Arsip untuk April, 2009

Bocor, Pipa Pertamina Terbakar.

  BERITA UTAMA

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/04/bu-0000pipa4.jpg

INDERALAYA - Kebakaran besar menimpa pipa minyak milik Pertamina yang berada di Dusun III, Desa Ibul Besar III, Kecamatan Pemulutan Induk, Kabupaten Ogan Ilir (OI), kemarin (29/4). Kebakaran tersebut terjadi tepat 200 meter di depan Terminal Karya Jaya Palembang.

Belum diketahui pasti kebakaran pipa milik Pertamina yang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB tersebut. Tapi, dugaan sementara, penyebabnya karena pipa tersebut sudah tua dan mengalami kebocoran.

Kobaran api akibat dari kebakaran pipa Pertamina tersebut mencapai 100 m dari tanah. Asap hitam mengepul hingga mencapai radius 1 km. Saking banyaknya asap yang mengepul di udara, cuaca di sekitar Terminal Karya Jaya atau radius 1 km terasa gelap seperti hari sudah menjelang sore.
Baca Lebih Lanjut
[...]

Sumatera Ekspres, 30 April 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Pemkot Rogoh Kocek Rp3 M.

PALEMBANG METROPOLIS

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/04/metro-lampu-d.jpg
Bayar Tagihan 18.800 Lampu Jalan

PALEMBANG - Gemerlap 18.800 buah lampu jalan yang menghiasi Kota Palembang patut diacungi jempol. Namun, imbasnya tagihan listrik yang harus dibayarkan Pemkot Palembang pun membengkak. Jumlahnya mencapai Rp3 miliar. Kondisi ini terjadi setelah subsidi listrik daya max di atas 6.600 VA dicabut pemerintah pusat.

Kepala Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan dan Pemakaman (P2JP), H Taufik Sya’roni menyatakan, sejak awal 2009 tagihan lampu jalan Palembang berkisar Rp2,9 miliar hingga Rp3 miliar perbulan. “Tidak ada masalah, untuk pembayarannya diambil dari pajak penerangan lampu jalan,” katanya. Dijelaskan Taufik, pajak penerangan lampu jalan berasal dari lima persen pembayaran listrik rumah tangga (RT) masyarakat Palembang serta 10 persen pembayaran listrik industri ke PLN. “Pajak yang diambil dr RT dan industri itu masuk ke Dispenda melalui PLN. Nah, dana yang ada pada Dispenda itulah yang kita gunakan untuk membayar tagihan,” beber Taufik.

Dalam sebulan, jumlah pajak penerangan jalan yang masuk ke Dispenda Kota Palembang mencapai Rp3,a miliar tiap bulannya. Dengan begitu, masih ada surplus sekitar Rp300 jutaan yang menjadi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Palembang. “Kalau mau jujur, masyarakat Palembang mempunyai peran memperindah kota. Ya, karena bayaran diambil untuk membayar tagihan ditarik dari pajak mereka bayarkan ke PLN,” jelas Taufik. Mengacu pada tahun lalu, tagihan tahun ini meningkat cukup drastis. Diungkapkan Taufik, pada 2008 Dinas P2JP mengeluarkan sekitar Rp1,9 miliar untuk membayar tagihan lampu jalan. Pemkot harus merogoh kocek lebih dalam setelah kebijaksanaan pemerintah pusat untuk tidak menyubsidi daya di atas 6.600 volt ampere (VA) diberlakukan. Dengan membengkaknya tagihan, PJ2P akan melakukan efisiensi lampu jalan. Caranya dengan tidak mengoperasionalkan seluruh lampu jalan, mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB.

Sebagian lampu jalan pada pukul 00.00 WIB (tengah malam) bakal dimatikan. “Yang dimatikan itu yang mengarah ke pemukiman warga. Lampu di jalan protokol tetap akan dioperasionalkan 12 jam penuh,” tandas Taufik. Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Kadispen) Kota Palembang, Dra Hj Sumaiyah MZ MM melalui Kabid Penagihan dan pembukuan, Darwin Hasan mengatakan, target pajak penerangan jalan tahun 2009 dipatok Rp44 M. Realisasi triwulan pertama tahun ini sudah mencapai Rp10 M. Namun, ada juga penerimaan pajak penerangan non-PLN. Pajak ini didapat dari perusahaan yang menggunakan genset. Misalnya PT Pusri, yang full menggunakan genset dalam operasionalnya. Pendapatan Pemkot dari PT Pusri sendiri, kini mencapai Rp60 juta/bulan. (mg17)

Sumatera Ekspres, 30 April 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Penumpang Bandara Diperiksa Ketat.

http://lemabang.files.wordpress.com/2009/04/metro-smb2-k-4.jpg

Bentuk antisipasi masuknya flu babi ke Sumsel terlihat jelas di pintu kedatangan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang. Sejumlah petugas Dinas Kesehatan Pelabuhan (DKP) terlihat sibuk memeriksa penumpang dua penerbangan yang tiba dari luar negeri. Masing-masing, para penumpang Silk Air yang tiba di Bandara SMB II sekitar pukul 08.10 WIB. Kemudian, pemeriksaan terhadap penumpang maskapai Air Asia dari Kuala Lumpur yang tiba sore kemarin sekitar pukul 16.00 WIB. Pantauan di bandara terlihat, setidaknya ada delapan personel DKP yang memeriksa para penumpang secara bergantian. Satu orang penumpang rata-rata menjalani pemeriksaan antara 5 menit hingga 10 menit lamanya. Yang diperiksa, mulai dari tas tenteng serta seluruh barang bawaan pemumpang. Sama sekali tak ada yang terlewatkan, meski hingga kemarin di bandara belum juga memasang alat thermal scanner yang khusus memeriksa kemungkinan penumpang pengidap virus flu babi. Yuli (42), salah seorang penumpang yang turun baru tiba dari Kuala Lumpur dengan Air Asia mengaku sama sekali tak mempersoalkan adanya pemeriksaan tersebut. Menurut dia, selama pemeriksaan ini dilakukan sesuai menurut prosedur dan kepentingannya jelas sah-sah saja. Karena pada dasarnya hal itu dilakukan demi kebaikan bersama, termasuk penumpang sendiri. “Tak soal kalau mesti diperiksa macam ni, dak takutlah, asalke memang benar-benar buat safety,” papar Yuli, yang rupanya merupakan salah seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal metropolis di Malaysia.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang tak mau ketinggalan. Mereka berencana mengawasi penyebaran flu babi melalui pintu keluar-masuk jalur darat perbatasan antara Ogan Ilir (OI) dan Kabupaten Banyuasin. Khususnya di kawasanan terminal Karya Jaya dan Alang-Alang Lebar (AAL). Kepala Dinas Perhubungan Kota Palembang, H Eddy Nursalam SE ATD MTrs menjelaskan, langkah pengawasan yang akan dilakukan pihaknya setelah ada koordinasi dari dinas/instansi terkait lainnya. Dalam hal ini, pelaksanaan teknis di lapangan dilakukan oleh Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. “Kalau memang kita diminta untuk turut mengawasi penyebaran flu babi, maka kita akan segera bentuk tim pengawasan jalur darat. Seluruh barang yang keluar-masuk melalui kedua jalur itu akan kita cek,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel Drs Eppy Mirza menjelaskan, meski belum ada kasus flu babi di Sumsel, namun diperlukan langkah-langkah antisipasi sedini mungkin. Menurutnya, selama ini memang ada tim pemantau yang melakukan yang melakukan pengawasan secara rutin di lapangan. “Pengawasan tetap berjalan, semua produk yang tidak memenuhi syarat akan diamankan,” bebernya. Upaya lain, Disperindag Sumsel akan berkoordinasi dengan Bea Cukai dan BBPOM Palembang. Koordinasi ini dalam upaya melakukan pengawasan di pintu masuk ekspor impor Sumsel dari dan ke luar negeri. Dengan BBPOM, Disperindag terus melakukan pemantauan terhadap produk-produk yang mencurigakan. “Ada yang dicurigai akan diambil sampelnya, kemudian uji laboratorium. Kalau terbukti benar, maka akan dilakukan tindakan,” tegasnya.

Sementara, imbas dari keputusan bersama yang melarang transaksi jual beli daging Babi dan produk turunannya untuk sementara waktu ‘memukul’ peternak dan pemotong babi di Palembang. Sebagian pemotong sekaligus penjual babi mulai kemarin memilih menghentikan sementara waktu aktivitas perdagangan mereka dan lebih memilih berdiam diri di rumah. Hal itu dituturkan Hasan, tukang potong sekaligus penjual babi panggang di bilangan pasar buah Jl TP Rustam Effendi. Ditemui di rumahnya yang sekaligus ditempatkan kandang Babi di kawasan Talang Buruk, Kelurahan Karya Baru, Hasan nampak bingung. “Kami ini hanya bisa pasrah, karena meski katanya perdagangan Babi yang tak diperbolehkan antarwilayah, namun kami yang jual di sini pun juga terkena dampaknya. Sejak beberapa hari terakhir praktis sama sekali tak ada pembeli, jadi kita stop dulu jualan sejak hari ini,” cetus Hasan. (22/mg27/46/adie)

Sumatera Ekspres, Rabu, 29 April 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Becak Harus Memiliki Pangkalan.

YOS SUDARSO - Mengatasi kemacetan di sekitar Pasar Pagi Lemabang, pihak kecamatan Ilir Timur II mengimbau mamang becak untuk membuat pangkalan sendiri di luar wilayah Pasar Pagi Lemabang. “Kita telah beberapa kali mengingatkan kepada mamang becak yang biasa mangkal di depan pasar pagi untuk memindahkan becaknya agar kawasan tersebut tidak macet. Tapi, mereka masih tetap membandel,” ujar Kasie Tramtib Kecamatan Ilir Timur II Darmansyah, kemarin (28/4).

Pihaknya juga menyiagakan anggotanya di sekitar pasar pagi. Pihaknya berharap agar pemerintah dapat menentukan kawasan mana saja yang diperbolehkan untuk tukang becak. “Sehingga kemacetan di sekitar Pasar Pagi Lemabang dapat diminimalisir,” katanya.

Amir (42) salah seorang tukang becak mengaku keberadaan mereka di depan Pasar Pagi Lemabang karena pasar yang lama sudah tak ada penumpang lagi. “Sebenarnya kita juga ingin tertib, tapi bagaimana lagi pasar yang lama sudah tak ada penumpang lagi,” ujarnya. (mg23)

Sumatera Ekspres, Rabu 29 April 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Wallpaper Islami [20].

http://lemabang35.files.wordpress.com/2009/04/lmb35_020.gif

http://lemabang35.files.wordpress.com/2009/04/lmb35_021.jpg

http://lemabang35.files.wordpress.com/2009/04/lmb35_022.jpg

  MAKKAH WALLPAPER
http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/03/makkah-006.jpg

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/04/makkah-007.jpg

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/03/makkah-008.jpg

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/03/makkah-009.jpg

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/03/makkah-010.jpg

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/03/makkah-011.jpg

http://iwanlemabang.files.wordpress.com/2009/03/makkah-012.jpg

  LEMABANG 2008

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »
  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png