Pemimpin Menurut Islam (2/2).

Abu Bakar As Siddiq menegaskan dalam menegakkan keadilan ini bahwa orang yang lemah harus dibela dan dilindungi, orang-orang yang kuat tidak boleh berlaku kejam dan sewenang-wenang. Sayyidina Ali r.a, setiap melantik pejabat selalu selalu memberikan nasehat ingatlah Allah selalu dalam perlakuanmu terhadap rakyat yang berada pada tingkat terbawah. Terutama mereka yang lemah tak berdaya, kaum fakir miskin dan mereka yang dipaksa oleh kebutuhan. Orang-orang yang sengsara dan penderita cacat, mereka yang meminta-minta dan yang selalu mengharapkan pemberian.

Rendahkan sayapmu bagi rakyatmu, lunakkan sikapmu untuk mereka, cerahkan wajahmu dihadapan mereka, jangan membedakan perlakuanmu terhadap mereka walaupun dalam lirikan dan pandangan mata. Sehingga orang-orang penting tidak timbul keserakahannya. Mengharap uluran tangan demi kepentingan mereka, dan kaum lemah tidak menjadi putus asa akan keadilanmu demi membela nasib mereka. Allah akan menuntut pertanggungjawabanmu atas segala perbuatanmu yang besar maupun yang kecil, yang tampak maupun yang tersembunyi.

5. Konsisten Dan Demokratis Dalam Berjuang

Dalam suatu perjuangan menegakkan cita-cita kebenaran dan keadilan pasti akan dihadapkan pada tantangan dan halangan, maka pemimpin dituntut untuk tetap istiqomah dalam beramal ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran).

Mundur dari medan juang adalah perbuatan aniaya apalagi hal ini dilakukan oleh seorang pemimpin. Sikap percaya diri dan yakin terhadap pertolongan Allah harus menjadi landasan kuat dalam dirinya. Firman Allah SWT yang artinya : “Apabila engkau telah bulat tekad, maka bertaqwalah kepada Allah karena sesunggunya Allah cinta kepada mereka yang tawakal.” (QS. Ali Imran : 59)

Kemudian didalam menjalankan tanggung jawabnya para pemimpin dituntut untuk menempatkan azas musyawarah sebagai bagian penting. Mereka haruslah mengabdikan dirinya untuk kepentingan misi rakyat yang dipercaya dipundaknya, bukan untuk mengejar ambisi memenuhi kepentingan pribadinya. Karena itu Allah SWT memerintahkan agar segala urusan itu diselesaikan dengan jalan musyawarah. Firman Allah SWT, artinya : “Dan mereka diperintah agar urusan mereka diselesaikan dengan jalan musyawarah.” (QS. As Syura : 38)

Saudara-saudaraku muslim marilah kita camkan beberapa pesan sahabat Ali Bin Abi Thalib :

Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya ia mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lidahnya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati daripada mengajari orang lain.

– Bergaullah dengan cara mengundang rapat tangis-tangis orang bila kau meninggal dunia dan teriaklah simpati mereka selama kamu hidup bersama mereka.

Demikian renungan Jum’at kali ini semoga kita dapat mentauladani dalam membangun dan mewujudkan ketaqwaan umat, mari kita mewujudkan Palembang Kota Internasional Sejahtera Berbudaya 2013.

<– Sebelum

BULETIN JUM’AT
EDISI I TAHUN I/12 RAJAB 1430 H/03 JULI 2009 M
Diterbitkan oleh Pemerintah Kota Palembang
Bekerjasama dengan MUI Kota Palembang.

Tinggalkan sebuah Komentar

  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png