Sejarah Kota Palembang.


KOTA Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1325 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai Prasati Kedukan Bukit. Menurut prasati yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di dareah yang sekarang dikenal sebagai Kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi air, bahkan terendam air. Air tersebut bersumber baik dari sungi maupun rawa. Kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang masih tergenang oleh air (data statistik 1990).

Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa Melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus Melayu), sedangkan menurut bahasa Melayu-Pallembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenagi oleh air.

Masa Kerajaan Sriwijaya

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah01.jpg?w=630

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

- Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu; Pegunungan Bukit Barisan.

- Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.

- Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kerajaan Sriwijaya diambil Kesultan Palembang Darussalam pada zaman madya sebagai Kesultanan yang disegani di kawasan Nusantara.

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah02.jpg?w=630

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai pusat redistribusi, yang secara perlahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu). Dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik China Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke-14, menceritakan tentang Sriwijaya sabagai berikut: Negara ini terletak di Laut Selatan, menguasai perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung olrh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Tentu banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos Sriwijaya. Pelaut-pelaut asing seperti China, Arab dan Persia, mencatat seluruh peristiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengar. Jika pelaut-pelaut Arab dan Persia, menggambarkan keadaan Sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika memasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahu-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut China mencatat lebih realistis tentang Kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehidupan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).

Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan Kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan lagi setelah bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil Kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan dan Semenanjung Malaysia.

Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggallah Palembang sebagai satu kekuatan yang tersendiri yang dikenal sebagai Kerajaan Palembang. Menurut catatan China raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanaya menghadap Kaisar China tahun 1374 dan 1375. Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang yang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke Semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan Kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkan setelah dia berperang melawan orang-orang Siam.

Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan Kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya daan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di Nusantara setelah kebesaran Sriwijaya. Palembang sendiri setelah ditinggal Parameswara menjadi chaos. Majapahit tidak dapat menempatkan adipatinya di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang China yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok China yang terusir dari China Selatan, yaitu wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan chou.

Meskipun setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat menolak pimpinan dari Majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai pimpinan meraka. Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang menjadi sarang bajak laut dari orang-orang China tersebut. Tidak heran jika tokoh sejarah dan legendaris dari China, yaitu Laksamana Cheng-ho terpaksa beberapa kali muncul di Palemabang guna memberantas para bajak laut ini. Pada tahun 1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Cheng-ho sendiri telah menangkap tokoh bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Cheng-ho membawa bajak laut ini kehadapan Kaisar, kemudian dihukum pancung ditengah pasar ibukota.

Namun beberapa tokoh bajak laut di Lautan China seperti Chian Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan kemudian menjadi pedagang di Palembang. Chian Lien sebagai pengawas perdagangan untuk China. Sebetulnya kedudukan ini adalah suatu jabatan yang disahkan oleh Kaisar dan mempunyai wewenang mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikkan (promosi) bagi warga China di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang China di Palembang hampir 200 tahun.

Masa Kesultanan Palembang

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah06.jpg?w=630

Menurut Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina di Palembang adalah akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak sekita tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat para pengikutnya melarikan diri ke Palembang. Para pengikut Aria Jipang ini membuat kekuatan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di komplek PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang Pusri. Dari bentuk keraton Jawa di tepi Sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya.

Terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan Jawa dan Melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palembang, memutus hubungan ideologi dan kultural dengan pusat kerajaan di Jawa (Mataram). Dia menyatakan dirinya sebagai sultan, setara dengan Sultan Agung di Mataram. Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706). Keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan Palembang atas kekurangan ajaran hasil wakil wakil VOC di Palembang, Sultan Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai pusat perdagangan). Sultan Mahmud Badaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757) adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lemabang (Kawah tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badaruddin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang). Selain itu dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesultanan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang. Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu – Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada ditangan Sultan yang berkuasa).

Dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan perampasan. Kemungkinan perahu-perahu perompak yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan peralatannya. Selain kekayaan yang melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertahanan.

Ini dibuktikan oleh Sultan Mahmud Bahauddin mendirikan Keraton Kuto Besak pada tahun 1780. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan Mahmud Badaruddin II berhasil mengatasi pololitk diplomasi dan peperangan kedua bangsa tersebut. Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua kali menghajar pasukan-pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang. Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah wajar untuk dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional.

Masa Belanda

Palembang sebagai ibukota Kesultanan Palembang Darussalam pada saat dibawah pemerintahan kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan kotnya. Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang, dizaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir. Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana patronage dan paternalis terbentuk akibat stuktur masyarakat tradisional dan feodalistis.

