KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN.
5 August 2009 1 Comment
Drs. H. Ayik Ali Idrus
KATA Sya’ban berasal dari kata asy-sya’bi yang artinya jalan di gunung; jalan yang sangat banyak kebaikannya. Dari Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya rahmat Allah turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban, ke langit dunia, maka Allah memberikan ampunan lebih banyak daripada bilangan rambut kambing milik kafilah Kilab.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah dari Aisyah RA)
Bani Kilab secara khusus disebutkan, tidak lain mereka paling banyak penduduknya dan kambing-kambingnya daripada kafilah lain.
Arti hadits tersebut di atas ialah bahwasanya Allah Ta’ala pada malam itu menjadikan sifat keagungan-Nya yang oleh karenanya Dia berkuasa atas hamba-Nya dan membalas terhadap orang-orang yang melanggar perintah-Nya, menjadikan sifat kebaikan-Nya yang oleh karenanya Dia memberi rahmat dan ampunan.
Menurut riwayat dari Abi Ummah Al Bahili RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu di dalamnya.” Demikian pula Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berpuasa, sehingga Aisyah menduga beliau tidak akan berbuka, tetapi beliau juga selalu berbuka, sehingga Aisyah mengatakan beliau tidak berpuasa. Dan menurut keterangan Aisyah RA, bahwa kebanyakan puasa beliau adalah di dalam bulan Sya’ban.
Menurut An Nasa’i yang meriwayatkan hadits dari Usamah RA, bahwa Usamah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW : “Yaa Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan-bulan yang lain, seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda : “Itu adalah suatu bulan diantara Rajab dan Ramadhan, yang biasanya manusia lengah daripadanya. Sedangkan amal-amal ini diangkat kepada Tuhan seru sekalian alam di dalam bulan itu, maka aku suka, jika amalku diangkat (dilaporkan) ketika aku sedang di dalam keadaan puasa.”
Aisyah RA berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan penuh, kecuali di bulan Ramadhan. Dan akupun tidak pernah melihat beliau di bulan yang lain berpuasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” Di dalam suatu riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah SAW telah berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya. Tetapi Imam Muslim meriwayatkan, bahwa beliau telah berpuasa di bulan Sya’ban, kecuali sedikit. Dari dua riwayat ini menunjukkan, bahwa yang kedua menjelaskan riwayat yang pertama. Jadi yang dimaksud dengan kata “seluruhnya” adalah sebahagian besarnya.
Di dalam suatu keterangan disebutkan, bahwa malaikat-malaikat dilangit juga memiliki dua malam hari raya, sebagaimana orang-orang Islam di bumi memiliki dua malam hari raya. Hanya saja bedanya, malam hari raya malaikat adalah malam Bara’ah yaitu malam Nisfu Sya’ban disebut malam hari raya malaikat. As-Subki menguraikan dalam tafsirnya : “Sesunggunya malam Nisfu Sya’ban, malam menutup (menghapus) dosa-dosa setahun, sedangkan malam Jum’at menutup dosa-dosa seminggu dan malam Lailatul Qadar menutup (menghapus) dosa-dosa seumur hidup.” Dari uraian tersebut kita dapat mengambil pengertian, bahwa menghidupkan dan mengisi malam-malam tersebut dengan ibadah dapat menghapuskan dosa.
Malam Nisfu Sya’ban juga disebut malam takfir (menutup) dan malam kehidupan. Menurut Al Mundzir, yang meriwayatkannya dengan marfu’ menyebutkan : “Barangsiapa yang menghidupkan (mengisi) dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah, hatinya tidak akan mati pada saatnya hati-hati ini mati.” Dia juga disebut malam syafaat, sebagaimana diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW meminta syafaat untuk ummatnya kepada Allah SWT pada malam ketiga belas, lalu Allah memberikannya sepertiga. Beliau meminta lagi kepada-Nya pada malam keempat belas, lalu Allah SWT memberikannya pula dua pertiga, dan ketika beliau meminta lagi pada malam kelima belas, lalu Allah SWT memberikan seluruhnya, kecuali orang yang lari melepaskan (menghindari) diri dari Allah dengan melangsungkan perbuatan durhaka.
Selain itu, malam Nisfu Sya’ban disebut juga malam maghfirah dan malam kemerdekaan. Imam Ahmad meriwayatkan. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya pada malam setengah (Nisfu) Sya’ban, Allah nampak kepada hamba-hamba-Nya, lalu mengampuni dosa penghuni bumi, kecuali dua orang laki-laki, yaitu orang musyrik dan orang yang mendendam.”








Assalamu’alaikum
Terima kasih banyak ats informasi ni dan semoga Allah melimpah hidayah kepadanya.
Dengan informsi ini sy ingat kembali pnegtahuan sy ttg nispu Sya’abn yg dlm dlm setahun sy sdh mulai lupa akan keistimewaannya dan Insya Allah sy akan melaksanaknnya. Amiin