Arsip untuk Juli 31, 2009

MEMELIHARA AMAL.

http://iwandj.files.wordpress.com/2009/04/bismillah.gif

“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benang yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai….” (QS. An-Nahl : 92)

AYAT tersebut diatas menggambarkan perbuatan seorang wanita yang telah memintal benang menjadi kain dengan susah payah, hingga pada akhirnya pekerjaan itu menjadi sia-sia disebabkan karena hasil pekerjaannya tersebut diurai kembali, pekerjaan yang dilakukan berhari-hari bahkan berminggu-minggu rusak hanya dalam waktu sekejap saja. Demikian juga halnya amal perbuatan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan (berpuasa, Tilawatil Qur’an dan Qiyamullail), semuanya akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai apabila pada pasca Ramadhan nanti tidak kita jaga dan pelihara dengan sebaik-baiknya.

Perbuatan yang baik harus tetap kita lakukan setelah Ramadhan, sehingga kita dapat memetik manisnya buah Ramadhan. Nabi SAW berpesan : “Ada tiga macam akhlak/budi pekerti yang mulia yang tinggi nilainya disisi Allah SWT yaitu :
1. Memberikan maaf kepada orang yang menganiaya dirimu.
2. Membantu seseorang yang telah memutuskan pemberiannya kepadamu, dan
3. Membina hubungan baik dengan seseorang yang telah memutuskan hubungan.” (HR. Al-Khatib)

Pertama : Memberi maaf merupakan suatu perbuatan yang mulia, sebab perbuatan ini sangat berat untuk dilakukan. Tatkala seseorang itu disakiti oleh orang lain yang akan lahir adalah sakit hati dan dendam. Lalu dari dua sifat ini akan melahirkan permusuhan, dan akibat dari permusuhan inilah maka dapat menimbulkan rusaknya tatanan kehidupan.

Dendam itu laksana api yang akan membakar apapun, dan tidak akan berhenti apabila yang dibakarnya itu belum habis musnah. Karena besarnya akibat yang ditimbulkan oleh api kemarahan dan dendam, maka Allah berjanji kepada orang-orang yang mampu menahan amarah dan suka memberi maaf dengan janji syurga. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ; 133-134 yang artinya : “Syurga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang berinfaq dikala lapang dan sempit, mereka yang menahan marah dan mereka yang pemaaf dengan sesama manusia, dan Allah suka terhadap orang-orang yang gemar berbuat kebaikan.”

Sekiranya ummat Islam mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut, niscaya kehidupan ini akan menjadi damai. Dan sebenarnya ruh atau nilai inti daripada puasa adalah kemampuan menahan diri dari sifat amarah dan membangun sifat pemaaf. Sesungguhnya Allah akan memberikan kemulian kepada orang-orang yang pemaaf. Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya : “Tidaklah seseorang yang selalu suka memaafkan itu melainkan Allah akan menambah kemuliannya.” (HR. Muslim)

Dapat kita simpulkan bahwa memaafkan orang yang memusuhi kita, (tatkala) ketika kita mampu untuk membalasnya adalah suatu perbuatan yang sangat baik dan bernilai sangat tinggi disisi Tuhan dan bahkan menambah tingginya martabat dan derajat kita dalam pandangan manusia.

Kedua : Kebanyakan orang, hanya memberi kepada orang-orang yang telah berjasa kepadanya. Sementara bagi orang yang tidak punya jasa maka kemungkinan besar jauh dari jangkauan pemberian atau pertolongannya, karena inilah maka lahirlah istilah ada jasa maka ada harganya. Apabila tradisi ini yang ditumbuh suburkan maka bisa dipastikan akan hilanglah suatu pemberian atau pertolongan yang didasarkan kepada Allah SWT. Maka hilanglah pula suatu pemberian yang didasarkan pada kasih sayang, hanya orang-orang yang dermawanlah yang mereka memberi tanpa pamrih untuk mendapat balasan dari pemberian, selain mengharap keridhoan dari Allah SWT.

Kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, mak barang siapa yang mengutamakan orang lain adalah setinggi-tinggi kedermawanan. Sifat mementingkan orang lain dan mengalahkan diri sendiri juga dimiliki oleh para sahabat Nabi SAW. Maka Allah memuji mereka sebagaimana firman-Nya : “Mereka (sahabat-sahabat Nabi) itu mengalahkan diri mereka sendiri sekalipun mereka itu dalam keadaan kekurangan.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa manifestasi orang yang menganut agama Islam akan tampak dalam kehidupan, oleh sikap bermurah hati dan berakhlak baik, umat Islam diharapkan menjaga dan memelihara kedua sikap hidup itu dan selalu berusaha meningkatkannya.

Ketiga : Silaturrahmi adalah merupakan alat untuk membentuk persaudaraan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam, maka siapa saja yang berusaha menghidupkannya berarti mereka adalah orang-orang yang menghidupkan dan membangun ajaran Islam.
LANJUT –>

Komentar (2)

Sambut Ramadhan Sekolah Libur 3 Hari.

PALEMBANG, SRIPO Menyambut bulan Ramadhan 1430 Hijriah, Disdikpora Palembang menerbitkan edaran tentang mekanisme belajar dan libur. Sekolah diwajibkan meliburkan siswa selama tiga hari. Satu hari sebelum puasa dan dua hari pasca puasa.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang, H Hatta Wazol melalui Kabid Pembinaan SMA/SM, Drs Riza Fahlevi mengatakan aturan dibuat sesuai surat edaran Kepala Dinas yang mengacu pada rambu-rambu penyusunan kalender pendidikan. Ia mengatakan himbauan itu masih sebatas teknis pelaksanaan semata. Sementara kapan tanggal kepastian jatuhnya bulan Ramadhan masih menunggu keputusan dari Depag. “Pokoknya saat Depag memutuskan tanggal berapa puasa, berarti siswa sudah libur satu hari sebelum puasa dan dua hari sesudah, totalnya tiga hari,” kata Riza kepada wartawan, kamis (30/7) di ruang kerjanya.

Khusus untuk libur Syawal atau lebaran, kata Riza, ditentukan enam hari sebelum lebaran dan enam hari sesudahnya. Sementara untuk jadwal sekolah akan dikurangi 10 menit tiap pelajaran. Misal satu jam pelajaran menghabiskan 45 menit berarti selama puasa satu jam diperpendek menjadi 35 menit. Waktu istirahat juga akan dikurangi. Dalam kondisi normal dua kali istirahat maka selama puasa juga dipersingkat satu kali istirahat. “Dengan ini, berarti siswa pulangnya lebih cepat dari hari biasa,” kata Riza.

Sedangkan untuk pelajaran, dia menambahkan, kegiatan yang bersifat fisik seperti olahraga agar diganti dengan teori dalam ruangan serta memperbanyak kegiatan yang bersifat keagamaan, untuk mempertebal nilai keimanan seperti pengajian, zakat, shodaqoh dan lainnya. “Saya himbau agar kegiatan difokuskan kepada peningkatan imtaq dengan tetap menjaga toleransi antar siswa yang berlainan agama saat menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan,” ujarnya.

Selama bulan Ramadhan, lanjut Riza, dihimbau agar sekolah mengedepankan kegiatan keagamaan, seperti tadarus yang bertujuaan untuk peningkatan iman dan taqwa. Sedang untuk kegiatan yang bersifat muhasabbah atau renungan suci agar selektif dipakai. Artinya jika tak penting-penting sebaiknya dihindari. “Silakan muhasabah, namun jangan sampai tujuan baik, malah terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Sriwijaya Post — 30 Juli 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png