Arsip untuk Mei, 2009

Sejarah Kota Palembang (3/10).

Masa Kesultanan Palembang
http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah06.jpg

Menurut Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina di Palembang adalah akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak sekita tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat para pengikutnya melarikan diri ke Palembang. Para pengikut Aria Jipang ini membuat kekuatan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di komplek PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang Pusri. Dari bentuk keraton Jawa di tepi Sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya. Terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan Jawa dan Melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palembang, memutus hubungan ideologi dan kultural dengan pusat kerajaan di Jawa (Mataram). Dia menyatakan dirinya sebagai sultan, setara dengan Sultan Agung di Mataram. Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706). Keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan Palembang atas kekurangan ajaran hasil wakil wakil VOC di Palembang, Sultan Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai pusat perdagangan). Sultan Mahmud Badaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757) adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lemabang (Kawah tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badaruddin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang). Selain itu dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesultanan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang. Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu – Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada ditangan Sultan yang berkuasa).

<- Sebelum | Lanjut –>

SUMBER:
palembang.go.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Sejarah Kota Palembang (2/10).

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut Cina asing seperti Cina, Arab dan Parsi, mencatat seluruh peristiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengar. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan Sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris. Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahut (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehidupan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama). Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggallah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375. Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke Semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkan setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di Nusantara setelah kebesaran Sriwijaya. Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos. Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok Cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.

Meskipun setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat menolak pimpinan dari Majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai pemimpin mereka. Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang menjadi sarang bajak laut dari orang-orang Cina tersebut. Tidak heran jika tokoh sejarah dan legendaris dari Cina, yaitu Laksamana Chen-ho terpaksa beberapa kali muncul di Palembang guna memberantas para bajak laut ini. Pada tahun 1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Chen-ho sendiri telah menangkap tokoh bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Chen-ho membawa bajak laut ini kehadapan kaisar, kemudian dihukum pancung ditengah pasar ibukota. Namun beberapa tokoh bajak laut di Lautan Cina seperti Chin Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan kemudian menjadi pedagang yang di Palembang. Chian Lien sebagai pengawas perdagangan untuk Cina. Sebetulnya kedudukan ini adalah suatu jabatan yang disahkan oleh kaisar dan mempunyai wewenang mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikan (promosi) bagi warga Cina di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang Cina di Palembang hampir 200 tahun.

<- Sebelum | Lanjut ->

Tinggalkan sebuah Komentar

Sejarah Kota Palembang (1/10).

Sejarah Kota Palembang
http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah01.jpg

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1325 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai Prasasti Kedukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai Kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi air, bahkan terendam air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang masih tergenang oleh air (data statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

- Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu: Pegunungan Bukit Barisan.

- Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.

- Daerah pesisir timur laut.

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/06/sejarah02.jpg

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas. Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adala entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat. (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut: Negara ini terletak di Laut Selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.

Berikut –>

SUMBER:
www.palembang.go.id

Tinggalkan sebuah Komentar

Dua Balita Gizi Buruk di OKI.

KAYUAGUNG - Meski masuk sebagai Lumbung Pangan Sumsel, ternyata di Kabupaten OKI masih ditemukan balita yang mengalami gizi buruk. Setidaknya ada dua balita yang mengalami gizi buruk yakni Yunitasari binti Suyono (11 bulan), warga Kampung I, Desa Karya Jaya, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten OKI dan Fianisari binti Purwadi (1,5), warga Kampung VI, Desa Karya Jaya, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten OKI. Sejak empat hari lalu (25/5) hingga kemarin, dua bocah malang tersebut dirawat di lantai II sal anak RSUD Kayuagung. Pihak keluarga terlihat pasrah melihat keadaan anaknya tersebut serta untuk biaya berobat nanti. Kasana (37), ibu Yunitasari mengatakan, anaknya tersebut sejak berusia 5 bulan lalu memiliki keanehan. Mulai dari menurunnya berat badan dari 6,5 Kilogram menjadi 5 kg. Kendatipun demikian, terangnya soal pemberian makanan setiap hari tidak masalah dan anaknya tersebut makan makanan seperti balita normal biasa.

“Awalnya tidak menunjukkan tanda-tanda apa-apa. Tapi, saat masuk usia 5 bulan baru gejala turunnya berat badan terasa dan itu selalu kita pantau,” ujarnya. Dia mengaku, tidak memiliki biaya untuk mengobati anaknya tersebut dan berharap kepada pemerintah setempat dapat menanggung biaya pengobatan anaknya tersebut. “Yang bawa anak saya ke sini adalah petugas puskemas Pematang Panggang. Soal proses administrasi berobat kami tidak ngerti Pak,” ujarnya.

