
“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benang yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai….” (QS. An-Nahl : 92)
AYAT tersebut diatas menggambarkan perbuatan seorang wanita yang telah memintal benang menjadi kain dengan susah payah, hingga pada akhirnya pekerjaan itu menjadi sia-sia disebabkan karena hasil pekerjaannya tersebut diurai kembali, pekerjaan yang dilakukan berhari-hari bahkan berminggu-minggu rusak hanya dalam waktu sekejap saja. Demikian juga halnya amal perbuatan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan (berpuasa, Tilawatil Qur’an dan Qiyamullail), semuanya akan menjadi sia-sia dan tidak bernilai apabila pada pasca Ramadhan nanti tidak kita jaga dan pelihara dengan sebaik-baiknya.
Perbuatan yang baik harus tetap kita lakukan setelah Ramadhan, sehingga kita dapat memetik manisnya buah Ramadhan. Nabi SAW berpesan : “Ada tiga macam akhlak/budi pekerti yang mulia yang tinggi nilainya disisi Allah SWT yaitu :
1. Memberikan maaf kepada orang yang menganiaya dirimu.
2. Membantu seseorang yang telah memutuskan pemberiannya kepadamu, dan
3. Membina hubungan baik dengan seseorang yang telah memutuskan hubungan.” (HR. Al-Khatib)
Pertama : Memberi maaf merupakan suatu perbuatan yang mulia, sebab perbuatan ini sangat berat untuk dilakukan. Tatkala seseorang itu disakiti oleh orang lain yang akan lahir adalah sakit hati dan dendam. Lalu dari dua sifat ini akan melahirkan permusuhan, dan akibat dari permusuhan inilah maka dapat menimbulkan rusaknya tatanan kehidupan.
Dendam itu laksana api yang akan membakar apapun, dan tidak akan berhenti apabila yang dibakarnya itu belum habis musnah. Karena besarnya akibat yang ditimbulkan oleh api kemarahan dan dendam, maka Allah berjanji kepada orang-orang yang mampu menahan amarah dan suka memberi maaf dengan janji syurga. Sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ; 133-134 yang artinya : “Syurga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa, yaitu mereka yang berinfaq dikala lapang dan sempit, mereka yang menahan marah dan mereka yang pemaaf dengan sesama manusia, dan Allah suka terhadap orang-orang yang gemar berbuat kebaikan.”
Sekiranya ummat Islam mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut, niscaya kehidupan ini akan menjadi damai. Dan sebenarnya ruh atau nilai inti daripada puasa adalah kemampuan menahan diri dari sifat amarah dan membangun sifat pemaaf. Sesungguhnya Allah akan memberikan kemulian kepada orang-orang yang pemaaf. Dalam sebuah hadits disebutkan yang artinya : “Tidaklah seseorang yang selalu suka memaafkan itu melainkan Allah akan menambah kemuliannya.” (HR. Muslim)
Dapat kita simpulkan bahwa memaafkan orang yang memusuhi kita, (tatkala) ketika kita mampu untuk membalasnya adalah suatu perbuatan yang sangat baik dan bernilai sangat tinggi disisi Tuhan dan bahkan menambah tingginya martabat dan derajat kita dalam pandangan manusia.
Kedua : Kebanyakan orang, hanya memberi kepada orang-orang yang telah berjasa kepadanya. Sementara bagi orang yang tidak punya jasa maka kemungkinan besar jauh dari jangkauan pemberian atau pertolongannya, karena inilah maka lahirlah istilah ada jasa maka ada harganya. Apabila tradisi ini yang ditumbuh suburkan maka bisa dipastikan akan hilanglah suatu pemberian atau pertolongan yang didasarkan kepada Allah SWT. Maka hilanglah pula suatu pemberian yang didasarkan pada kasih sayang, hanya orang-orang yang dermawanlah yang mereka memberi tanpa pamrih untuk mendapat balasan dari pemberian, selain mengharap keridhoan dari Allah SWT.
Kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, mak barang siapa yang mengutamakan orang lain adalah setinggi-tinggi kedermawanan. Sifat mementingkan orang lain dan mengalahkan diri sendiri juga dimiliki oleh para sahabat Nabi SAW. Maka Allah memuji mereka sebagaimana firman-Nya : “Mereka (sahabat-sahabat Nabi) itu mengalahkan diri mereka sendiri sekalipun mereka itu dalam keadaan kekurangan.” (QS. Al-Hasyr : 9)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa manifestasi orang yang menganut agama Islam akan tampak dalam kehidupan, oleh sikap bermurah hati dan berakhlak baik, umat Islam diharapkan menjaga dan memelihara kedua sikap hidup itu dan selalu berusaha meningkatkannya.
Ketiga : Silaturrahmi adalah merupakan alat untuk membentuk persaudaraan yang didasarkan pada nilai-nilai Islam, maka siapa saja yang berusaha menghidupkannya berarti mereka adalah orang-orang yang menghidupkan dan membangun ajaran Islam.
LANJUT –>













