Puasa dan Keutamaannya.


bismila2-1

Oleh: Drs. H. Umar Said (Ketua FUI Sumsel)\

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183)

Shyiam/puasa berarti menahan diri dari syahwat (keinginan), kebutuhan dan kesenangannya, untuk melatihnya agar sabar dan tunduk kepada akal, serta melatih akal agar mengekang kebuasan insting jasad dan mendorongnya untuk berjihad bersama di jalan Allah. Puasa adalah perang tersembunyi antara akal dan jasad; ia adalah kesabaran yang mengajari diri bagaimana bersabar dalam menghadapi apa yang dia sukai dan tidak dia sukai, lalu membebaskannya dari belenggu syahwat, serta meneguhkannya untuk menanggung berbagai benturan dan kesulitan.

Oleh karena itu, puasa adalah simbol pengendalian nafsu dalam agama Allah, yang merupakan salah satu rukun Islam yang harus ditegakkan. Ia adalah satu jalan menuju hakekat taqwa yang merupakan pencerminan dari firman Allah diatas.

Kemudian dalam tafsir (al Muraghi jilid 2, 1984; 123) diterangkan bahwa menurut istilah syari’at puasa berarti “Menahan diri tidak makan, tidak minum, dan bersetubuh dengan istri, sejak fajar hingga terbenam matahari karena mengharapkan pahala dari Allah.”

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ibadah puasa itu merupakan suatu pengekangan/pengendalian diri terhadap hal-hal yang tidak disukai oleh Allah yang dilakukan secara rahasia dan tergantung pada dirinya sendiri pula. Ia bukanlah suatu amalan yang dapat dilihat oleh banyak orang. Puasa itu yang dapat menyaksikan hanyalah Allah dan orang-orang yang menjalaninya. Oleh karena itulah maka bagi orang-orang yang menjalankan puasa akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang dijanjikan oleh Allah SWT.

Diantara keutamaan puasa itu (menurut Iman Ghazali) adalah sebagai berikut:

1. Pahalanya Dinilai dan Dibalas Langsung Oleh Allah SWT

Dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA dinyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Semua amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, maka dia itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mendapat Dua Kegembiraan

Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan yang akan ia terima; kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Masuk Surga Dengan Pintu yang Khusus

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang bernama Ar-Rayyan tempat masuk orang-orang yang puasa pada hari kiamat. Tidak dapat masuk dari pintu itu kecuali orang yang berpuasa….” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Mempersempit Jalan setan

Rasulullah SAW bersabda:

“Setan berjalan di dalam diri anak Adam pada jalan darahnya, maka sempitkan jalannya dengan lapar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Membuat Kita Sehat

Rasulullah SAW bersabda:

“Puasalah kamu supayakamu sehat.”

Dengan puasa banyak organ tubuh yang bekerja sebagai mesin di dalam tubuh kita akan menjadi hemat sehingga akan memperlambat organ tersebut menjadi aus.

5. Membentengi Diri Dari Kejahatan

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya puasa itu benteng. Apabila seseorang diantara kamu berpuasa, maka janganlah ia berkata keji dan jahil. Bila ada orang yang menyerang atau memaki maka hendaklah ia mengatakan (aku puasa).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah diantara beberapa keutamaan puasa yang dinukilkan dari hadits-hadits Nabi SAW. Selanjutnya agar puasa yang kita laksanakan dapat menghasilkan keutamaan-keutamaan di atas, maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Melihat bulan, yang merupakan permulaan bulan Ramadhan untuk memulai puasa.

2. Niat pada malam hari atau pada waktu sahur.

3. Tidak memasukan sesuatu ke dalam perut.

4. Tidak melakukan hubungan suami istri pada siang hari.

5. Tidak mengelurkan mani dengan sengaja.

6. Tidak mengeluarkan muntah dengan sengaja.

Selain itu ada juga hal-hal yang disunnahkan di dalam berpuasa seperti:

1. Mengakhirkan makan sahur.

2. Menyegerakan berbuka dengan korma atau air sebelum shalat Maghrib.

3. Tidak menggosok gigi setelah tergelincirnya matahari.

4. Bermurah hati/dermawan.

5. Tadarrus Al-Qur’an.

6. I’tikaf di masjid terutama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

7. Memberi makan untuk berbuka.

Adapun Syarat Wajib Puasa adalah:

1. Beragama Islam.

2. Telah dewasa (baligh).

3. Berakal sehat.

4. Mampu untuk melakukan (tidak sakit atau dalam perjalanan).

Rukun Puasa:

1. Niat yang dilakukan pada malam hari.

2. Imsak: menahan makan, minum, bersetubuh, serta hal-hal yang dapat merusaknya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Syarat Syah Puasa:

1. Suci dari haid dan nifas bagi wanita.

2. Dikerjakan pada waktu yang diperbolehkan.

Hal-hal yang Membatalkannya:

1. Makan dan minum dengan sengaja.

2. Muntah dengan sengaja.

3. Keluar darah haid dan nifas.

4. Bersetubuh/bersenggama pada siang hari (bila melanggar harus mengganti puasa dua bulan berturut-turut).

5. Mengeluarkan sperma/mani dengan sengaja.

6. Gila/hilang akal pada siang hari.

Syahrul Ibadah.

Ada dua ibadah di dalam bulan Ramadhan yang hendaknya mendapat perhatian serius dan sungguh-sungguh dari orang yang beriman dan beragama Islam.

Pertama: Ibadah Primer (Pokok).

Berpuasa pada siang hari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh (kecuali karena ada udzur/halangan) sehingga mereka boleh tidak puasa, namun harus menggantinya pada hari-hati/di bulan lainnya sejumlah yang ditinggalkannya.

Barangsiapa dengan sengaja tidak berpuasa tanpa ada udzur maka mereka akan menjadi pendurhaka dan dalam kerugian kerugian besar. Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa tidak berpuasa pada bulan Ramadhan tanpa udzur (alasan jelas) maka dia tidak bisa menbayarnya/menggantinya walaupun dengan berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kedua: Ibadah Sekunder (Tambahan).

Yaitu shalat Tarawih, Tadarrus, I’tikaf di masjid, bersedekah dan perbuatan-perbuatan kemanusiaan yang baik lainnya. Serta menghindari perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji dan tidak baik.

Bulan Ramadhan disebut sebagai Syahrul Ibadah (bulan ibadah), maka diharapkan bagaimana orang-orang yang beriman di dalam bulan Ramadhan itu tidak hanya mempuasakan mulut dan perutnya dari makan dan minum di siang hari. Akan tetapi juga menggiring jasmani dan rohaninya untuk melakukan hal-hal yang baik dan terpuji dalam rangka pencerahan dan peningkatan iman. Nabi SAW bersabda:

“Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga meninggalkan ucapan dan perbuatan yang kotor dan sia-sia.’ (HR. Ibnu Khuzaimah)

“Jika engkau berpuasa maka hendaklah berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari berdusta dan berbuat dosa.”

Dengan diwajibkannya berpuasa diharapkan mereka yang mengerjakannya dapat melakukan perang tersembunyi antara akal dan jasad, serta melatih akal agar mengekang kebiasaan insting bagaimana bersabar dalam menghadapi apa yang Dia sukai dan tidak Dia sukai, lalu membebaskan dari belenggu kebiasaan, serta meneguhkannya untuk menanggung berbagai benturan dan kesulitan.

Bulan Ramadhan hanya ada satu kali dalam satu tahun, selama sebelas bulan kita bebas makan, minum, bersenang-senang dan lain sebagainya. Maka dalam Ramadhan yang hanya satu bulan ini marilah kita pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kegiatan-kegiatan yang lebih bersifat ibadah.

Puasa dan Nilai-nilai Pembaharuan.

Inti dari ibadah puasa Ramadhan yang kita laksanakan adalah adanya pengendalian diri dari berbagai hal dan perilaku yang dapat membatalkan puasa maupun pahala puasa. Dengan pengendalian diri itulah semua ibadah kita bernilai disisi Allah. Sehingga, di akhir Ramadhan kita dapat meraih derajat orang bertaqwa dan kembali menjadi fitri. Dan, nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa dapat ibadah puasa dapat kita laksanakan dengan konsisten pada bulan-bulan berikutnya. Inilah makna puasa yang sesungguhnya.

Masih dalam konteks tersebut, ibadah puasa merupakan cara melakukan pembaharuan, baik mental, jasmani, maupun rohani yang dapat dilaksanakan oleh pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bangsa secara kolektif. Pembaharuan mental yang dimaksud adalah tumbuhnya mental-mental pejuang yang dapat mengalahkan berbagai macam rintangan dan godaan.

Orang yang berpuasa dengan benar, misalnya, akan menahan lapar dan dahaganya, meskipun dia memiliki kesempatan untuk membatalkannya ketika tidak ada orang yang melihatnya. Namun, berpuasa mengajarkan manusia untuk jujur kepada dirinya dan menyadari betapa Allah mengawasinya. Karenanya, Allah SWT mengatakan dalam hadts Qudsi:

“Sesungguhnya puasa seorang anak Adam adalah untuk-Ku. Dan Aku yang akan menberikan balasannya.”

Selain itu, pembaruan mental lainnya adalah tumbuhnya samangat saling membantu dan egaliter. Berpuasa mengikis rasa egois dan indiividualistis. Sebaliknya, puasa justru akan menumbuhkan rasa solidaritas serta kesetiakawanan. Sedangkan pembaharuan jasmani adalah lahirnya pribadi-pribadi yang memiliki kesehatan yang prima. Berpuasa, sebagaimana dikatakan para pakar kesehatan, dapat meningkatkan kesehatan dan vitalitas. Dengan berpuasa, maka kita dapat memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melakukan metabolisme secara sempurna.

Dengan berpuasa dapat melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa. Ini, sebagaimana firman Allah SWT

:“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orand sebelim kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183)

Puasa dan Kepekaan Sosial

Ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat banyak mengandung kebajikan. Diantaranya, yang sangat penting, adalah bahwa ibadah puasa dapat dapat meningkatkan rasa kepekaan dan kepedulian kepada sesama. Itu sebabnya Nabi Muhammad SAW menyebut bulan Ramadhan sebagai sebagai Syahr al-Muwasat, berarti bulan ‘Bulan Kepekaan Sosial’ (HR. Ibnu Khuzaimah).

Kepekaan itu timbul karena orang yang berpuasa pasti merasakan lapar dan dahaga seperti yang biasa dirasakan oleh orang-orang yang tidak mampu, yaitu fakir miskin dan kaum dhuafa. Jadi, ibadah puasa sesungguhnya memiliki fungsi penting, yaitu mengasah dan mempertajam rohani manusia, sehingga ia dapat melihat dan merasakan penderitaan orang lain.

Bukti mengenai kepekaan itu dapat dilihat dari perintah Nabi Muhammad SAW agar kaum muslimin di bulan Ramadhan ini banyak memberi makan atau menyediakan buka bagi orang yang berpuasa. Sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa memberi makan atau buka kepada orang yang berpuasa, maka hal itu dapat menjadi tebusan atas dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari api neraka. Ia juga beroleh pahala orang yang puasa itu, tidak berkurang pahalanya barang sedikitpun.”

Mendengar pernyataan Rasulullah SAW di atas, para sahabat meminta penjelasan lebih lanjut dari beliau. Mereka berkata, “Tidak semua orang dari kami memiliki kemampun untuk memberikan makan kepada orang yang berpuasa”

Lalu, jawab Rasulullah SAW: “allah SWT telah menyediakan pahala besar untuk kalian. Apakah kalian tidak sanggup menyedikan buka walau sebutir kurma, segelas air putih, atau secangkir susu?” Kemudian beliau pun menegaskan kepada para sahabat bahwa kepedulian kepada orang yang berpuasa itu dapat membuat seseorang meraih rahmat dan ampunan dari Allah SWT. (HR. Baihaqi dan Ibnu Hibban)

Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti tersebut dalam hadits Bukhari, dikatakan sebagai orang yang paling peka terhadap kebaikan dan kepekaannya itu mencapai puncaknya di bulan suci Ramadhan ini, bulan di mana Malaikat Jibril selalu datang menemui Rasulullah setiap malam. Dikatan, kepekaan dan kebaikan Nabi itu ibarat angin kencang.

Kebaikan Rasulullah SAW menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, diserupakan dengan angin karena ada aspek kesamaan antara keduanya. Dikatakan, angin itu adalah angin surga yang diutus oleh Allah untuk menurunkan hujan, sehingga membasahi dan menghidupkan bumi yang kering dan mati. Kebaikan Nabi sama dengan air hujan itu juga: menyejukkan dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh ummat manusia.

Kepekaan sosial ini menjadi problem tersendiri bagi kita sebagai ummat dan bangsa. Tanpa kepekaan sosial, maka akan timbul kerawanan-kerawanan sosial. Wallahua’lam bish-showab

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s