Bersikap Menghadapi Musibah.
9 October 2009 Leave a comment
INDONESIA rawan bencana. Karena posisinya yang terletak di pertemuan dua lempeng samudera. Mau tak mau negeri ini harus meningkatkan kewaspadaannya. Apalagi semejak terjadinya gempa yang disertai terjadinya Tsunami di Aceh pada 2004 silam, seakan memicu aktifnya pergerakan lempeng di sepanjang Barat Pulau Sumatera melintang ke Selatan Pulau Jawa.
Sebagai seorang muslim kita berkeyakinan bahwa apa yang sedang melanda negeri kita Indonesia adalah musibah atas kehendak-Nya, meskipun segala sesuatu yang terjadi melalui perantara fenomena alam misalnya. Segala sesuatu yang dikendaki-Nya pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidaj akan terjadi.
Dalam pandangan Islam, musibah itu bisa merupakan cobaan, peringatan, bisa pula berupa adzab. Maka dari itu, marilah hendaknya kita bisa mawas diri dan merenung, adakah kaitan antara musibah tersebut dengan perilaku kita kita untuk kemudian kita perbaiki. Sebagaimana Allah telah sampaikan dalam QS Al-Baqarah : 155-156.
Bagi para korban, obat terbesar adalah bersabar. Tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. Karena meratap dengan bahasa yang menyayat pun tak akan merubah kondisi. Tak kan mengembalikan harta yang hilang, menghidupkan kembali kerabat yang meninggal. Bahkan meratap yang melebihi batas, sangat dilarang dalam Islam. Dari Abu Huraira RA, ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda, dua perkara yang dapat membuat manusia kufur, mencela keturunan dan meratapi mayat.” (HR. Muslim)
Dan bagi kita yang tidak terkena musibah, segera mawas diri. Siapa tahu giliran berikutnya adalah kita. Mungkin secara geologis, Palembang jauh dari jangkauan gempa. Namun, bencana lain tetap mengintai. Kebakaran besar, banjir, dan sebagainya. Tak usah menghakimi daerah yang sedang terkena gempa dengan hal-hal yang tak rasional. Seperti daerah siriklah, sebagai hukumanlah, atau yang lainnya. Karena yang berhak untuk menentukan status suatu kaum tengah diuji ataukah memang tengah dilaknat adalah prerogatif Allah.
Betapa ironisnya kita, menyiram luka para korban dengan cuka. Sudahlah kita tidak membantu, malah kita mengumpat dari jauh. Belum perih luka di badan, kita telah menggoreskan sakit hati mereka.
Mengapa kita bangga memberi status kepada orang lain, sedangkan kita sendiri belum tentu lebih mulia dari mereka. Kita mencela, padahal sesungguhnya diri kitalah yang membuat diri kita tercela di hadapan-Nya. Apa amal terbaik yang telah kita berikan untuk mereka para korban kebakaran di Kertapati dan gempa di Padang?
Wallahualam bish shawab.
Buletin Jum’at Insan Mulia
Edisi 266/Tahun V/09 Oktober 2009.








Komentar: