Menjemput Semangat Berqurban Nabi Ibrahim AS.


http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif?w=630

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa : 125)

TIDAK ada peristiwa pengorbanan besar yang tercatat dalam sejarah dunia kecuali kisah Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anak kandungnya, Ismail AS. Atas dasar ketundukan kepada perintah Allah SWT. Dan inilah kisah pengorbanan yang paling monumental dan oleh karenanya setiap tahun diperingati oleh umat muslim sedunia sebagai hari raya qurban.

Dua orang anak beranak dihadapkan pada satu perintah yang jelas tapi berat. Yang bisa saja diabaikan karena itu datangnya lewat bermimpi. Atau bisa saja meminta keringanan, mengingat pada saat itu Nabi Ibrahim AS baru memiliki seorang anak. Namun ternyata perintah tersebut dilaksanakan dengan sungguh dan penuh ketaqwaan. Karena Nabi Ibrahim yakin itu adalah mimpi yang benar.

Dan ingatlah saudaraku, pada saat akan disembelih, Nabi Ibrahim AS meminta pendapat kepada sang anak. Apakah ia bersedia disembelih sebagaimana yang ia lihat di dalam mimpi. Dan jawaban Ismail AS, sungguh luar biasa. Ia tidak menampakkan kekhawatiran sedikit pun. “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jawaban sang anak, semakin menguatkan azzam Nabi Ibrahim AS. Kemudian Nabi Ibrahim AS membawa Ismail ke suatu tempat yang sunyi di Mina, tempat di mana para jemaah haji beratus-ratus tahun kemudian melakukan ibadah melempar jumrah. Sebuah tanah yang diberkahi Allah SWT.

Sebelum penyembelihan dimulai, Ismail mengajukan tiga permohonan :

Pertama, sebelum ia disembelih, hendaknya terlebih dahulu sang ayah mengasah pisau setajam-tajamnya. Agar ia lekas mati dan tidak menimbulkan rasa kasihan dan penyesalan dari sang ayah.

Kedua, ia meminta wajahnya harus ditutup, agar tidak timbul rasa ragu atau iba.

Ketiga, bila penyembelihan telah usai, agar pakaian dan Ismail yang berlumuran darah dibawa kehadapan ibunya, sebagai saksi bahwa qurban telah dilaksanakan.

Maka, sebagaimana diriwayatkan, dengan berserah diri kepada Allah SWT, Ismail pun dibaringkan dan dengan segera Nabi Ibrahim AS menyentakkan pisaunya mengiris urat leher Ismail. Dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor Qibasy (biri-biri) gemuk.

Maka sejak saat itu, qurban menjadi syariat yang diwajibkan bagi mereka yang mampu dan dilaksanakan melengkapi pelaksanaan ibadah haji setiap tahunnya. Allah Maha Penyayang, sebagaimana ujian kepada Nabi Ibrahim AS di atas, perintah qurban diganti dengan melakukan penyembelihan terhadap hewan qurban saja. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Wallahualam bis shawab

Buletin Jum’at Insan Mulia
Edisi 271/Tahun V/13 Novemben 2009

About these ads

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: