Proyek Tahunan Pengerukan Sungai Musi.
28 June 2009 Leave a comment
Menjadi Kebutuhan, 13 Titik Rawan
Foto : H Dulmukti Djaja/Sumeks
PENDANGKALAN yang terjadi akibat tingginya sedimentasi juga menghantui pelayaran di sungai sepanjang 68 mil atau sekitar 106 km. Meski tiap tahun dikeruk, namun tingginya pengendapan selalu terjadi. Imbasnya, jalur pelayaran dari ambang luar Sungai Musi ke Pelabuhan Boom Baru Palembang menjadi terganggu.
Setidaknya, ada 13 titik rawan sedimentasi di sepanjang alur Sungai Musi. Volume endapan sendiri bisa mencapai 1,5-1,8 juta meter kubik tiap tahunnya. Dari 13 titik tersebut, 4 titik masuk kategori sangat rawan karena pendangkalannya mencapai 4 meter. Lokasi yang cukup rawan di C2 dan C3– -Pulau Payung bagian Utara dan Muara Jaran- –. Lokasi yang pendangkalan paling parah di ambang luar, Muara Selat Jaran, dan perairan bagian selatan Pulau Payung. Panjang sedimentasi di sana mencapai tujuh kilometer.
Kedalaman alur Sungai Musi saat ini berkisar 4-6 meter. Bagi kapal-kapal kecil dengan bobot 5000 GRT (Gross Register Tonnage) itu, bukan masalah. Namun, kendala tersebut berlaku bagi kapal-kapal bertonase di atas 5000 GRT. Mereka tentu kesulitan untuk merapat lebih jauh ke ilir Sungai Musi, terutama mendekati dermaga Pelabuhan Boombaru Palembang.
Belum lagi pasang surut air Sungai Musi bergantung pada pasang surut air laut sekitar 6 jam. Sejak 1960-an, pengerukan (dredging) alur Sungai Musi pun dilaksanakan. Hingga sekarang, proyek tersebut tetap jalan. Tujuannya untuk menjaga agar kedalaman alur Sungai Musi yang menjadi urat nadi Kota Palembang dan beberapa kabupaten/kota tetap terjaga. Kepala Administrator Pelabuhan (Adpel) Palembang, Sugiono mengatakan, tahun ini telah direncanakan kembali pengerukan alur Sungai Musi. “Hanya saja, dananya dari pusat belum cair. Kita masih menunggu.” ungkapnya, kepada Sumatera Ekspres, kemarin.
Ia mengatakan, proyek pengerukan sudah menjadi program kerja tahunan Adpel Palembang. Sayangnya, soal besaran dana yang diperlukan untuk pengerukan tahun ini, Sugiono mengaku tidak mengetahuinya secara persis. “Pastinya, Sungai Musi menjadi satu dari beberapa sungai yang tingkat sedimentasinya tinggi. Karena itu, setiap tahun perlu dilakukan pengerukan.”
Sedimentasi ini, kata Sugiono, memang karakteristik Sungai Musi. Salah satunya karena pertemuan arus Sungai Musi dengan arus laut pada selat Bangka. Penyebab kedua, akibat erosi tanah di bagian hulu lantaran penebangan liar yang dilakukan warga Sumsel sendiri. “Karena pepohonan ditebang terus, tanah tergerus hingga terjadilah erosi. Nah, tanah bercampur lumpur itu yang menambah tinggi sedimentasi di alur Sungai Musi,” jelasnya.
Pengerukan alur Sungai Musi sendiri berkaitan erat dengan aspek ekonomi bagi aktivitas masyarakatnya. Bila tidak dilakukan, tentunya kapal-kapal besar dari luar Sumsel bahkan luar negeri tidak dapat masuk ke ilir lebih jauh. Imbasnya, kegiatan perekonomian dipastikan terganggu. Secara finansial, upaya pengerukan Sungai Musi tiap tahunnya memang memerlukan anggaran dana yang besar. “Jadi, tidak bisa dibandingkan besarnya finansial untuk pengerukan dengan kebutuhan agar perekonomian Sumsel melalui Sungai Musi tetap berjalan,” kata Sugiono lagi. Soal teknis pengerukan, nantinya lumpur yang berada di sepanjang alur Sungai Musi akan dikeruk dan dipindahkan menggunakan sistem dumping area.
Pendek kata, lumpur yang diangkat dari alur sungai akan dibuang ke daerah lain di Sungai Musi yang masih memungkinkan. Soalnya, sulit untuk membuang lumpur tersebut langsung ke laut mengingat biaya untuk itu jauh lebih besar dari biaya pengerukannya sendiri. Nah, mengenai kesiapan kapal keruknya sendiri susah-susah gampang didapat. Satu-satunya perusahaan yang mempunyai kapal keruk berkapasitas besar adalah PT Rukindo. “Pastinya, untuk pengerjaan proyek ini akan ditenderkan,” tukas Sugiono. (46)
Sumatera Ekspres, Minggu, 28 Juni 2009.








Komentar: