Warga Korsel Ritual di Sungai Musi.
8 April 2009 Leave a comment
SEMBAHYANG : Sebanyak 20 warga Korsel, kemarin melakukan sembahyang di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang. Mereka mendoakan 2.280 arwah leluhur yang meninggal saat Perang Dunia II di seluruh Indonesia. Selain Palembang, mereka juga akan menuju Surabaya dan Denpasar.
PALEMBANG – Sekitar 20 warga Korea Selatan (Korsel) pukul 15.00 WIB, kemarin (7/4) memadati plaza Benteng Kuto Besak (BKB). Menggunakan pakaian serbakuning, satu per satu warga kategori lanjut usia (lansia) berusia 60 tahun ke atas, itu mendatangi meja kecil menghadap ke Sungai Musi. Di atas meja, penuh dengan buah, bendera besar Korsel serta beberapa foto lama tentara Korsel. “Mereka sembahyang. Berdoa bagi arwah tentara Korea yang diyakini meninggal di Palembang. Kalau kuburannya tidak diketahui di mana? Perkiraan di Sungai Musi ini,” beber Jin Won Song, salah seorang jurnalis Yonhap News Agency, reporter asal Korsel kepada koran ini.
Menurut Jin Wong Song, sekitar tahun 1944, Jepang merekrut sekitar 2.280 warga Korsel untuk dijadikan tentara. Nah, tentara ini menyebar ke seluruh penjuru Indonesia, termasuk Palembang. Sayang, saat tentara Jepang meninggalkan Palembang, tentara Korsel banyak yang ditinggalkan. Meski tidak tahu rimbanya, tentara Korsel ini diyakini telah meninggal di perairan Sungai Musi. Pemerintah Korsel, lanjut Jin Wong Song, tidak mengetahui persis berapa banyak tentara Korsel berada di Palembang atau Sumsel. Kepastian adanya tentara Korsel berada di Palembang didapat setelah pemerintah Korsel melakukan pengecekan ke pemerintah Jepang.
“Tapi, ada juga tentara Korsel yang sempat mengirimkan surat kepada keluarganya bahwa mereka ditugaskan di Palembang. Nah, yang datang ini merupakan keluarga tentara itu,” ujar wanita berambut pirang ini. Kunjungan ke Palembang, tambah dia, merupakan kunjungan pertama termasuk di Indonesia, setelah tahun lalu mendatangi negara Rusia dengan misi serupa. Rombongan yang tiba sekitar pukul 12.15 WIB di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II itu, rencananya hari ini (8/4) bakal langsung bertolak ke Surabaya sebelum pulang ke Korsel. “Di Kota Surabaya juga terdapat tentara Korsel yang meninggal,” jelas Jin Wong Song. Ditanya pendapatnya mengenai Kota Palembang, dengan cepat Jin Wong Song sangat tertarik. “It’s nice. Especially to see the view of Musi River,” tandasnya.
Daniel, salah seorang pelatih Taekwondo di KONI Sumsel, yang ikut menjadi quide menambahkan, dari ke-20 rombongan menganut berbagai agama seperti Buddha, Kristen, serta Konghucu. Kenjungan sendiri, merupakan sharing dana dari pemerintah Korsel dengan Jepang. Pria yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini mengaku sebenarnya sejak satu bulan lalu, dua orang utusan pemerintah Korsel telah mendatangi Palembang. Mereka melakukan survei tentang kepastian keberadaan tentara Korsel tahun 1944 lalu. “Dari survei, keberadaan warga Korsel banyak di daerah jalur Banyuasin. Karena daerahnya jauh, ritual dilakukan di BKB,” jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Palembang, Baharuddin Ali melalui Kabid Promosi Wisata menyatakan ritual dilakukan rombongan sama sekali tidak mengikutsertakan jajaran pemkot. Warga Korsel hanya meminta izin untuk melakukan ritual. Meski begitu Pemkot tetap menyambut baik. Karena, meskipun sekedar mengadakan ritual, Ismail menilai mereka tetap merupakan wisatawan. Harapannya, ke-20 rombongan ini mendapatkan kesan baik dan mempromosikan wisata yang ada di Palembang, kepada teman serta sanak keluarganya di Korsel. (mg17)
Sumatera Ekspres, Rabu, 8 April 2009.












Komentar: