Drs Ishak Shafar
Staf Pendidik pada SMP Negeri 52 Palembang
ISTIQOMAH ialah teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal shaleh. Dalam Islam, istiqomah tidak dapat dipisahkan dari iman, Islam dan amal shaleh. Disebut demikian karena iman, Islam dan amal shaleh menjadi tidak ada artinya tanpa istiqomah. Orang yang mengaku beriman, mengaku muslim terkadan beramal shaleh tapi tidak istiqomah, munafiq dan fasiq namanya.
Karena itu Rasulullah SAW berpesan : “Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah pada keyakinan kalian. Ketahuilah, tidak ada seorang pun di antar kalian yang selamat karena amal perbuatan.” Para sahabat bertanya : “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.”
Salah seorang sahabat, Aby Amrah Sofyan bin Abdullah ra berkata, “Saya berkata kepada Rasulullah SAW : Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak akan bisa menanyakannya kepada orang lain selain engkau.” Beliau menjawab : “Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian teguhlah kamu dalam pendirian itu.” (HR Muslim)
Jadi istiqomah bukanlah sekedar pengakuan apalagi amalan sesaat melainkan ada pada “keteguhan.” Teguh dalam iman, Islam dan termasuk teguh dalam amal shaleh. Artinya, kalau kita sering dihadapkan pada kenyataan di mana sebagian besar ummat Islam berusaha menjadi orang shaleh pada bulan Ramadhan misalnya. Tapi usaha menjadi orang shaleh itu pudar kembali usai Ramadhan pergi, ini namanya tidak istiqomah dalam amal shaleh.
Ketika Ramadhan banyak orang yang terkendali emosinya, terkendali tutur katanya, sopan sikapnya, ditutup auratnya, berkembang kasih sayangnya terhadap orang lain, berkurang rakusnya, berkurang cintanya pada duniawi, meningkat kesadarannya bahwa manusia hanyalah hamba yang tidak punya apa-apa di sisi-Nya, dan lain-lain. Kenyataan ini bagus tapi menjadi tidak bagus jika berjalan hanya satu bulan dari dua belas bulan atau dengan kata lain tidak istiqomah.
Berkata kotor, bohong, mengumpat, memfitnah dan seterusnya, kata Rasulullah SAW, menjadi pembatal puasa. Tapi larangan berkata kotor, berbohong, mengumpat, memfitnah dan seterusnya itu berlaku kapan pun dan di mana saja. Demikian pula perintah beramal shaleh juga berlaku kapanpun dan di mana saja (tidak terbatas oleh ruang dan waktu). Karena Islam itu rahmatan lil alamin, membawa rahmat bagi seluruh alam.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah.” Kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal didalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf : 13-14)
Ayat ini menjelaskan bahwa istiqomah menjadi sebab orang masuk surga dan kekal di dalamnya. Hal ini terlihat dari kalimat “mereka (orang istiqomah) itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” Sebaliknya orang yang labil, tidak konsisten dan tidak teguh pendirian dalam aqidah, iman, Islam dan termasuk beramal shaleh, tidak disebut penghuni surga apalagi kekal di dalamnya.
Para Nabi dan Rasul umpamanya, mereka terkemuka di tengah manusia terutama di depan Allah SWT. Bukan karena mereka beriman dan beramal shaleh semata. Lebih dari itu para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang memiliki keteguhan dalam iman dan amal shaleh tadi. Contohnya Nabi Ibrahim As, sebagai seorang Nabi jelas beliau manusia pilihan Allah SWT. Setelah menjadi Nabi, oleh Allah SWT disebut “At-Tahozallahu Ibrohiima holiilan.” Allah mengambil Ibrahim sebagai Nabi kesayangan-Nya (QS An-Nisa’ 125).
Pertanyaannya, mengapa setelah menjadi Nabi disebut pula dengan sebutan holiilullah (kesayangan Allah)? Tanpa bermaksud mengatakan Nabi-Nabi lain tidak teguh pendirian, Ibrahim itu istiqomah. Dan ke-istiqomahan beliau berkali-kali diuji oleh Allah dan ditunjukkan Ibrahim As. Misalnya, Ibrahim ikhlas berpisah dari bapaknya (Azar) karena Allah. Ibrahim dicemplungkan ke dalam api yang membara oleh raja Namruz karena Allah, dan Ibrahim pun dengan tulus mau mengorbankan putranya Ismail juga karena Allah, dan seterusnya. Sebagai orang tua, Ibrahim sangat sayang pada putranya, tapi bagaimana pun sayangnya kepada anak termasuk pada yang lain, Allah SWT tetap nomor satu, inilah istiqomah.
Sriwijaya Post — Jumat 15 Mei 2009.













