Menjenguk Rumah Allah dari Dekat.


Zainal Abidin Hanif (Ulama)

HIDUP kita hanya sebentar tinggal di planet bumi yang kecil ini. Menurut Rasulullah SAW tak lebih kurang 60 tahun (hatta balaghosittina’ammah). Oleh sebab itu kita minta dengan Allah SWT agar diberi kesempatan untuk melengkapi rukun Islam kita dengan datang memenuhi undangan-Nya, menjenguk rumah tuanya Baitullah Al Haram sekali seumur hidup sebagaimana firman Dia dalam Surat Ali Imran ayat 96-97 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa yang memasuki (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhmya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Renyuh perasaan kita agar terpilih menjadi hamba yang diundang untuk menjenguk rumah Allah Ka’bah dari dekat. Siang malam menjadi pikiran agar kita jangan mati dulu sebelum berkunjung ke sana. Dari doa ke doa dan dari tahajjud ke tahajjud kita minta dengan cucuran air mata ke Haribaan Allah. Alhamdulillah, Allah memanggil kita sebagaimana bunyi ayat QS Al-Hajj ayat 27 : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Kita pun datang dengan ‘undangan’ Allah SWT. Segalanya disiapkan oleh-Nya. Kita dipilihnya menjadi tamu terhormat. Allah SWT menyiapkan segala keperluan kita karena yang bersangkutan (hamba Allah) merasa tidak memiliki apap-apa, segala bergantung kepada-Nya. Syarat-syaratnya dipenuhi Allah SWT. Apa syaratnya? Dia membawa bekal dari Allah, yaitu taqwa. Dia punya kendaraan dari Allah, yaitu amal-amal yang saleh. Dia membawa senjata yang ampuh dari Allah, yaitu ditolong oleh selalu berdzikir. Dia dicari teman oleh Allah SWT, yaitu hamba sama taat kepada-Nya. Dia pun bersifat ‘dawam’ dari petunjuk Allah, untuk tidak lepas ingat dengan-Nya (baik berdiri, duduk maupun berbaring).

Syarat-syarat ini dipenuhi dengan ringan, sejuk, ikhlas dan karena Dia semata. Mengapa demikian? Karena volume ibadahnya dibesarkan Allah SWT, tidak tanggung-tanggung, mencapai 100 ribu kali (mi’ah alfin). Allahu Akbar.

Dia (hamba Allah) yang diundang Allah SWT. Ketika memasuki Masjidil Haram gemetar/merinding bulu romanya. Terus berjalan ke tengah-tengah masjid yang tiada beratap lalu ia turun ke lantai. Dihadapannya Ka’bah. Kiblat badannya setiap waktu menunaikan ibadah shalat. Apa yang terjadi ketika pandangannya tertuju kepada Ka’bah. Dia lengket dengan yang punya, Allah SWT.

Tangispun tak tertahankan. Air mata berderai, menderas, menganak sungai. Allahu Akbar. Doanya diijabah oleh Allah SWT, yaitu : “Ya Allah, ya Tuhanku, cicipi aku kelezatan memandang Wajah-Mu yang mulia. Rasakan kepadaku ya Allah rindu untuk terus berhubungan dengan-Mu.” Puncak dalam menemukan kebahagian di dunia. Dan memanglah, menurut Allah SWT, dalam firman-Nya dalam surat Yunus ayat 58, kegembiraan dan kelezatan ibadah itu tidak ada bandingnya kecuali dapat berhubungan timbal balik antara si hamba dengan Al-Khalik : “Katakanlah, hendaklah mereka bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu. Itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Sriwijaya Post — Jumat, 30 Oktober 2009 08:31 WIB

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s