Lima Hal Memperkokoh Ketaqwaan.


http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif?w=630

Pembaca rahimakumullah. Allah SWT berseru kepada orang-orang yang beriman, agar bertaqwa kepada-Nya dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya dan jangan sekali-kali saat meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan muslim yang patuh (taqwa). Seruan sebagaimana dinyatakan Allah dalam firmannya :

“Ya ayyuhal ladzina amanut taqullaha haqqa tuqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun.”

Wujud ketaqwaan yang sebenarnya adalah kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya di mana saja kita berada dan pada saat atau kondisi apapun sedang kita hadapi. Hal ini dinyatakan Nabi SAW dalam sabda Beliau :

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan-perbuatan tidak baik itu dengan perbuatan baik untuk menghapus dosa-dosa dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.”

Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya menuntut kita istiqamah (tetap kokoh) dalam ketaqwaan itu setiap saat, di mana saja dan kapanpun. Dalam tulisan ini, mengajak kita semua menyimak suatu ringkasan dari tulisan Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya “Ruhiyah Ad-Da’iyyah.” Beliau memaparkan ada lima hal yang dapat memperkokoh ketaqwaan seseorang mukmin. Kelima hal itu adalah :

1. Al-Mu’ahadah (Perjanjian kita kepada Allah)

Kita harus ingat perjanjian kita kepada Allah SWT. Janji kita pertama kali yaitu ketika di alam arwah, ketika Allah belum menciptakan jasad kita. Allah berdialog dengan roh Bani Adam ini, mengambil kesaksian mereka sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, surat Al-A’raf ayat 172 :

Artinya :Allah berfirman : “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab : “Betul, Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi.”

Janji kita yang pertama ini memberi kita pengertian dan konsekwensi bahwa kita hanya menyembah kepada Allah, kita akan mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Ketika kita dilahirkan hidup di alam dunia ini, kita ulangi syahadat (kesaksian) kita saat melantunkam atau menyahuti kalimat dalam adzan :

Asyhadu alla illaha illallah, asyhadu anna muhammdar rasulullah.”

Begitu juga kalimat tasyahud kita ikrarkan ketika duduk tasyahud awal atau pun akhir dalam shalat. Selain itu kita berdiri dalam shalat saat membaca doa iftitah. Kita ikrarkan janji kepada Allah:
“Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin. Artinya, sesungguhnya shalatku dan ibadahku serta hidup dan matiku, untuk mendapatkan ridha Allah SWT”.

Disamping itu, ketika membaca Surat Al-Fatihah, kita ucapkan janji kepada Allah :
,br />“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Artinya, hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.

Kalau semua janji-janji ini kita hayati, sudah tentu dapat mendorong kita untuk tetap bertaqwa, tunduk patuh mentaati Allah dimanapun kita berada, kita takut kepada Allah, bila kita mengabaikan janji, karena mengabaikan janji adalah salah satu perilaku munafik, sebagaimana dinyatakan oleh salah satu hadits yang sudah populer kita dengar : Tanda munafik itu ada tiga : Apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia mengabaikannya, apabila diberi amanat, ia mengkhianati.

2. Al-Muraqabah (Merasa diawasi Allah)

Untuk memperkokoh ketaqwaan kepada Allah, juga kita harus selalu ingat bahwa Allah SWT itu setiap saat Maha Mengetahui dan Melihat apa yang kita kerjakan. Allah SWT sendiri menyatakan secara gamblang dalam firman-Nya surat Al-Hadid ayat 4 :

“Artinya, dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Merasa diawasi Allah dimanapun kita berada merupakan wujud keimanan yang dapat mencegah kita berbuat yang tidak diridhai Allah, karena merasa malu untuk melakukannya sebab Allah melihat kita. Perasaan malu ini merupakan bahagian dari iman sabagaimana Nabi katakan :“Al-haya’ minal iman”

Merasa malu dalam pengawasan Allah mendorong kita berlaku jujur. Sebagaimana contoh, dikisahkan oleh Abdullah bin Dinar bahwa ia pernah bersama Khalifah Ar-Rasyidin Umar bin Khattab melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan anak muda pengembala yang sedang menuruni lembah pengembalaannya. Terbetik dalam hati Khalifah Umar ingin menguji sampai sejauh mana sifat amanah anak muda tersebut. Lalu beliau dekati sambil berkata : “Wahai anak gembala aku butuh kambing, jual seekor saja kambingmu itu kepadaku.” Anak gembala itu menjawab : “Aku hanyalah seorang budak. Kambing ini kepunyaan tuanku. Aku tidak berhak menjualnya.” Lalu Umar membujuk : “Gampang saja, jangan kau katakan kepada tuanmu. Jika ia bertanya katakan saja kambing itu diterkam serigala.” Mendengar bujukan itu, spontan anak gembala itu berucap : “Aduh tuan, kalau berbohong begitu, lalu Allah berada di mana?.”

Sungguh jawaban yang luar biasa. Umar tak menduga sama sekali, jika anak yang semuda itu mempunyai keyakinan bahwa dia selalu diawasi oleh Allah. Lalu Umar berkata lagi : “Kau yakin Allah mengawasimu?” Anak gembala itu menjawab : “Bisa saja aku menipu tuanku dengan berbohong. Tapi apa mungkin aku menipu Allah? Padahal Allah selalu mengawasiku setiap gerak dan langkah, bahkan mengetahui apa yang terbetik dalam hatiku. Karena itu, meskipun tuan memaksa, aku tak akan menjual kambing milik tuanku ini.”

3. Al-Muhasabah (Mengevaluasi diri)

Untuk tetap terpeliharanya ketaqwaan kepada Allah SWT, kita harus senantiasa mengevaluasi diri kita, sejauh mana kadar ketaqwaan yang dapat kita capai; apakah semakin umur kita bertambah bilangannya, kita makin dekat dengan Allah, makin bertambah ketaqwaan, ataukah makin jauh dari Allah, makin lalai dalam melaksanakan tuntunan Allah dan Rasul dalam menjalani hidup ini

Mengevaluasi (menghisab) diri dalam setiap saat dan kesempatan adalah langkah yang sangat perlu agar tetap terpelihara ketaqwaan dalam diri kita. Begitu perlunya evaluasi itu sehingga Allah memperingatkan kepada kita yang sudah merasa bertaqwa untuk mengevaluasi diri, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hasyar ayt 18 :

“Artinya, hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esokyakni akhirat, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Tidak dapat dimungkiri bahwa harta dan anak yang Allah karuniakan kepada kita membuat kita terlalu berlebihan mencintainya dalam hidup ini, sehingga melalaikan kita untuk tetap ingat dan patuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah telah mewant-wanti orang yang beriman agar hal demikian tidak sampai terjadi. Firman Allah dalam surat Al-Munafiqun ayat 9 :

“Artinya,hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

Betapa pentingnya mengevaluasi diri sedini mungkin sampai ajal menjemput kita, sudah diperingatkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dalam salah satu khutbahnya : “Artinya, evaluasi dirimu sebelum dievaluasi Allah di Yaumil Hisab nanti.”

4. Al-Mu’aqabah (Adanya balasan bagi setiap perbuatan)

Selalu ingat bahwa setiap perbuatan yang dilakukan di dalam hidup ini akan dibalas oleh Allah di akhirat nanti. Perbuatan baik (dalam pandangan agama) yang kita lakukan akan kita terima balasannya berupa nikmat surga Allah. Sedangkan perbuatan yang tidak baik (durhaka kepada Allah) yang kita lakukan di dalam hidup ini, akan kita terima balasannya berupa adzab neraka, sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firman-Nya surat Al-Zalzalah ayat 7 dan 8 :

“Artinya, barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah yakni debu halus pun, niscaya dia akan mensdapatkan balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

Dengan selalu ingat adanya adzab Allah yang akan kita yang akan kita terima di akhirat nanti apabila kita melakukan perbuatan yang tidak diridhai Allah, maka akan mendorong kita untuk tetap bertaqwa mematuhi segala perintah-perintah Allah, dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah.

5. Al-Mujahadah (Mengendalikan nafsu dengan kesungguhan hati)

Allah SWT secara tegas mengatakan dalam firman-Nya di surat Yusuf ayat 53 :

“Artinya, sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh karena itu agar diri kita tetap kokoh dalam ketaqwaan kepada Allah dalam menjalani hidup ini, perlu kesungguhan hati berjihad mengendalikan hawa nafsu yang selalu mengajak tidak tunduk kepada Allah itu. Berjihad mengendalikan nafsu pada hakikatnya adalah sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW dalam hadits Imam Turmudzi dan Ibnu Majah :

“Artinya, orang yang berjihad itu adalah orang yang mengendalikan nafsu (diri)nya dalam mentaati Allah.

Seseorang yang senantiasa dengan kesungguhan berjihad mengendalikan dirinya untuk tetap berjalan di jalan Allah, Allah akan memberikan petunjuk-Nya. Hal ini dinyatakan Allah dalam firman-Nya surat Al-Ankabut ayat 69 :

“Artinya, dan orang-orang yang berjihad untuk keridhaan Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Mudah-mudahan lima hal yang kami sampaikan ini dapat memperkokoh ketaqwaan setiap saat sampai akhir hayat dalam husnul khatimah. Amin ya rabbal ‘alamin.

Sumber :
Buletin Jum’at, Edisi 11 Tahun II/26 Rabbiul Awwal 1431 H/12 Maret 2010 M.
Diterbitkan Pemerintah Kota Palembang (Bekerjasama dengan MUI Kota Palembang)

(Tulisan di salin dari Khutbah Jum’at H. Abdul Wahab)

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s