Lantai Jembatan Ampera Retak

Diduga akibat Kuatnya Getaran

PALEMBANG Kondisi lantai Jembatan Ampera yang menghubungkan kawasan Seberang Ulu (SU) dan Seberang Ilir kota pempek ini memprihatinkan. Jembatan dengan lapisan aspal utama tersebut tampak mengalami keretakan dengan struktur memanjang pada sisi dan kanan jembatan arah ke SU.

Pantauan Sumatera Ekspres, keretakan terlihat sangat jelas. Khawatirnya jika dibiarkan berlarut-larut alias tak kunjung diperbaiki, jalu retak tersebut meluas. Bukan tidak mungkin dapat mengganggu stabilitas jembatan pampasan perang Jepang itu secara keseluruhan.

Kepala Satuan Kerja Pembangunan Jalan dan Jembatan Motropolitan Palembang, Ir H Aidil Fiqri MT mengaku sama sekali belum mengetahui kondisi retak pada lantai Jembatan Ampera tersebut. “Kalau secara kedinasan saya sama sekali belum terima laporan. Baru tahu dari Anda kalau itu retak. Yang pada malam ini (kemarin, red) saya bakal instruksikan petugas pembuat komitmen (PPK)-nya untuk mengecek keadaan sebenarnya,” tukas Aidil saat dikonfirmasi via ponsel kemarin (11/11).

Aidil sedikit memberikan analisis. Katanya, dari sudut pandang teknis, keretakan bisa diakibatkan beberapa kemungkinan. Utama lantaran kualitas aspal yang memang tidak sesuai dengan spesifikasi. “Kalau spesifikasi aspal yang tak sesuai itu jelas kita akan mintakan pertanggungjawaban kepada kontraktor pelaksana. Ini kan masih masa pemeliharaan,” imbuhnya.

Meski demikian, Aidil tak menampik bila keretakan semacam itu kerap terjadi. Penyebabnya jembatan yang dibangun tahun 1965 itu rawan terhadap getaran dan goyangan yang sering terjadi. “Kita akui selama ini sejumlah titik Ampera, sering retak. Itu karena getaran. Hanya, kemungkinan kalau itu terjadi pada bentangan di tengah justru karena bearing (perletakannya, red). Sama artinya harus segera diganti,” beber Aidil.

Khusus untuk pergantian bearing, tambah dia, sudah dianggarkan dalam APBN 2010. Hanya, perbaikan tidak bisa serta merta. Pasalnya, sejak awal berdiri hingga sekarang, bearing bentang tengah Ampera sama sekali belum pernah diganti. Apalagi, barangnya juga mesti terlebih dahulu dipesan dari Jepang. “Kendala yang kerap kita temui di lapangan biasanya masalah klise, ketiadaan dana. Makanya perbaikan juga dilakukan secara tambal sulam, tidak secara keseluruhan. Kalau ada yang retak aspalnya paling hanya dikupas sebagian kemudian ditutup lagi dengan aspal. Begitu selanjutnya,” bebernya lagi. (22)

Sumatera Ekspres, Kamis, 12 November 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png