SUDIRMAN – Hampir 90 persen titik api (hot spot) yang terpantau melalui satelit posko kebakaran hutan Dinas Kehutanan (Dishut) Sumsel mulai tersebar di beberapa daerah. Jumlah titik api tersebut didominasi akibat pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar. Namun titik api itu belum menyentuh ke titik lahan gambut.
Berdasarkan data jumlah hot spot di Sumatera Selatan (Sumsel) tercatat pada 21 Juli 2009, ada sebanyak 51 titik api tersebar di daerah Ogan Ilir sebanyak 5 titik, kemudian Ogan Komering Ulu (OKU) 2 titik, Musi Rawas (Mura) 26 titik, Musi Banyuasin (Muba) 8 titik, Banyuasin 1 titik, dan terakhir Muara Enim 9 titik.
Hot spot tersebut mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan data yang tercatat pada 20 Juli sebanyak 7 titik. Tersebar di Palembang 1 titik, Ogan Komering Ilir (OKI) 2 titik, OKU 1 titik, MURA 1 titik, serta Muara Enim 2 titik. Perbedaan ini artinya, hot spot cenderung berfluktuasi.
“Sekarang titik api sudah mengalami peningkatan, terhitung Mei sebanyak 126 titik. Sedangkan Juni sebanyak 174 titik, dan Juli hingga dengan saat ini (21/7) sebanyak 51 titik api yang terpantau. Tapi, jumlah ini fluktuatif. Karena belakangan ini masih adanya hujan yang turun,” jelas Sekretaris Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengendalian Kebakaran Hutan Dishut Sumsel, Ahmad Taufik, kemarin (22/7).
Tapi, sambung dia, hot spot saat ini masih dikatakan titik api. Artinya, jumlahnya tersebar dan tidak begitu banyak dalam satu wilayah. Sebaliknya, bila dalam satu hari di tempat yang sama lebih dari 100 titik dinamakan titik panas (hot spot). Nah, titik api yang terpantau saat ini masih di luar kawasan hutan.
“Puncak hot spot terjadi pada Agustus dan September. Dikarenakan berdasarkan prediksi dari pihak BMG, Agustus dan September mulai terjadi kekeringan akibat kemarau. Kita telah lakukan upaya pencegahan antisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui sosialisasi,” bebernya.
Selain mengaktifkan posko, Dishut juga telah menjalankan patroli rutin antisipasi kebakaran hutan dan lahan. “Kita telah menggerakkan satu unit mobil pembawa air. Satu lagi pembawa alat-alat keperluan di beberapa kawasan di Palembang, yakni wilayah Bandara dan Tanjung Api-Api,” terangnya. (mg27)
Sumatera Ekspres, Kamis, 23 Juli 2009.