Keseluruhan sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama gugu(k). Kosakata gugu berasal dari Jawa-Kawi yang berarti; barang katanya, diindahkan. Setiap guguk mmempunyai sifat sektoral ataupun aspiratip.

Sekedar untuk pengertian meskipun tidak sama, bentuk guguk ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada abad pertengah Eropa. Contoh wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah dimana paramiji dan alingan (struktur bawah dari golongan penduduk Kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan artinya pengrajin tembaga (Jawa Kawi). Produksi ini dilakukan atas perintah dari bangsawan yang menjadi pemimpin (guguk) yang menjadi pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang di-alingi/dilindungi).

Hasil produksi ini merupakan pula income bagi Sultan dan Kesultanan. Contoh lain, dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah guguk, yaitu; Kepandean adalah rajin atau pandai besi, Pelampitan adalah pengrajin lampit, demikian juga dengan Kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan. Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif, yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti guguk Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama disekitaran Masjid Agung. Demikian pula dengan Kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun Kebumen yaitu tempat-tempat dimana Mangkubumi menetap.

disamping ada wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan adalah pemukiman orang-orang Bangka, Kebalen adalah pemukiman orang-orang dari Bali.Setelah Palembang dibawah Administrasi kolonial, maka oleh Regering Commisaris J.I. Van Sevenhoven sistem perwilayahan guguk dipecah belah. Pemecahan ini bukan saja memecah belah kekuatan Kesultanan, juga sekaligus memecah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi tunduk kepada pada administrasi kolonial.

Guguk dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengapalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang. Demang adalah pamongpraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di Seberang Ilir dan 16 kampung di Seberang Ulu.

Kampung-kampung ini diberi yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk Seberang Ilir, sedangkan Seberang Ulu dari 1 sampai 16 Ulu. Pemberian nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya, tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun 1939 kampung tersebut menjadi 43 buah, dimana 29 kampung berada di Seberang Ilir dan 14 kampung berada di Seberang Ulu.

Dapat diperkirakan penciutan administratif kampung ini karena yang diperlukan bukan wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak perkepala. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung. Oleh karena kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk tersendiri.

Untuk golongan China, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana bagi kedudukannya.

Pemerintah Kota Palembang pada 1 April 1906 menjadi satu Stadgemeente. Satu pemerintahan yang otonom, dimana dewan kota yang mengatur pemerintahan. Penduduk menyebut pemerintahan kota ini adalah Haminte. Ketua Dewan Kota adalah Burgemeester (Walikota), dia dipilih oleh anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota dipilih oleh penduduk.

Sebenarnya pemerintah kota bukanlah dibentuk untuk tujuan utama memenuhi kepentingan pribumi, akan tetapi lebih kepada kepentingan para pengusaha Barat yang sedang menikmati liberalisasi. Karena dampak liberalisasi menjadikan kota sebagai pusat atau konsentrasi ekonomi, baik sebagai pelabuhan ekspor, industri, jasa-jasa perdagangan dan menjadi markas para pengusaha.

Di Era Zaman Jepang

Dizaman pendudukan Jepang (1942-1945), secara struktural tidak ada perubahan kedudukan Kepala Kampung. Hanya gelarnya saja yang berubah, yaitu menjadi Ku-Co dan mereka dibawah koordinasi Gun-Co.Tugasnya dititik beratkan pada pembangunan ekonomi peperangan Jepang.

Untuk merapatkan barisan dikalangan penduduk, diperkenalkan suatu sistem lingkungan Jepang, Tonari-Gumi, yaitu Rukun Tetangga yang meliputi setiap 10 rumah di suatu kampung. Tonari-Gumi dipimpin oleh seorang Ku-Mi (Ketua RT).

Kegiatan Pembangunan yang Menonjol

Pusat pemerintahan dan pemukiman terletak di bagian barat Kota Palembang. Bentuk pembangunan yang dilakukan berupa:

1. Tata ruang dan saluran air serta pengerukan dan penimbunan daerah rawa (di Kelurahan Karang Anyar, kelurahan Bukit Lama dan Kecamatan Seberang Ulu I), baik bentuk istana, pemukiman warga maupun tempat ibadah.

2. Bangunan tempat ibadah berupa Vihara dan kelengkapannya.

3. pembangunan pelabuhan, serta sarana transportasi.

4. Pembangunan Istana serta rumah-rumah tempat tinggal penduduk, baik diatas daratan, maupun di atas sungai berupa rakit dan rumah bertiang di atas rawa.

5. Pembangunan industri antara lain industri manik-manik di Ilir Barat.

6. Pembangunan Taman Srisetra di bagian barat kota (Prasasti Talang Tuo).

Masa Penjajahan Belanda

Berdasarkan catatan pelaksanaan pembangunan kota yang berencana baru di mulai pada awal terbentuknya pemerintahan kota di tahun 1900-an, seperti dibawah ini:

1. 30 September 1918 Pemerintah kota menetapkan tentang pendirian dan pembongkaran bangunan, yaitu Verordening op het bouwen en sloopen in de Gemeente Palembang.

2. 1935 diterbitkan Bowwverrording der Gemeente Palembang berupa Standsplan (Rencana Teknik Ruang Kota), yang kemudian dengan diterbitkannya peta rencana, peta situasi atau peta penggunaan tanah (detail plan).

1906 – 1935

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah05.jpg?w=630

Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan Kota Palembang antara 1906 – 1935 adalah sebagai berikut:

- Pembelian lapangan-lapangan untuk penimbunan bahan bangunan.

- Pembuatan Jembatan Sungai Ogan.

- Perbaikan Jalan Seberang Ulu dari Ogan ke Plaju melalui 10 Ulu (Jl. KH. Azhari).

- Pembuatan medan lalu lintas dekat 10 Ulu dan Tengkuruk.

-Menyedikan lapangan-lapangan untuk lanjutan jalan kereta api Sumsel dari Kertapati ke Seberang.

- Menyediakan Lapangan pelabuhan di Seberang Ulu.

- Pendalaman alur Sungai Musi.

- Perbaikan jalan dengan pembuatan jalan-jalan tembus dan pelebaran jalan antara Pelabuhan Tengkuruk – Talang Jawa; Jl. Gevangenis (Jl. Lembaga Pemasyarakatan) – Boom Baru.

- Perbaikan tampat-tempat berlabuh untuk kapal-kapal sungai di 19 Ilir (Pelabuhan/ponton).

- Penyediaan tempat transit yang mendesak dari Kertapati (titik ujung jalan kereta api Sumsel) yang dapat dicapai oleh kapal-kapal laut, yang mengambil batubara dari tambang bukit asam.

3. Realisasi stands plan (Master Plan Kota) Kota Palembang. Ini adalah penetapan lokasi-lokasi:

a. Industrial estate di daerah Sungai Gerong dan Plaju.

b. Real Estate di Talang Semut.

c. Sistem Ring and Radial bangunan jalan kota (yang saat itu baru sampai Talang Grunik sebagai lingkar II, Jl. Kapten A Rivai dan Jl. Veteran sekarang).

1935 – 1950

Jepang

a. Perubahan batas kota dengan memasukkan pelabuhan udara Talang Betutu ke dalam Administrasi Kotapraja.

b. Pembangunan jalan By Pass dengan nama Jalan Miaji (Jl. Jend Sudirman).

c. Pembangunan landasan pesawat udara:

- pembangunan Pelabuhan Udara di Betung.

- Lapangan terbang di Talang Balai.

- Perbaikan pelabuhan laut di Kota Palembang.

-Pembangunan Lapangan Pesawat Udara di Sungai Buah.

- Perluasan Lapangan Udara Talang Betutu (SMB II).

- Pembukaan jalan yang dimulai dari Simpang Mesjid (Simp. Jl. TP. Rustam Effendi) samapi ke simpang Charitas (Jl. Jend. Sudirman).

- Perbaikan dan pelebaran Jl. ke Talang Betutu (Jl. Kol. H> Barlian).

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah04.jpg?w=630

1950 – 1960

1. Pembangunan Pasar:

- Lingkis (Cinde)

- Kertapati

- Lemabang

- Buah (Jl. Kol. Atmo/TP> Rustam Effendi)

- Kuto

2. Perumahan Rakyat:

Sungai Buah dan Talang Betutu

3. Air Bersih:

Perluasan Penyaringan pemasangan pipa induk, dari penyaringan ke Jl. Jend. Sudirman, Pipa
suro, Tangga Buntung – Ladang Plaju – Rimba Seru. Pemasangan pipa270 Km peningkatan produksi menjadi 23.000 m3/hari

4. Pembangunan Jalan Lingkar I, l. Jend. Sudirman ke Simpang Cinde Welan

5. Panjang jalan dalam kota 225 Km

6. Penimbunan Musi Boulevart

7. Perumahan Proyek Khusus Kebangkan (PCK)

8. Pembebasan tanah peruntukan:

- Daerah Industri PT Pusri

- Universitas Sriwijaya

- Traffic Garden di Bukit Besar

9. Pembangunan Balai Pertemuan di Jl. Sekanak

10. Pembangunan Stadion Kamboja

11. Pembuatan Kanal (terusan) Sungai Bendung

12. Pembangunan Penyeberangan Tangga Buntung – Kertapati

13. Pembukaan jalan Tangga Buntung ke Gandus

1960 – 1970

1. Pembangunan Jembatan Musi (Jembatan Ampera) April 1962 – Mei 1965

2. Perbaikan Kampung

3. Pembangunan Sekolah Dasar

4. Pembangunan Perumahan Pegawai di Jalan Duku (Sumur Batu), Jl. Makrayu dan PCK

5. Pemugaran Makam Raja-raja Palembang, Rumah Bari

6. Peningkatan Kebersihan

7. Terminal Bawah Jembatan Ampera

8. Pertokoan Tengkuruk By Pass (Permai)

9. Pasar 10 Ulu

10. Pemekaran Kampung 20 Ilir jadi 4, 26 Ilir jadi 2, Sungai Batang dibagi dengan Sungai Selincah

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah08.jpg?w=630

1970 -1980

sasaran pembangunan: Jalan, Air Bersih, Listrik, dan Kebersihan.

Pembangunan Proyek Non Bujeter:

1. Sumbangan Pertamina Upgrading Jalan Dalam Kota:

- 1969 – 1970 Jalan Utama Veteran, Harapan, Jl. Jend. Sudirman dan Jl. Jend A. Yani 9aspal beton)

- 1970 – 1971 Jalan-jalan dalam kota di lebarkan menjadi rata-rata 8 m

- 1973 – 1974 Upgrading jalan dalam kota

- 1975 – 1976 Jalan-jalan di sekitat Pasar 16 Ilir

2. Sumbangan PT Pusri 3 buah jembatan penyeberangan pejalan kaki di Jl. Jend. Sudirman

3. Makmur Store menyumbang 1 buah jembatan penyeberangan jalan di Jl. Jend. Sudirman

4. 1975 – 1978 Perusahaan-perusahaan industri menyumbang 16 buah Shelter Bus

5. Pembangunan petak-petak pasar secara swadaya masyarakat, peremajaan dan modernisasi pasar atau pusat perbelanjaan

6. 1974 Pembangunan gedung pemerintahan Kotamadya. Penetapan Hari Jadi Kota Palembang

7 Sasaran pembangunan diarahkan pada pembangunan sistem drainage (Pengeringan Kota). Pembangunan Sistem Makro dan Sistem Mikro,br />
Sistem Makro: Meliputi saluran induk dengan memanfaatkan sungai-sungai dan kolam-kolam (Retention Basin)

Sistem mikro: meliputi saluran-saluran pengumpulan di daerah-daerah aliran ke saluran-saluran utama dan saluran induk.

Tahap Pelaksanaan:

1. program mendesak

- pembersihan Sungai Bendung dan Sungai Rendang

- peningkatan /pembuatan saluran primer dan saluran sekunder antara kedua sungai tersebut

3. Program Jangkah Menengah

- perancangan detail dan pelaksanaan di wilayah lingkar II

- Normalisasi sungai-sungai, peningkatan/pembuatan saluran-saluran premer dan sekunder

4. Jangka Panjang

- Lanjutan Studi dan perancangan sistem drainage secara keseluruhan

- Perbaikan dan normalisasi Sungai Rendang

- Rehabilitasi anak Sungai Bayas

- Program Perbaikan Kampung (Kampong Improvment Program)

1979 – 1980

Untuk Kampung 9, 10, 11, 13, 14 Ilir dan 1 Ulu, dengan luas areal 40 ha untuk penduduk 30.210 jiwa

1981 – 1982

Untuk Kampung 1, 2 Ulu, 13, 14, 19, 22, 26, 27 dan 28 Ilir, dengan luas areal 80 ha untuk penduduk 41.654 jiwa

1982 – 1983

Untuk Kampung 8, 9, 10, 11, 24, 26, 29, 30 dan 32 Ilir, dengan luas areal 125 ha untuk 75,358 jiwa

1983 – 1984

Diusulkan untuk Kampung 35 Ilir, 3, 4, 5, 7 Ulu, Kertapati dan Ogan Baru dengan luas areal 75 ha untuk penduduk 99.126 jiwa

Dalam realisasi perbaikan kampung dilakukan pada Kelurahan 29, 30, 32, 35 Ilir. 3/4, 5, 7 dan 8 Ulu.

1984 – 1985

Untuk Kelurahan 3/4, 5, 7, 11, 12 Ulu, Kertapati dan Ogan Baru,br />
1986 – 1987

Untuk Kelurahan Karang Anyar, 36, 35, 32 Ilir, 8, 11, 12, 13, 14 Ulu, dan Tangga Takat

1987 -1988

Untuk Kelurahan 2, 3, 5, Ilir dan 13, 14 Ulu.

Bentuk pembangunan KIP ini antara lain:

Jalan Lingkaran (aspal), Kontruksi Ris Beton, Kontruksi jembatan beton, kran air minum, MCK, bak sampah. Gerobak sampah, Buis Beton, SD Bertingkat, puskesmas

1981

pembangunan kembali daerah yang terbakar dikampung 22, 23, 24 dan 26 Ilir dengan areal site seluas 236.078 m2 dengan bangunan rumah flat 4 lantai, pelbagai tipe sebanyak 3.584 unit lengkap dengan prasarana dan fasilitas lingkungan dan 214 kapling tanah siap bangun.

pembebasan tanah untuk rencana pemindahan terminal bawah Jembatan Ampera Seberang Ilir ke wilayah Seberang Ulu baik untuk terminal penumpang maupun untuk barang 8 ha

- Pembangunan taman-taman kota,

- Pembangunan jalan dengan sistem Ring dan Radial sesuai peta 1930.

- Peningkatan Kebersihan dengan pemantapan program PALEMBANG KOTA BARI.

- Panjang jalan dalam kota = 282.290 Km, terdiri dari:

Jl. Arteri = 61.220 Km

Jalan Arteri Sekunder = 58.752 Km

Jalan Kolektor dan lokal = 162.418 Km

penambahan dan pembukaan Ring dan Redial

a. Jalan Radial Soak Bato ke Jalan Kapteh A Rivai

b. Jalan Lingkaran II dari Jl. Letkol Iskandar tembus ke Jalan Segaran.

c. Jalan Radial dari Lingkaran I tembus ke Jalan Veteran

d. Jalan Lingkaran Luar dari Gandus ke Macan Lindungan, Jl. Demang Lebar Daun.

Jumlah jembatan yang ada di Kota Palembang sebanyak 116 buah, terdiri dari:

a. jembatan beton 80 buah.

b. jembatan besi 7 buah.

c. /jembatan kayu 29 buah

pembangunan pemukiman Kenten Sako, polygon, dan rumah susun. Drainage.

_ Sejak 1980 -1987 dibangun saluran sepanjang 333.671 Km, tersebar dari Jalan Kapten A Rivai ke arah Sungai Musi dan Dareh Seberang Ulu.

- Dibangun proyek pengeringan kota sepanjang 7.740 Km untuk lokasi di Kecamatan Ilir Barat I dan Ilir Timur I

1988 Sumatera Selatan ditetapkan sebagai Daerah Tujuan Wisata ke-17. Kota Palembang sebagai ibukota Provinsi menjadi Daerah Utama yang dijadikan sasaran pembangunan kepariwisataan. Obyek wisata yang ditonjolkan adalah wisata air dan budaya

1990 – 1999

- Pembangunan RSUD dan jalan menuju RSUD.

- Jalan Keramasan – Musi II – Macan Lindungan.

- Jembatan Musi II.

- Jalan Mas Krebet.

- Jalan Kebun Bunga

- Jalan Tembus Jalan Sudirman ke Sako

- Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya

- Reklamasi Seberang Ulu I.

- Jalan menuju Tanjung Api-Api.

- Jalan tembus Jl. Jend. A Yani ke Dusun Rambutan.

- Jalan Lingkar Selatan

-</font< Jalan Gandus ke Jalan raya Palembang – Betung.

- Jalan Musi II ke Pembuangan sampah kelurahan Keramasan.

- Jalan tembus Jalan Macan Lindungan ke Jalan Kol. H. barlian.

- pembangunan pemakaman Kebun Bunga (Silk Air).

- Pembangunan Retaining Wall depan Benteng Kuto Besak.

Sumber:
Palembang.go.id

About these ads

One Response to Sejarah Kota Palembang.

  1. Amran Ran Q says:

    Terima kasih, gue jadi bisa ngerjain bAHASA iNDONESIA gUE .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: