Arsip untuk Juli 28, 2009

GOR Kampus Layak untuk SEA Games.

PALEMBANG Gedung Olahraga Sriwijaya di Jl POM IX yang lebih dikenal dengan sebutan GOR Kampus dan sekitarnya termasuk kolam renang Lumban Tirta dianggap layak untuk even besar seperti SEA Games. Hal ini disampaikan Pengurus Besar (PB) Persatuan Aerobik Seluruh Indonesia (Persani) usai meninjau lokasi perhelatan cabor Senam SEA Games 2011, Selasa (28/7).

Komisi Teknik Aerobic Gymnastic PB Persani, F D Jovita Respati menyatakan setelah melakukan peninjauan ke lokasi bersama Wasit I PB Persani, Sugito Adiwarsito, di Palembang. Peninjauan ini, merupakan bagian dari persiapan Pemerintah Provinsi Sumsel untuk menjadi tuan rumah delapan cabor SEA Games 2011. “GOR Kampus memenuhi syarat untuk dijadikan pertandingan berskala internasional,” ujarnya.

Ditegaskan Jovita, GOR Kampus telah memenuhi kriteria antara lain, tempat pertandingan yang luas, adanya tribun penonton, dan tersedianya ruang pertemuan. Selain itu, lokasi venue ini juga relatif dekat dengan beberapa hotel bintang empat yang kemungkinan besar akan menjadi penginapan atlet dan ofisial tim. Lokasinya sangat strategis,” katanya.

Sriwijaya Post — Selasa, 28 Juli 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Bayi Berkepala Dua Meninggal Secara Bergantian

PEKANBARU Tim dokter RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Riau, menyatakan bahwa bayi berkepala dua meninggal secara bergantian akibat disfungsi organ vital. “Kematian bayi disebabkan kegagalan fungsi organ vital seperti jantung dan paru-paru,” kata juru bicara tim dokter RSUD Arifin Achmad pada jumpa pers di Pekanbaru, Selasa.

Menurut Tubagus Odih, dua individu yang berada dalam satu badan itu telah menghebuskan nafas terakhir bersamaan diruang Perimatologi RSUD Arifin Achmad.

Berdasarkan rekam medis, ujarnya, bayi sebelah kiri dari posisi pasien adalah yang pertama kali meninggal pada pukul 01.33 WIB. Berselang dua menit kemudian, tepatnya pukul 01.35 WIB, nyawa bayi lainnya akhirnya juga tak dapat tertolong lagi. Pihak RSUD Arifin Achmad mengabarkan berita duka tersebut kepada Badrun, ayah bayi, yang menunggu anaknya di rumah sakit sekitar pukul 02.00 WIB.

“Kami sudah beberapa kali melakukan berbagai tindakan untuk memperbaiki kualitas hidup terutama pada fungsi organ vital, namun nyawa bayi sudah tidak tertolong lagi,” katanya.

Dokter spesialis bedah anak itu menjelaskan, bayi beberapa kali mengalami penurunan kualitas hidup sangat drastis yang sempat diantisipasi oleh tim dokter sebelum akhirnya bayi meninggal dunia.

Kondisi bayi asal Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) itu pertama kali diketahui memburuk pada pukul 18.30 WIB, ditandai dengan kadar oksigen di darah anjlok hingga tinggal 62 persen dari kadar normal 95-100 persen.

Bayi sebelumnya memang mengalami gangguan pernafasan akibat kekurangan kadar oksigen sejak dirawat di RSUD Pekanbaru, sehingga memerlukan alat bantu pernafasan khusus (CPAP) untuk tetap bertahan hidup.

Tubagus Odih mengatakan, kondisi sangat kritis tersebut sempat berhasil ditanggulangi tim dokter, yang berhasil meningkatkan kadar di tubuh bayi hingga 82 persen. Namun, sekitar satu jam kemudian kondisi bayi kembali memburuk dan dokter juga mengidentifikasi terdapat penurunan kadar trombosit di darah. “Kami memasukan darah sebanyak 50 cc kepada bayi untuk menstabilkan trombosit. Itu sebabnya kami membutuhkan darah hingga tujuh kantong yang juga dipersiapkan sebagai cadangan sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi kritis bayi terjadi secara fluktuatif hingga denyut jantung keduanya melemah dan akhirnya meninggal dunia pada pukul 01.35 WIB.

Bayi berkepala dua merupakan anak pertama dari pasangan Badrun (33) dan Nurhayati (23), warga RT 3 Desa Belantara Raya, Kecamatan Gaung, Inhil. Bayi yang belum sempat diberi nama oleh orangtuanya itu sebelumnya dilahirkan dengan selamat di RSUD Puri Husada di Tembilahan, Ibukota Inhil, melalui operasi caesar pada Kamis malam (23/7) sekitar pukul 20.45 WIB. Saat lahir, bayi memiliki bobot 3.200 gram, dengan panjang 43 sentimeter.

Sriwijaya Post — 28 Juli 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Lagi, Gempa Goyang Pagaralam.

PAGARALAM Gempa tektonk berkekuatan 6,1 skala Richter (SR) menggoyang Pagaralam, Senin (27/7) pukul 06:10:25 WIB. Gempa yang berpusat di Bintuhan Bengkulu ini sempat membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Untungnya gempa tak menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kepahyang Bengkulu, Dadang Pratama didampingi Operator Gempa Irwan mengatakan, gempa tersebut terjadi pada titik koordinat 4,92 LS dan 102,73 BT. “Pusat gempa tak berpontensi menimbulkan tsunami dan kerusakan meskipun cukup kuat getarannya, itu berada pada 73 km barat daya Bintuhan Bengkulu dengan kedalaman 57 km,” paparnya yang dihubungi via telpon.

Kepala Pos Pemantau Gunung Api Dempo Slamet didampingi stafnya Mulyadi, mengatakan, hingga saat ini tak ada gempa susulan dan belum ada pengaruh terhadap kondisi Dempo. (44)

Sumatera Ekspres, Selasa, 28 Juli 2009.

Komentar (1)

  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png