PALEMBANG – Listrik kadang mati dan kadang hidup alias byar pet yang terjadi belakangan ini sepertinya sulit untuk dihindari. Bahkan, masih akan terjadi hingga 2010. Itu lantaran PT PLN secara terjadwal melakukan pemeliharaan pada sejumlah pembangkit.
Nah, kalau soal pemadaman akibat gangguan non-teknis seperti kabel listrik tertimpa pohon, Anda bisa menghubungi call centre 123. Memang, saat ini layanan tersebut masih ngadat. Namun, ke depan call centre yang operasional 24 jam, tujuh hari dalam seminggu itu, bakal di-update. “Termasuk dari sisi standardisasi pelayanannya. Intinya, biar siap menerima pengaduan mengenai permalahan kelistrikan,” ungkap General Manager (GM) PT PLN Wilayah S2JB (Sumsel, Jambi, dan Bengkulu), Amir Rosyidin saat berkunjung ke Graha Pena, kantor pusat harian Sumatera Ekspres, kemarin (13/11).
Selain call centre, menurut Amir, pihaknya menyiapkan nomor khusus SMS online 0812-7123123. Layanan itu dapat dimanfaatkan masyarakat selama 24 jam. “Kita siap menampung sekaligus menindaklanjuti setiap keluhan soal pelayanan yang masuk.”
Kedatangan Amir didampingi petinggi PLN lainnya. Ada GM Pembangkit Wilayah Sumbagsel, Ir Prawoko, Manajer Distribusi Ir Margo, Manager Cabang PT PLN Palembang, Rahimudin, dan jajaran lainnya. Mereka diterima GM Sumatera Ekspres Group, H Subki Sarnawi dan jajaran. “Kondisi kelistrikan kita harus diakui parah. Cadangan daya sangat minim. Kapasitas tersedia 1.800 MW, sementara beban 1.700 MW,” ungkapnya.
Amir menjelaskan, akhir 2009 pemadaman bisa diminimalisir. Hal itu, seiring dengan rampungnya tahapan pemeliharaan dua dari empat pembangkit utama. Yakni, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tarahan kapasitas 90 MW, mulai masuk ke sistem pada 17 November. Kemudian, PLTU Ombilin Padang, perkiraan masuk sistem per 30 November. “Dengan dua PLTU itu, total hingga akhir tahun bisa masuk 180 MW.”
Meski demikian, Amir mencoba mengurai kondisi kelistrik di bawah naungan PLN wilayah S2JB yang men-support enam provinsi dengan defisit daya 160 MW. Katanya, Sumsel termasuk yang paling sedikit pemadaman. Yakni, di kisaran 10-20 MW. “Bandingkan pemadaman yang terjadi di Lampung sebesar 80 MW, Jambi 30 MW, Sumbar dan Riau masing-masing 40 MW. Kalau bengkulu 8 MW karena memang cakupan wilayahnya yang sangat terbilang kecil,” beber Amir lagi.
Selain masalah teknis, Amir menyinggung rencana pembentukan unit khusus yang menangani pengaturan distriburi. “Unit baru yang khusus menangani soal pengaturan distribusi ini direncanakan akan operasional Januari 2010. Kita ingin menggandeng media dalam mensosialisasikannya. Terutama, menyangkut pemberitahuan daerah mana saja yang padam listriknya.”
Bagaimana dengan implementasi program konpensasi tarif listrik 10 persen terhadap pelanggan yang terkena pemadaman? Menurut Amir, hal itu segera diterapkan. “Kalau wilayah Sumsel, baru PLN ranting Lahat yang melaksanakan program kompensasi atas dasar tingkat mutu pelayanan (TMP) per-zona. TMP setiap pelanggan ditempel di masing-masing ranting PLN.”
Rahimudin menambahkan besaran TMP akan dipengaruhi oleh banyak sedikitnya jumlah pelanggan yang ada di suatu wilayah. “Sekarang kami tengah mengevaluasi daerah-daerah mana yang TMP-nya tinggi. Tentu dengan pola ini, bagi daerah yang banyak pelanggannya otomatis diskon atau konpensasi yang diberikan kecil. Sebaliknya kalau sedikit pelanggannya konpensasinya besar,” papar Rahimudin.
Sementara, GM Pembangkitan Sumbagsel, Ir Prawoko menegaskan ke depan kelistrikan Sumsel bakal sedikit teratasi. Pasalnya, April 2010 masuk sistem IPP swasta Sarolangun, Jambi kapasitas 2 x 7 MW dan Talang Duren 34 MW. Selain, awal 2011 bakal masuk IPP Simpang Belimbing dengan kapasitas 2 x 113 MW dan Keban Agung sebesar 2 x 135 MW. “Sementara, untuk PLTU di Lampung kapasitas 2 x 100 MW baru akan masuk pada 2012 mendatang. Artinya untuk jangka menengah ini cukup banyak invest pembangunan pembangkit ke depan,” ungkap Prawoko. (22)
Sumatera Ekspres, Sabtu, 14 November 2009.













