Keberuntungan Wanita Muslimah


bismilah2-1

Oleh: Dr. Mgs. H. Usman Said, SpOG

qs-al-ahzab-33

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab: 33)

DALAM surat Al-Ahzab di atas Allah SWT berpesan agar istri-istri Nabi dan juga muslimah untuk tinggal di rumah dan jangan berhias seperti wanita jahiliyah, mendirikan shalat berarti ikrar kita dalam shalat harus mewarnai kegiatan kita sehari-hari, menunaikan zakat berarti peduli dengan kesulitan sesama, berjiwa sosial.

Taat kepada Allah dan Rasul berarti aturan agama menjadi sendi-sendi kehidupan, tidak memperturutkan hawa nafsu berdandan cantik dengan memikat dan berakhir dengan mendzalimi diri sendiri. Orang kafir menuduh Islam memasung wanita tidak ada kebebasan. Tetapi bebas dari aturan Allah dan Rasul-Nya akan tergelincir mengikuti aturan iblis laknatullah.

Orang tak beriman menawarkan kepada muslimah emansipasi, kesetaraan gander, feminisme yang semuanya ini menipu wanita menuju kepada kesesatan yang nyata. Pekerjaan di rumah, mengurus anak-anak terutama mendidik, melayani suami dianggap pekerjaan yang menghina, padahal dihadapan Allah mempunyai nilai yang sangat tinggi, bahkan dapat menjadi bekal menuju surga.

Di bawah ini dikutip kisah yang di riwatkan Abu Hurairah RA yang memberikan sekelumit kisah dari kehidupan seorang wanita shaleha, yakni puteri dari junjungan ummat kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW, yaitu Fatimah Az-Zahra RA.

Pada suatu hari masuklah Rasulullah SAW bertemu ananda tercinta Fatimah Az-ZAhra. Didapatinya ananda sedang menggiling sayir untuk dijadikan tepung dengan sebuah menggunakan sebuah kisaran tangan sambil menangis.

Maka baginda bersabda kepada anandanya; “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah? Semoga Allah tiada menyebabkan matamu menangis.”

Kata Fatimah; “Wahai ayahanda, sudikah kiranya ayahanda memintakan kepada Ali memberikan ananda seorang pembantu untuk menolong ananda menggiling tepung dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah.”

Mendengar perkataan anandanya itu, maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati kisaran itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati dan mulia itu, diletakkan sayir itu di dalam kisaran, seraya diusapkannya Bismillahirrahmanirrahiim, maka berputarlah kisaran itu dengan sendirinya dengan izin Allah SWT seraya bertasbih kepada Allah SWT da;am berbagai bahasa. Sehingga habislah sayir itu digilingnya.

Maka bersabda Rasulullah SAW kepada kisaran itu; “Berhentilah olehmu dengan izin Allah,” maka kisaran itupun berhenti berputar, lalu ia pun berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan tiap-tiap sesuatu bertutur kata.

Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih; “Ya Rasulullah, demi Allah yang membangkitkan Tuan hamba, dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul, kalaulah Tuan hamba menyuruh menggiling sayir Masriq dan Maghrib pun niscaya akan hamba kisarkan dia semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar di dalam kitab Allah Ta’ala suatu ayat yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan.” Maka hamba takut, ya Rasulullah, kelak hamba menjadi batu yang masuk neraka.”

Maka bersabda Rasulullah; “Bergembiralah kamu, karena bahwasannya engkau adalah batu mahligai Fatimah Az-Zahra di dalam surga!”

Maka bersukacitalah kisaran itu karena mendengar berita itu dan bergembiralah ia, kemudian diamlah dia.

Maka bersabda Rasulullah SAW kepada Fatimah Az-Zahra; “Jikalau Allah menghendaki, ya Fatimah, niscaya kisaran ini menggiling dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki bahwa dituliskan untukmu beberapa kebajikan dan dihapuskan bagimu beberapa kejahatan dan diangkat bagimu beberapa derajat.

Ya Fatimah, barangsiapa perempuan yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah tuliskan baginya dengan tiap-tiap gandum yang digilingnya suatu kebajikan dan mengangkatnya satu derajat. Ya Fatimah, barangsiapa perempuan yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah manjadikan antaranya dan neraka jarak tujuh buah parit. Ya Fatimah, barangsiapa perempuan yang mengikat rambut mereka, dan mencuci pakaian mereka, maka Allah catat baginya ganjaran orang yang memberi makan kepada seribu orang bertelanjang.

Ya Fatimah, barangsiapa perempuan yang menghalang hajat tetangga-tetangganya, maka Allah menghalanginya dari meminum telaga Kautsar pada hari kiamat. Ya Fatimah, yang lebih utama dari itu semua ialah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tiadalah akan dido’akan untukmu. Tidaklah engkau ketahui bahwa ridha suami itu daripada ridha Allah dan kemarahannya itu daripada kemarahan Allah.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s