
Bentuk antisipasi masuknya flu babi ke Sumsel terlihat jelas di pintu kedatangan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang. Sejumlah petugas Dinas Kesehatan Pelabuhan (DKP) terlihat sibuk memeriksa penumpang dua penerbangan yang tiba dari luar negeri. Masing-masing, para penumpang Silk Air yang tiba di Bandara SMB II sekitar pukul 08.10 WIB. Kemudian, pemeriksaan terhadap penumpang maskapai Air Asia dari Kuala Lumpur yang tiba sore kemarin sekitar pukul 16.00 WIB. Pantauan di bandara terlihat, setidaknya ada delapan personel DKP yang memeriksa para penumpang secara bergantian. Satu orang penumpang rata-rata menjalani pemeriksaan antara 5 menit hingga 10 menit lamanya. Yang diperiksa, mulai dari tas tenteng serta seluruh barang bawaan pemumpang. Sama sekali tak ada yang terlewatkan, meski hingga kemarin di bandara belum juga memasang alat thermal scanner yang khusus memeriksa kemungkinan penumpang pengidap virus flu babi. Yuli (42), salah seorang penumpang yang turun baru tiba dari Kuala Lumpur dengan Air Asia mengaku sama sekali tak mempersoalkan adanya pemeriksaan tersebut. Menurut dia, selama pemeriksaan ini dilakukan sesuai menurut prosedur dan kepentingannya jelas sah-sah saja. Karena pada dasarnya hal itu dilakukan demi kebaikan bersama, termasuk penumpang sendiri. “Tak soal kalau mesti diperiksa macam ni, dak takutlah, asalke memang benar-benar buat safety,” papar Yuli, yang rupanya merupakan salah seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal metropolis di Malaysia.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang tak mau ketinggalan. Mereka berencana mengawasi penyebaran flu babi melalui pintu keluar-masuk jalur darat perbatasan antara Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Banyuasin. Khususnya di kawasanan terminal Karya Jaya dan Alang-Alang Lebar (AAL). Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, H Eddy Nursalam SE ATD MTrs menjelaskan, langkah pengawasan yang akan dilakukan pihaknya setelah ada koordinasi dari dinas/instansi terkait lainnya. Dalam hal ini, pelaksanaan teknis di lapangan dilakukan oleh Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. “Kalau memang kita diminta untuk turut mengawasi penyebaran flu babi, maka kita akan segera bentuk tim pengawasan jalur darat. Seluruh barang yang keluar-masuk melalui kedua jalur itu akan kita cek,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel Drs Eppy Mirza menjelaskan, meski belum ada kasus flu babi di Sumsel, namun diperlukan langkah-langkah antisipasi sedini mungkin. Menurutnya, selama ini memang ada tim pemantau yang melakukan yang melakukan pengawasan secara rutin di lapangan. “Pengawasan tetap berjalan, semua produk yang tidak memenuhi syarat akan diamankan,” bebernya. Upaya lain, Disperindag Sumsel akan berkoordinasi dengan Bea Cukai dan BBPOM Palembang. Koordinasi ini dalam upaya melakukan pengawasan di pintu masuk ekspor impor Sumsel dari dan ke luar negeri. Dengan BBPOM, Disperindag terus melakukan pemantauan terhadap produk-produk yang mencurigakan. “Ada yang dicurigai akan diambil sampelnya, kemudian uji laboratorium. Kalau terbukti benar, maka akan dilakukan tindakan,” tegasnya.
Sementara, imbas dari keputusan bersama yang melarang transaksi jual beli daging Babi dan produk turunannya untuk sementara waktu ‘memukul’ peternak dan pemotong babi di Palembang. Sebagian pemotong sekaligus penjual babi mulai kemarin memilih menghentikan sementara waktu aktivitas perdagangan mereka dan lebih memilih berdiam diri di rumah. Hal itu dituturkan Hasan, tukang potong sekaligus penjual babi panggang di bilangan pasar buah Jl TP Rustam Effendi. Ditemui di rumahnya yang sekaligus ditempatkan kandang Babi di kawasan Talang Buruk, Kelurahan Karya Baru, Hasan nampak bingung. “Kami ini hanya bisa pasrah, karena meski katanya perdagangan Babi yang tak diperbolehkan antarwilayah, namun kami yang jual di sini pun juga terkena dampaknya. Sejak beberapa hari terakhir praktis sama sekali tak ada pembeli, jadi kita stop dulu jualan sejak hari ini,” cetus Hasan. (22/mg27/46/adie)
Sumatera Ekspres, Rabu, 29 April 2009.