Presiden Obama Serukan dari Mesir
KAIRO – Diplomasi Presiden AS Barrack Hussein Obama untuk merangkul dunia muslim terus berlanjut. Setelah berkunjung ke Arab Saudi Rabu lalu (3/6), presiden AS berkulit hitam pertama itu kemarin melawat ke Mesir. Di Negeri Piramid tersebut, Obama melakukan serangkaian kegiatan, antara lain, bertemu Presiden Mesir Hosni Mubarak, berkunjung ke Masjid Sultan Hassan yang telah berusia 600 tahun, melancong ke piramid besar di Giza, dan berpidato di Universitas Kairo.
Di antara sekian banyak agenda di Mesir itu, pidato Obama di Universitas Kairo dinilai banyak kalangan paling bersejarah. Di hadapan 1.000 undangan dan jutaan pasang mata yang menyaksikan via televisi, Obama mengajak dimulainya babak baru hubungan Amerika dan umat Islam. Mengawali pidatonya dengan kata-kata perdamaian dan assalamu’alaikum, Obama menyebut kerja sama AS – Islam bakal menumbangkan segala bentuk kekerasan di dunia dan menegakkan perdamaian. “Segala macam kecurigaan dan pertentangan ini harus diakhiri,” ujar Obama seperti dilansir CNN di Kairo kemarin (4/6). Menurut dia, hubungan AS – Islam harus dirajut kembali setelah hancur sejak serangan teroris 11 September 2001 serta agresi Amerika ke Irak dan Afghanistan. Diakuinya, sepak terjang kaum ekstremis minoritas telah mencoreng dunia Islam. Itulah yang menyebabkan Barat selalu mengaitkan aksi terorisme dengan Islam.
“Hal tersebut harus dihapus. Sebagai presiden AS, sudah menjadi tugas saya melawan stereotipe negatif tentang Islam di mana pun,” kata Obama yang berkali-kali mendapatkan tepuk tangan dan teriakan “He’s our man! He’s our man!” dari mahasiswa Mesir. Dia minta hal serupa juga dilakukan dunia Islam terhadap AS. Sebab, lanjut Obama, seperti dalam kitab suci Al-Qur’an, Islam sangat mendukung perdamaian.
Dia sendiri mengaku sudah tidak asing terhadap Islam. Meski dia beragama Kristen, keluarga ayahnya di Kenya adalah muslim. Selama kanak-kanak, dia juga tinggal di Indonesia, negara muslim terbesar di dunia. Karena itu, dia sudah terbiasa mendengar azan sejak pagi hingga malam hari.
Soal Palestina, Obama minta Hamas menghentikan kekerasan dan kembali ke meja perundingan. Bagaimanapun, menurut dia, Israel tetap punya hak untuk eksis. Israel pun harus tahu diri bahwa rakyat Palestina punya hak menempati wilayah itu. Obama juga mengatakan, AS tidak ingin mempertahankan pasukannya di Afghanistan. “Kami sangat gembira setiap tentara kami pulang. Tapi, sesudah kami yakin bahwa tidak ada lagi kekerasan di Afghanistan dan Pakistan,” imbuhnya. (ap/afp/oki)
Sumatera Ekspres, Jumat, 5 Juni 2009.













