Berkata Baik atau Lebih Baik Diam.


http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=630

DARI Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan haru akhirat, maka ia hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak akan dimintai tanggung jawabnya.” (Al-Isra’: 36)

Bahaya lisan itu sangat banyak, Rasulullah SAW juga bersabda:

“Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya.”

Beliau juga bersabda:

“Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran.”

Barangsiapa memahami hal dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

Sebagian ulama berkata:

“Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat hadits, antara lain adalah hadits “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah dia berkata baik atau diam”. Sebagian ulama memaknakan hadits ini dengan pengertian;“Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang dia katakan itu baik lagi benar, dia dibei pahala. oleh karena itu, dia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah.”

Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi. karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.

Allah berfirman:

“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid.” (Qaaf: 18)

Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu ‘Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan. seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat balasan.

Pengarang kitab Al-Ifshah mengatakan, “adapun sabda Rasulullah SAW; “Maka hendakah ia berkata baik atau diam,” menunjukan bahwa perkataan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah SAW dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam.”

Berkata baik dalam hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan Rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kuam muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Wallahua’lam bishawab

Sumber:
Buletin Jum’at Insan Mulia
Edisi 302/Tahun VII/18 Juni 2010

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s