Arsip untuk Maret, 2009

Tabrak Dermaga, KMS Muzdalifah Tenggelam.

PALEMBANG - Kecelakaan kapal motor sungai (KMS) kembali terjadi di perairan Sungai Musi. Kemarin (30/3) sekitar pukul 02.15 WIB, KMS Muzdalifah, tenggelam di perairan Sungai Musi, tepatnya di Dermaga Sei Lais.

KMS dengan nakhoda sekaligus pemilik kapal bernama Syawir (40), warga jalu 8, Pulau Gundul, RT 06/03, Desa Upang Ceria, Kecamatan Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin itu, tenggelam setelah menabrak dermaga. Tujuh orang penumpang, termasuk kru kapal dan isi kapal berhasil diselamatkan.

“Hanya saja, uang Rp4,5 juta masih dalam pencarian. Ratusan karung beras sudah dievakuasi meskipun dalam keadaan basah. Mudah-mudahan masih bisa dimanfaatkan,” ujar Edi Nursalam, Kadishub Kota Palembang saat berada di lokasi kejadian.

Selain Edi, tampak Kabid Laut, SDP & KA, Said Albar dan Kasi Penyidikan dan Pe-nin-dakan, Heriyanto serta Kepala UPTD Dermaga Sei Lais, TM Harianja. Di lokasi kejadian, Kadishub sempat berbincang-bincang dengan kru kapal dan penumpangnya di kantor UPTD Dermaga Sei Lais.

Menurut Edi, KMS Muzdalifah berangkat dari Jalur 8 menuju Pasar Sekanak Palembang sekitar pukul 22.15 WIB, Minggu (29/3). Penumpangnya, 7 orang termasuk empat kru kapal.

Saat kejadian, kapal bermuatan 300 karung beras (sekitar 18 ton). Satu unit sepeda motor Honda Supra Fit, satu unit mesin genset, satu unit pompa air, satu unit kompor gas beserta tabung ukuran 12 kg. Peristiwa tenggelamnya kapal berlangsung Senin malam.

“Ketika akan bersandar kapal itu mengalami kerusakan pada peralatan mesin. Kopel (perseneling) terputus. Akibatnya nakhoda tidak bisa mengendalikan laju kapal dan menabrak dermaga. Bagian depan kapal pecah. Tidak sampai lima menit kapal langsung tenggelam,” kata Edi.

Pantauan Sumatera Ekspres di dermaga Sei Lais, terlihat sejumlah buruh angkut bersama petugas dermaga, sejak pagi membantu mengevakuasi ratusan karung beras yang ikut tenggelam bersama bangkai kapal. Ratusan karung tersebut dibawa ke dermaga untuk bisa dimanfaatkan kembali. Proses evakuasi baru berakhir pukul 17.45 WIB, kemarin.

Kepala UPTD Dermaga Sei Lais, TM Harianja menambahkan, ratusan karung beras dievakuasi ke dermaga dan telah diangkut dengan jukun lain oleh pemiliknya. Sedangkan bangkai kapal yang tenggelam diamankan ke pinggir dermaga.

Terpisah, Syawir, pemilik dan nakhoda kapal mengaku tidak tahu persis penyebab putusnya kopel kapal tersebut. Sebab, sebelum berangkat menuju Palembang, dirinya bersama ABK sudah melakukan pengecekan. Bahkan selama perjalanan Syawir juga sering memerintahkan ABK guna mengecek kondisi mesin.

“Sebelum berangkat kondisi kapal tidak memiliki masalah khususnya pada mesin. Setiap dua jam sekali saya bersama ABK selalu mengecek kondisi mesin dan peralatan kapal lainnya,” tandas Syawir. (mg19)

Sumatera Ekspres, Selasa, 31 Maret 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Budaya Palembang Sumatera Selatan.

Sumatera Selatan sudah di diami manusia sejak zaman purbakala. Bukti-bukti sejarah masa lampau itu antara lain berupa situs-situs megalit dalam berbagai bentuk dan ukuran yang dapat disaksikan baik di museum maupun di alam terbuka. Peninggalan kebudayaan megalit itu merupakan hasil kreasi seni pahat para nenek moyang terdiri dari arca-arca batu berbentuk manusia, binatang, menhir, dolmen, punden berundak, kubur batu, lumpang batu, dan sebagainya yang berukuran kecil sampai raksasa.

Bukti-bukti peradaban pada masa 2.500 – 1.000 tahun Sebelum Masehi tidak hanya mengesankan bagi wisatawan asing maupun domestic, tetapi juga para ahli yang acap kali dating melakukan penelitian ilmiah. Di alam terbuka, situs-situs megalit itu sebagian besar terdapat di Kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu dan Muara Enim. Keberadaan benda-benda itu telah melahirkan berbagai legenda dan mitos dikalangan masyarakat Sumatera Selatan. Di antaranya Legenda Si Pahit Lidah yang karena kesaktiannya mampu membuat apapun yang tidak disukainya menjadi batu.

Dalam abad ke-7 -13 Masehi, Sumatera Selatan merupakan pusat kekuatan kerajaan Sriwijaya dan Palembang sebagai Ibukota Kerajaan. Di masa jayanya, Sriwijaya di kenal sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan mengenai agama Buddha di Asia Tenggara. Pada saat itu kerajaan Sriwijaya dengan kekuatan armadanya yang tangguh, selain menguasai jalur perdagangan dan pelayaran atara Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia, yang telah menjadikan daerah ini sentra pertemuan antar bangsa.

Hal ini telah menimbulkan transformasi budaya yang lambat laun berkembang dan membentuk identitas baru lagi di daerah ini. Tranformasi budaya ini terjadi pula dengan masuknya pengaruh Islam, terutama pada saat Sumatera Selatan dibawah kekuasaan Kesultanan Palembang Darussalam sejak awal abad ke-15. Sebagian besar penduduk Sumatera Selatan sendiri sudah menganut agama Islam sebelum Kesultanan Palembang Darussalam berdiri. Beragam faktor yang mempengaruhi sejarah perkembangan masyarakat di Sumatera Selatan itu telah menimbulkan asimilasi di daerah ini, baik dalam tradisi, seni maupun aspek-aspek lain dalam kehidupam.

Sumber :

www.indonesiamedia.com

Tinggalkan sebuah Komentar

Sungai Meluap, Rumah Tergenang.

MARTAPURA Hujan deras yang mengguyur Martapura dan sekitarnya, kemarin (30/3), berdampak meluapnya air Sungai Komering dan Sungai Mekahak. Akibatnya sejumlah rumah penduduk tergenang air dengan ketinggian hingga 50 cm.

Pantauan koran ini, daerah yang tergenang air terjadi di Desa Mekahak, Kecamatan Martapura, OKUT. Air terus naik seiring arus yang berasal dari hulu sungai. Meski kondisi rumah warga tergenang, namun tak membuat pemilik rumah cemas. Bahkan, mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Asisten II Setda OKUT Bidang Pembangunan, Drs H Revai Raila mengatakan, genangan air yang diakibatkan hujan bersifat temporer. “Atau bersifat sesaat. Jika air terus mengalir, secara otomatis kondisi bagian hulu mulai surut. Jika itu yang terjadi, warga tak perlu cemas. Sebab, hanya bersifat temporer saja,” terangnya.

Banjir juga terjadi di Lahat. Hujan yang turun seharian ditambah rusaknya Saluran Air Pembuangan Limbah (SPAL) dibeberapa wilayah seperti di Jl Letnan Marzuki membuat air banjir dan limbah masuk ke perkarangan rumah. Pantauan dilapangan, kondisi bangunan siring SPAL ambruk ke arah pekarangan rumah warga sepanjang 8 meter.

Banjir juga terlihat di Kelurahan Bandar Agung, tepatnya Perumahan Tiara dan Komplek Perumahan Pekerjaan Umum (PU). “Daerah ini hampir menjadi langganan di saat musim hujan datang,” ungkap Pian (20) warga Komplek PU. (45/mg25)

Lokasi banjir :

Di OKUT :

Di sepanjang aliran Sungai Komering dan Mekahak.

Banjir bersifat temporer.

Di Lahat:

- Jl Letnan Marzuki, akibat SPAL ambruk.

- Kelurahan Bandar Agung.

- Perumahan Tiara dan Perumahan PU.

Sumatera Ekspres, Selasa, 31 Maret 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Dicokot Anjing Pit Bull, Bocah 8 Tahun Tewas.

PAGARALAM Tragis dan mengenaskan, nasib Muhammad Rafli, warga Dusun Serunting, Kelurahan Rebah Tinggi, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam. Bocah berusia 8 tahun itu tewas akibat digigit anjing jenis Pit Bull warna putih, di kawasan Dusun Selangis, Kecamatan Dempo Utara, Minggu (29/3) sekitar pukul 17.30 WIB.

Diketahui, anjing jenis pit bull merupakan anjing asal Amerika Serikat, berkarakter pemburu dan petarung. Selain berwajah sangar, anjing ini gigitannya 3 kali lebih mematikan. Namun belakangan, anjing pit bull yang sudah dilatih juga merupakan penjaga rumah yang baik. Dalam kasus yang dialami, dia akhirnya tewas meski sempat dilarikan ke RSUD Besemah, Kota Pagaralam.

Luka yang dideritanya sangat serius, luka cakar di pipi kiri dan kanan sedalam 2 cm, serta di punggung. Bekas gigitan di leher kiri sedalam 5 cm, di bawah telinga sedalam 5 cm. Kemudian luka robek bagian dada sedalam 3 cm. Diduga cokotan di leher itu yang menewaskan korban. “Korban mengalami luka robek bekas cakaran dan gigitan yang sangat dalam di sekujur tubuhnya,” ungkap dr Nanik Suwaji, yang menangani korban di RSUD Besemah.

Kapolres Pagaralam AKBP K A Sholeh, melalui Kapolsek Dempo Utara Iptu Kaifani, mengatakan kasus tewasnya korban akibat digigit anjing tersebut akan diselidiki pihak. “Kasus ini akan kita selidiki, dalam waktu dekat pemilik anjing akan segera dilakukan pemanggilan terkait kasus yang ada,” tegas Kaifani.

Sementara menurut salah satu saksi mata, Agus Salami (38) warga RT 10, Dusun Selangis, Kelurahan Rebah Tinggi, menerangkan saat kejadian dia sedang berada dirumahnya. Lalu dia mendengar teman-teman korban, menjerit minta tolong jika korban digigit anjing. “Waktu itu korban dan teman-temannya sedang bermain di dekat kuburan cina.” ujar Agus, ditemani kakek korban, Jumarum (60), saat ditemui di RSUD Besemah.

Begitu mendatangi lokasi yang disebutkan teman-teman korban, Agus sempat terkejut melihat seekor anjing yang berukuran sangat besar sedang menerkam dan menggigit leher korban. Warga yang sempat cemas, melempar anjing itu dengan batu dan kayu agar melepaskan gigitannya dileher korban. “Setelah anjing itu pergi, baru kami bawa korban yang sudah terkapar ke RSUD Besemah. Namun korban akhirnya meninggal dunia,” tukas Agus. (44)

Sumatera Ekspres, Selasa 31 Maret 2009.

Komentar (2)

Jembatan tak Terawat.

BATURAJA Pascadiresmikan beberapa waktu lalu, kondisi Jembatan Ogan IV yang menjadi jalur alternatif Desa Tanjung Baru dengan Simpang Gudang Garam, kondisinya kini memprihatinkan. Jembatan yang dibangun dengan dana miliaran rupiah ini terkesan tak terawat.

Padahal Jembatan Ogan IV merupakan salah satu jembatan yang bisa dikatakan icon Kota Baturaja. Informasinya, kerangka Jembatan Ogan IV ini hanya ada di beberapa tempat di Indonesia. Hanya sayangnya, sejak selesai diresmikan beberapa waktu lalu, nasib Jembatan Ogan IV kini seolah terabaikan. Seluruh bagian tanaman yang sebelumnya sudah ditanam di sekitar lokasi jembatan tak terurus. Selain tak terlihat lagi bentuk tanaman hias di tiap pot, tumbuhan liar tumbuh memanjang secara bebas.

Parahnya, di bagian badan Jembatan Ogan IV kini dipenuhi ‘tato’. Ulah tangan usil yang menyemprotkan dan mewarnai jembatan dengan cat itu kini sudah merusak keindahan jembatan. “Dak tahu siapo yang nyemprot cat ke jembatan. Setahu aku lah lamo jugo coretan di sano,” kata Anwar, warga di Baturaja.

Terpisah, Kadis Kebersihan dan Keindahan OKU Drs Zandi Sholeh mengatakan, akan melihat kondisi taman di Jembatan Ogan IV. “Setelah ada anggaran kita akan tinjau tanaman apa yang cocok ditanam di sana,” katanya. (26/36)

Sumatera Ekspres, Senin, 30 Maret 2009.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »
  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png