Makam Ratu Bagus Kuning, Monyet pun Dikeramatkan.


http://lemabang.files.wordpress.com/2011/09/bagus_kunig-1.jpg SELASA (31/1) siang sekitar pukul 10.00 WIB, kompleks pemakaman Ratu Bagus Kuning, Kota Palembang, terlihat senyap. Semilir angin yang menerobos pepohonan bambu disekitarnya mengalirkan keteduhan. Dibawah rindangnya pepohonan bambu, sekerumunan monyet ekor panjang berjalan perlahan. “kondor-kondor.”Emran, petugas penjaga makam, berteriak memanggil para monyet. Ditangan pria itu, tergenggam sebungkus kacang kulit yang siap disebar dipelataran kompleks makam.

Seolah menyahut, kerumunan monyet itu sontak menghampiri Emran. Kacang-kacang yang diserak Emran habis dalam hitungan menit. Monyet yang usai menyantap kacang, pergi menyebar di areal kompleks. Beberapa dari mereka duduk bersandar pada papan nama yang terpancang di makam. beberapa lainnya naik kepohon bambu. Kompleks makam Ratu Bagus Kuning di tepi Sungai Musi, Kelurahan Tangga Takat, Kecamatan Seberang Ulu II, diyakini tempat persemayaman Ratu Bagus Kuning. Makamnya terletak dalam bangunan berkubah, bersama tiga makam tokoh lainnya, yaitu Penghulu Gede Tubagus Karang, Datuk Buyung dan Kuncung Manis.

Diluar bangunan itu, terdapat 10 makam lainnya, yaitu Panglima Bisu, Panglima Batu Api, Syekh Ali Akbar, Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Idrus, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Bujang Juaro, Panglima Semut, dan Syekh Usman. Makam-makan disekitar bangunan berkubah itu terletak menyebar pada beberapa lokasi. Sebuah papan nama terpancang pada setiap makam menunjukan nama tokoh yang di makamkan. Meskipun demikian, tidak tercantum masa hidup dan riwayat masing-masing tokoh.

Makam-makam itu berbentuk persegi panjang dengan ukuran bervariasi. Makam yang ukurannya terlebar adalah makam Panglima Bisu, dengan ukuran sekitar 1 x 2 meter, makam itu bersebelahan dengan makam Puteri Kembang Dadar. Sebagian nisan yang terdapat pada makam itu tidak asli lagi. Nisan makam Ratu Bagus Kuning yang dibuat dari kayu bukan nisan asli. Nisan yang masih asli antara lain terdapat pada makam Tubagus Karang, Puteri Kembang Dadar, dan Panglima Bisu. Menurut juru kunci Ratu Bagus Kuning, Muhammad Nasir, keseluruh makam di kompleks itu dikeramatkan. Ada saja orang yang datang ke mari berziarah. Melalui do’a Kepada Yang Kuasa didepan makam, mereka memohon diberi rahmat dan berkat, kata Nasir.

Kekeramatan tidak hanya menyelimuti makam, ratusan monyet yang turun-temurun menempati kompleks makam itu dipandang bukan monyet biasa. Monyet berbulu abu-abu ini diyakini keturunan laskar, pasukan Ratu Bagus Kuning. Monyet tertua yang dipanggil kondor diduga berusia 21 tahun. Nasir mengisahkan, monyet-monyet itu tidak setiap saat menampakkan diri dikompleks makam. Apabila pengunjung dianggap kurang menyenangkan, monyet-monyet itu menghindar. Pengunjung yang dianggap tidak tertib di kompleks makam juga sering mendapatkan masalah. Mereka yang mengganggu monyet-monyet, atau memilik niat kurang baik bisa memperoleh ganjaran.

Ada yang saat keluar dari bangunan makam tersandung, atau terlempar. Ada yang percaya bahwa hal itu disebabkan kelakuan yang tidak tertib, kata pria yang telah menjaga kompleks makam selama puluhan tahun ini. Meskipun dikeramatkan, belum ada literatur yang mengungkap sejarah Ratu Bagus Kuning secara utuh. Nasir menuturkan, Ratu Bagus Kuning konon keturunan Sayidina Ali, menantu Nabi Muhammad SAW. Ia hidup di Palembang pada abad ke-16, tidak menikah hingga akhir hayat, dan memiliki kesaktian tinggi. Berbeda dengan penuturan Nasir, jurnal berita Penelitian Arkeologi Nomor 9, mencatat Ratu Bagus Kuning yang juga disebut Tubagus kuning adalah Panglima Kesultanan Banten. Pria ini bersaudara dengan Tubagus Karang, mereka datang ke Palembang pada abad ke-16, ketika Kerajaan Palembang berada di Kuto Gawang, atau lokasi pabrik Pupuk Sriwijaya sekarang.

Budayawan Djohan Hanafiah mengatakan, sejarah Tubagus Kuning perlu digali lebih dalam untuk memperjelas kisah Panglima Banten ini. Termasuk peran pria ini ketika Kesultanan Banten menyerang Kerajaan Palembang pertengahan abad ke-16. Ini diperlukan untuk mendukung informasi akurat bagi pengunjung. Meskipun sejarah Tubagus Kuning belum sepenuhnya tergali, kepercayaan sebagian masyarakat terhadap kekeramatan kompleks makam itu dinilai sah-sah saja. Kalau ada orang mempercayai kekeramatan makam-makam itu, kami tidak bisa melarang, tutur Djohan. Keunggulan nilai kekeramatan mencegah tangan-tangan jahil mengusik dan merusak makam, sekalipun terletak ditengah Bukit Golf milik Patra Jaya Pertamina.

Pada hari-hari tertentu, makam ini bahkan ramai dikunjungi otang untuk ziarah. Seperti Selasa itu, bertepatan dengan tahun baru Hijriah, beberapa orang mendatangi kompleks makam. Mereka berdo’a di depan makam Ratu Bagus Kuning. Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Hendri Yansyah menilai, pengeramatan monyet di kompleks makam itu, efektif untuk menjaga kelestariannya.

Tanah Air, Senin, 13 Februari 2006

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/09/logo_01.gif?w=630

http://lemabang.files.wordpress.com/2011/08/logo-02.gif?w=630

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: