Daya Tahan Ampera Perlu Dievaluasi.

PALEMBANG Sekertaris Daerah (Sekda) Sumsel, Drs H Musyrif Suwardi HN MM mengatakan, pengawasan dan pengendalian kontruksi dan bangunan di Sumsel perlu lebih ditingkatkan lagi. Imbauan ini terkait lemahnya kedua hal tersebut. Padahal, faktor pengawasan dan pengendalian menjadi dua hal penting yang selalu terlupakan.

Salah satu aset vital dan bersejarah yang perlu ditingkatkan pengawasannya adalah Jembatan Ampera yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir Kota Palembang. “Umurnya hampir 50 tahun. Kapasitas kendaraan yang lewat di sana semakin bertambah. Jangan sampai kita kecolongan,” ungkapnya, pada pelatihan teknih kontruksi dengan tema pengawasan dan pengendalian konstruksi dan bangunan di Hotel Swarna Dwipa, kemarin.

Dikatakan Musyrif, selain jumlah kendaraan yang melalui Ampera semakin banyak, beberapa faktor mengakibatkan beban jembatan yang dibangun zaman Jepang ini semakin bertambah, salah satunya seringkalinya kendaraan mogok atau berhenti sembarangan di atas Jembatan Ampera. Akibatnya, terjadi kemacetan yang cukup panjang. “Selain itu, konstruksinya perlu dievaluasi, mana yang sudah rapuh dan mana yang perlu diperbaiki,” bebernya.

Evaluasi dan kajian ini, lanjut Sekda perlu segera dilakukan. Karena bagi warga Sumsel khususnya Palembang, keberadaan Ampera menjadi begitu penting. “Tak hanya sekedar ikon Palembang, tapi lebih kepada nilai ekonomis keberadaan jembatan ini begitu tinggi,” cetusnya. Untuk itu, diperlukan tenaga-tenaga andal dalam bidang pengawasan dan pengendalian konstruksi dan bangunan di Sumsel.

“Kita berharap, dari pelatihan teknik konstruksi ini ada ahli di bidang pengawasan dan pengendalian ini,” ujar Musyrif. Kepala Pusat Bimtek BPKSDM Departemen PU, Ir Lukman Arifin MSi dalam sambutannya mengatakan, saat ini menjadi tantangan berat bagi Indonesia di segi pengawasan dan pengendalian konstruksi dan bangunan. Khususnya berbagai pembangunan yang berkaitan dengan bidang pekerjaan umum (PU).

Misalnya, kata Lukman, untuk Bina Marga ada perbaikan dan pembangunan jalan di seluruh Indonesia. “Jalan nasional sekitar 34.600 km, jalan provinsi 46.500 km, jalan kabupaten 241.000 km dan jalan kota 25.000 km,” ucapnya. Di Cipta Karya ada penyediaan instalasi air bersih yang saat ini baru melayani sekitar 48 persen masyarakat di perkotaan dan pedesaan. Untuk pengairan, pembangunan irigasi teknis bagi areal persawahan. Masih banyak tantangan bagi dunia kontruksi dan bangunan. Salah satunya bagaimana menciptakan pembangunan yang berwawasan lingkungan. (46)

Sumatera Ekspres, Selasa, 23 Juni 2009.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s