
“Setiap kamu (orang) adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpin, dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Seorang laki-laki (suami) menjadi pimpinan keluarga dan dia bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang wanita (istri) menjadi pimpinan dalam rumah tangganya itu. Seorang pembantu menjadi pimpinan (pemelihara) harta benda tuan/majikannya dan bertanggung jawab memeliharanya. Seorang anak menjadi pimpinan atas harta benda orang tuanya dan bertanggung jawab atas hal itu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Dari pernyataan hadits di atas betapa Allah telah menempatkan manusia sebagai makhluk terhormat dan terpilih. Terpilih menjadi subyek/pemeran utama dalam mengatur dan mengendalikan dunia bagaimana menjadi tempat yang membawa kesejahteraan dan kedamaian. Oleh karena itulah setiap pemimpin dituntut mempertanggungjawabkan kedudukannya.
Menurut bahasa Islam pemimpin memiliki beberapa sebutan yaitu ; imam, Ro’is, Ro’in yang berarti pemimpin/pemuka. Namun Rasulullah SAW pada pihak lain mengatakan bahwa pemimpin itu adalah pengembala/pelayan sebagaimana sabdanya ; “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan dari kelompok tersebut.” Ini mengisyaratkan pemimpin bukan penguasa tapi pemimpin adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap kemakmuran rakyatnya.
Sedangkan menurut istilah pemimpin adalah anggota dari suatu perkumpulan yang diberi kedudukan tertentu dan bertindak sesuai kedudukannya.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas maka antara pemimpin dengan kelompok yang dipimpin terikat kesetiaan kepada Allah. Karena mengingat besarnya tanggungjawab menjadi pemimpin didalam lingkungan masing-masing sesuai dengan ruang lingkup dan daerah kekuasaan masing-masing, maka syariat Islam menetapkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Rendah hati (Tawadhu’)
Dalam hal ini khalifah Abu Bakar Siddiq mengatakan bahwa pada hakikatnya kedudukan pemimpin itu tidak berbeda dari pada rakyat biasa. Bukan karena ia orang istimewa, supermen. Tapi hanya sekedar orang yang didahulukan selangkah, yang mendapat kepercayaan dan bantuan orang banyak. Maka tidaklah pantas jika memiliki sifat sombong, congkak, takabur. Karena diatas pundaknya terpikul satu tanggung jawab yang besar dan berat terhadap apa yang dipimpinnya, lebih-lebih lagi terhadap Allah SWT. Untuk itulah mereka membutuhkan pikiran dan bantuan orang lain. Oleh karena itu dengan sifat rendah hati yang dimiliki mereka akan mendapat simpati dan dukungan dari orang banyak.
2. Terbuka Menerima Koreksi
Setiap pemimpin memerlukan dukungan dan partisipasi dari bawahan yang dipimpinnya. Betapapun hebatnya ilmu dan keahlian yang dimiliki mereka tidak akan bisa melaksanakan tugasnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh sebab itu seorang pemimpin harus terbuka untuk menerima kritik, sepanjang kritik itu sehat dan membangun. Rasulullah SAW menganjurkan agar berani menyampaikan kebenaran sekalipun kepada pemimpin apabila mereka berbuat dzalim. Beliau mengatakan bahwa pekerjaan tersebut adalah seutama-utama jihad.
3. Amanah Dan Jujur
Amanah adalah sifat yang dipercaya dan memelihara kepercayaan. Agama Islam mewajibkan kepada setiap muslim/muslimah agar memelihara/menjaga amanah. Jabatan/kedudukan, kekuasaan merupakan barang titipan karena itu harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya jabatan atau kekuasaan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia merupakan hinaan dan penyesalan bagi yang memegangnya, kecuali orang yang menerima dan menunaikan secara haq.” (HR. Muslim)
4. Berlaku Adil
Yang dimaksud dengan adil adalah meletakkan suatu urusan sesuai tempatnya atau menimbang dan memperlakukan sesuatu dengan cara yang sama dan serupa, tidak terpancing, tidak berat sebelah. Lawan daripada adil adalah dzalim yaitu bertindak sewenang-wenang. Agama Islam menempatkan urusan keadilan ini pada tempat yang amat esensial dan strategis. Firman Allah SWT yang artinya : “Sesungguhnya Allah memerintahkan menegakkan keadilan dan berbuat baik.” (QS. An-Nahl : 90)














imi surya putera berkata
“Taatlah kepada Allah, kepada RasulNya, dan Ulil Amri (bukan Ulatul Amr) diantara kamu.”
Ulil Amr disini berarti Umaro atau pemimpin, yang berarti laki-laki, bukan perempuan (Ulatul Amr). Kemudian, “Arrijalu kawwamuna alannisa”, laki-laki adalah pemimpin kaum wanita. Sudah jelas dan nyata pemimpin menurut Islam adalah seorang “laki-laki”. Dan ini wajib dipatuhi dan ditaati, tak perlu tawar menawar lagi.
Mereka yang mengaku Islam tapi membolehkan Presiden dari seorang perempuan, perlu menyimak nash Qur’an tersebut.
Syarat ini dulu yang perlu dipenuhi sebelum menuju syarat2 lainnya. Makanya Allah memilih semua Rasul (bukan Nabi) dari kalangan laki-laki, ini agar kita umat Islam menjadi “la allakum ya tafakkarun”.
Cukuplah wanita jadi Ratu dalam rumah tangga suaminya, bukan jadi Ratu dalam sebuah negara yang mempertaruhkan banyak kepentingan umat. Dengan jadi Ratu saja dalam rumah tangga, Islam sudah menempatkan wanita dalam derajat yang sangat amat terhormat.
Salam dari tenggara kalimantan, ingin posting yang berbeda mengenai Islam, mari mampir di http://www.imisuryaputera.co.nr