Perempuan dan Politik Kekuasaan.


Cawan emas yang ditemukan setelah terbawa arus surut ke hilir Sungai Musi, membuat gundah hati Raja Palembang. Utas rambut hitam panjang dalam cawan mengundang bagi sang raja. Singkat cerita, raja mengetahui bahwa pemilik rambut adalah Dayang Merindu, puteri rupawan di daerah hilir.

Dikirimlah utusan untuk melamarnya. Tanpa setahu raja, ternyata cawan ini merupakan bagian dari “skenario” Kriyo Carang, penguasa daerah hulu, untuk melawan sang raja. Terjadilah pertempuran, dan cerita berakhir dengan pemotongan tubuh Dayang Merindu. Bagian Kepala di bawa kedesanya, bagian kaki dibawa ke Palembang.

Puteri Dayang Merindu merupakan satu dari sekian banyak dongeng dan legenda yang tumbuh dan hidup di masyarakat Sumsel, khususnya di wilayah hulu Sungai Musi. Cerita ini dapat bermakna sebagai simbol perlawanan “daerah bawahan” terhadap dominasi “Kerajaan Palembang.” Sejauh ini, para perempuan yang terlibat dalam kisah-kisah itu baru sebatas “katalisator,” bahkan menjadi objek.

Dalam cerita yang sama, Raja Palembang mengalami kesulitan dalam perang melawan Kriyo Carang yang sakti dan kebal. Raja pun mengirimkan selirnya “serupa dengan cerita Bupati Blambangan, Minak Jinggotetapi dalam matra yang berbeda,” untuk mengetahui kelemahan sang Kriyo. Akhirnya, Raja Palembang mengetahui kelemahan Kriyo Carang “kelemahan Minak Jinggo adalah gada yaitu talu dengan bembam (nama lokal sejenis tumbuhan rawa berbatang lurus menyerupai bambu tetapi tidak beruas) ulung. Kata ulung ini bisa dipakai untuk menyebut warna hitam pada sesuatu yang tidak umum berwarna hitam.

Hal serupa juga terdapat pada legenda Puyang Pekik Nyaring, yang berasal dari Rambang Kapak Tengah. Raja Palembang yang kesulitan mengalahkan sang Puyang, juga mengirimkan seorang perempuan untuk menjadi kekasih Pekik Nyaring. Akhirnya, diketahui kelemahannya. “Apabila bersuara di atas, berarti dia berada di bawah. Apabila dia bersuara di bawah, berarti dia berada di bawah,” kata almarhum Muhammad Ilyas, tokoh adat Rambang Kapak Tengah, dalam perbincangan dengan Sriwijaya Post tahun 1994 lalu.

Lewat mulut perempuan “kiriman” itulah, kelemahan Pekik Nyaring terungkap. Dengan (lagi-lagi) bembam ulung, Raja Palembang memukul ke arah bawah saat terdengar pekikan dari arah atas.

perempuan dan politik kekuasaan, tampaknya selalu mewarnai termasuk di Palembang. Pada masa pra-Kesultanan Palembang, terjadilah pembuhunan terhadap Pangeran Palembang, tauhn 1629. Menurut P dee Roo Faille dalam dari Zaman Kesultanan Palembang (terjemahan Soegarda Purbakawatja: 1971), pembunuhan ini dipicu masalah perempuan.

“Syahdan Ki Mas Dipati mati…. maka digantikan saudaranja nama Pangeran Made sokan djadi radja, dan tatkala itu dia punja aturan kurang baik, sebab manakala rakjat kawin akan dibawa dahulu menghadap radja; jang manapun bagus, dititipkan didalam keraton, lakinja disuruh pulang.”

Kebiasaan, yang berlaku juga di Kerajaan Jawa, ini bertemu “batu”-nya tatkala sang pangeran menahan seorang mempelai perempuan di keratoan (Kuto Gawang, Plembang Lamo), mempelai laki-lakinya, Jaladri membunuh rajanya. Dalam bagian kisah ini, munculah nama seorang tokoh, Ki Bodrowongso, yang diyakini menurunkan bangsawan Palembang, Kemas, Masagus, dan Kiagus. Dalam perspektif sejarah Palembang kini, raja yang mangkat karena dibunuh itu adalah Pangeran Jamaluddin Mangkurat.

Setelah wafat (kebiasaan penamaan setelah meninggal), dia dikenal sebagai Sido Ing Kenayan. Nama ini mengacu kepada bagaimana dia meninggal, yaitu di aniaya (Palembang: kenyayo).

Antidominasi keterlibatan perempuan (tidak selalu dalam posisi sebagai korban) dalam cerita rakyat di Sumsel, umumnya menampakkan usaha penolakan doninasi kekuasaan salah satu babak kisah Usang Rimau (Puyang dari Meranjat, Ogan Ilir), mengisahkan pertempuran sang Puyang dengan Sunan Palembang, tokoh yang digambarkan bertubuh kecil, dengan bubul (semacam kepalan) ditelapak kaki ini sanggup melarikan gadis dari Palembang, dalam arti harfiah; menggendongnya sambil berlari. Sementara di Sunaro, juga dalam kawasan Ogan Ilir, terdapat makam yang diyakini sebagai kuburan Sunaro. Ini merupakan perempuan yang terkenal cantik jelita.

Akibatnya, dia di kejar-kejar Sunan Palembang. Bahkan seorang ksatria Jawa, Sang Sungging, juga mengejarnya yang diprsunting. Akibatnya, sebelum wafat, Puteri Sunaro mengucapkan sumpah yan berdampak sangat berat bagi anak cucunya. Ada juga perempuan yang digambarkan sebagai sosok yang memiliki kelebihan luar biasa. Misalnya Puteri Pinang Masak, yang dikisahkan mampu menganyam tatal kayu menjadi bakul yang kedap air.

ada pula Puteri Kembang Dadar, yang konon tahan di dadar (kebal). Bagi rakyat Belido yang berdiam di sepanjang Sungai Belido (sekitar 20 Km arah hulu Kota Palembang) memiliki juga Puyang perempuan yang bernama Dayang Merindu. Puyang (makamnya di tepi muara, arah kanan masuk dari Sungai Musi) ini diyakini sebagai pembuka aliran Sungai Belido dan berpengaruh besar pada keberhasilan penanaman padi. “Para petani berziarah dulu kemakam Dayang Merindu sebelum memulai bercocok tanam. Insya Allah, hasilnya akan baik,” kata Rasyid, seorang warga Desa Harapan Mulia, yang terletak sekitar 100 meter dari muara sungai.

Sementara di Prabumulih, perempuan perkasa diwakili Puyang Rebia. Tokoh ini menguasai Sungai Rambang. Dikisahkan, semasa gadisnya, dia menolak menikah dengan lelaki sebelum sang lelaki mampu mengalahkannya. Dalam pertarungan di Sungai Rambang, puluhan lelaki dijatuhkan. Hingga akhirnya, dia bersedia menikah dengan seorang lelaki, yang dikenal sebagai Puyang Iran. “Kalau anak perempuan berkundu ke Puyang Rebia, perilakunya mirip dengan Puyang Betino ini,” kata Yos Elyas, Tokoh Teater Sumsel, yang banyak mengangkat akar budaya daerah dalam berkesenian.

Cerita rakyat yang berkembang di Sumsel ada juga yang menunjukan perspektif kesentaraan. Misalnya si Labu Kombang, yang mengisahkan seorang pedagang yang merantau saat istrinya hamil. Kala itu dia berpesan kepada istrinya. “Apabila anak kita laki-laki, peliharalah dia. Apabila perempuan, bunuhlah.” Lahirlah kemudian seorang bayi perempuan. Karena merasa sayang, sang istri memberinya nama Labu Kombang, dan merawatnya dengan kasih sayang. Saat sang suami kembali dan tahu anaknya perempuan, dibunuhlah sang anak. Namun akhirnya dia menyesali perbuatannya itu.

Dari akhir kisah ini, dapat ditangkap bahwa sang penutur ingin menyampaikan bahwa, “lelaki dan perempuan itu sama saja.” Perspektif kesentaraan ini menurut Budayawan Sumsel, Djohan Hanafiah, sesungguhnya sudah berlaku lama di Indonesia, terutama di Sumsel. Daerah ini menjamin kedudukan perempuan sejak abad ke-17, lewat piagam Ratu Sinuhun atau Kitab Undang-Undang Simbur Cahaya. “Aturannya ketat. Bahkan tersentuh jari perempuan saja tidak boleh.”

Dia menilai, kesentaraan gander di Indonesia jangan disamakan dengan budaya Barat, yang lebih bersifat material. Barat akan berbicara kesamaan kedudukan, persamaan nilai gaji, dan semua yang berbau materi. Berbeda dengan Indonesia. “Kalau kita, mengakui, bersifat spiritual. Kita bahkan pernah punya perempuan presiden. sedangkan Barat, yang merupakan negara pejuang kesentaraan gander belum pernah,” kata Djohan.

Djohan juga mengatakan bahwa pengakuan terhadap eksistensi perempuan itu juga tampak dari penamaan. Misalnya ibu jari, ibukota. “Secara faktual, pengakuan atas eksistensi perempuan juga tampak di masyarakat Semendo,” kata Djohan.

Perempuan-perempuan perkasa di tengah deraan beban ekonomi, para perempuan terpaksa mengolah otot kecil berbalut kulit halus mereka. Demi menghidupi tiga anaknya, Eni (30) berjualan kerupuk keliling ditiga Kabupaten, OKU, OKUT, dan OKUS, sambil menggendong anak bungsunya. Sementara, perempuan di Sungai Lematang, memecah dan mengangkat batu dari Sungai Lematang, mencangkul ladang, menanam cabe merah, mencari kayu bakar. Di kota, anak-anak perempuan diajari berkebaya dan memimpin upacara.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

2 Responses to Perempuan dan Politik Kekuasaan.

  1. Angelina says:

    Hello this is amazing site! really cool and it will be a new inspirations for me

  2. Ugg 5453 says:

    Hello! I simply wish to make a large thumbs upward for that terrific guidance you’ve here on this post. I will be returning to your site for additional shortly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s