Lain halnya dengan gejala Yang dialami balita bernama Fianisari. Menurut Yatina (20), orang tua Fianisari, anaknya tersebut enggan makan. Dalam sehari hanya makan sekali dan itupun dipaksa untuk makan. “Soal makan, dia (anaknya) itu susah sekali. Paling dalam sehari hanya makan sekali,” jelasnya. Lebih jauh ditambahkannya, komposisi berat badan anaknya tersebut sekitar 5,6 kilogram. Namun, beberapa bulan kemudian, berat badan anaknya berkurang hingga menurun mencapai 5 kg. “Bahkan, anak saya ini berat badannya sempat menurun hingga 4,2 kilogram. Alhamdulillah, saat ini anak saya sudah bisa berjalan,” bebernya.

Kepala Puskesmas Pematang Panggang, Ahmadi saat dikonfirmasi, kemarin membenarkan ada dua balita Desa Karya Jaya yang mengalami gizi buruk. Pihaknya sudah merujuk kedua bocah tersebut ke RSUD Kayuagung. “Ya, kedua bocah itu sempat dibawa ke puskesmas Pematang Panggang. Setelah dilihat maka kita langsung bawa ke RSUD Kayuagung untuk mendapatkan perawatan secara intensif,” ujarnya. Dia mengakui faktor dominan terkena gizi buruk diantaranya disebabkan asupan makanan yang kurang bergizi serta faktor ekonomi. Selain itu juga didukung lingkungan yang tidak bersih. “Makanan tidak bergizi serta ekonomi yang tidak seimbang membuat balita terserang gizi buruk. Ya, sangat rentan sekali balita terkena gizi buruk, jika melihat beberapa faktor di atas itu,” jelasnya.

Senada yang diutarakan Direktur RSUD Kayuagung OKI, dr Nazori. Menurutnya, untuk memulihkan keadaan dua balita agar kembali normal, masih kata dia, pihaknya akan mengintensifkan perawatan dua balita tersebut dengan memberikan asupan makanan bergizi dan cukup. “Paling-paling 3 minggu keadaan mereka (dua balita) kembali normal. Asalkan diberikan asupan makanan bergizi dan mencukupi syarat empat sehat lima sempurna,” ujarnya. (38)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 30 Mei 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Bocah Jakarta Nyasar ke Palembang.

PALEMBANG - Sungguh nekat perbuatan Riki (8), warga Jakarta. Ia meninggalkan orang tuanya dengan tujuan ke rumah neneknya di Palembang. Sayang, karena terlalu kecil ia pun tersesat tanpa tahu alamat rumah sang nenek. Untungnya, ia ditolong Yuliana (30), warga Tanjung Raja, OI saat Riki turun dari mobil AKDP jurusan Palembang-Kayuagung, kemarin (29/5), sekitar pukul 10.00 WIB.

Oleh Yuliana, Riki pun dibawa ke Mapolsek Tanjung Raja. Riki mengenakan kaos warna Hitam kostum Manchester United (MU) bernomor punggung 10 plus nama pemain MU Rooney. Ia mengenakan celana panjang warna biru. Bersamanya, ada dua tas warna hitam dan oranye. Riki mengaku, ia nekat ke Palembang lantaran dimarahi kedua orang tuanya karena nilai ujiannya jelek.

Murid kelas II SD itu mengaku telah meninggalkan rumahnya di Jakarta sejak tiga hari lalu. Selain neneknya, ada pula dua pamannya Ijul dan Idan yang tinggal bersama di rumah sang nenek. Ciri fisik Riki, berkulit putih dan rambut lurus. Dia mengaku nama ayahnya Devi dan ibunya Susi. Riki yang fasih berbahasa Indonesia itu mengaku tinggal di Suka Indah, Jakarta.

Ia berangkat dari Jakarta secara estafet. Dari rumah ia menuju Pelabuhan Merak untuk selanjutnya menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Bandar Lampung. Dari Bandar Lampung, Riki naik kereta api ke stasiun kereta api (KA) di Kertapati Palembang. Ia tiba di stasiun Kertapati, kemarin pagi. Karena tidak tahu alamat neneknya di Palembang, Riki sempat naik angkutan AKDP Jurusan Palembang-Kayuagung dan berhenti di Tanjung Raja.

Kapolres Ogan Ilir AKBP Aman Gane melalui Kapolsek Tanjung Raja AKP Muhammad Soleh mengatakan, dirinya memang benar menerima kedatangan seorang perempuan bernama Yuliana yang membawa Riki. “Untuk sementara, Riki tinggal di Polsek sampai ada orang tua atau keluarganya yang menjemputnya di sini,” kata Soleh. (33)

Sumatera Ekspres, Sabtu, 30 Mei 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »
  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png