dilihat secara jelas pada sikap para sahabat Nabi.

Beberapa riwayat menjelaskan bahwa Abu Bakar ketika menjadi khalifah masih membantu memerah susu untuk tetangganya. Umar bin Khattab saat menjabat khalifah membawa daging dengan dengan tangan kiri dan susu di tangan kanannya. Ali bin Abi Thalib pun saat menjadi khalifah tidak segan-segan membeli daging sendiri dan membawanya pulang. Abu Hurairah saat menjabat gubernur di Madinah terlihat pula memikul kayu bakar untuk kebutuhan rumah tangganya.

Di sini, jabatan publik yang diemban tidak menghalangi mereka untuk bersikap merakyat, yang mungkin bisa menghinakan mereka. Justru sikap tawadhu inilah yang menghantarkan mereka pada kemuliaan. Hal ini sudah ditegaskan Rasulullah dengan sabdanya:

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta. Tidaklah seorang hamba yang pemaaf kecuali Allah menambahkan kemuliaan baginya. Dan tidak pula seorang yang berikap tawadhu kecuali Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Bersikap tawadhu memberi nilai positif bagi kehidupan manusia. Karena orang yang tawadhu akan menjadikan derajat seseorang tinggi. Ketinggian derajat ini memang balasan yang diberikan oleh Allah SWT. Karenanya, tidak akan merugi hidup seorang yang tawadhu di muka bumi. Karena, baik di bumi maupun di akhirat kelak akan memperoleh penghargaan yang tinggi di sisi Allah SWT.

Sikap tawadhu membimbing seseorang akan terus dekat dengan Allah SWT, karena Allah SWT sangat cinta bagi mereka yang selalu bertawadhu. Orang seperti Abu Bakar, Umar dan Abu Hurairah di atas justru terangkat derajatnya, karena tidak menjaga jarak dengan komunitas masyarakatnya. Mereka malahan bertambah dekat kepada Allah SWT dan semakin dekat dengan rakyatnya.

Tawadhu bukanlah sikap yang dipaksakan dan dipertontonkan pada orang lain seolah-olah dirinya rendah hati. Siapa yang merasa dirinya tawadhu, kata Ibnu Atha’illahi, maka berarti dia benar-benar sombong; sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu kecuali kalau dia merasa tinggi atau besar. Oleh karena itu, tatkala kau menetapkan dirimu itu tinggi, maka kau benar-benar telah sombong.

Hakikat tawadhu ialah suatu sikap yang muncul karena melihat atau benar-benar memperhatikan kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya yang tampak jelas. Sombong, angkuh, dan membanggakan diri adalah lawan dari sikap tawadhu. Allah jelas-jelas melarang sikap-sikap seperti itu.

“Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungghuhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18 )

Karenanya, latihlah dengan tawadhu dibulan suci ini. Tidak sombong dengan ibadah dan tidak sombong dengan amal sosial. Semoga Allah melindungi kita semua. Amin. Wallahua’lam bishawab

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

One Response to Evaluasi Diri di Bulan Ramadhan.

  1. Sofia says:

    This was novel. I wish I could read every post, but i have to go back to work now… But I’ll return.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s