Hikmah Sejarah Qurban.
6 December 2008 Leave a comment

Tidak ada yang sia-sia dalam setiap ibadah yang Allah syariatkan kepada manusia, semuanya itu pasti ada hikmahnya. Hanya kita saja yang belum mampu menemukan dan mendapatinya, tetapi kalau saja kita mau menelusurinya pasti kita akan mendapatinya. Termasuk dalam pensyariatan ibadah qurban, setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat kita jadikan pelajaran, diantaranya adalah :
1. Keikhlasan dan Ketulusan.
Yang sangat mengagumkan dari peristiwa sejarah qurban Nabi Ibrahim as adalah keikhlasan dan ketulusan dalam menjalankan perintah Allah tanpa ada rasa berat hati, beban, atau ketidak tulusan dalam menjalankan perintah Allah. Kecintaan, keimanan dan ketaatan Nabi Ibrahin kepada Allah SWT jauh lebih besar daripada kecintaannya terhadap anak, istri, harta, bahkan dunia dan seisinya. Menjadikan perintah yang berat tersebut terasa ringan, juga disisi lain Nabi Ibrahim pun yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mereka, dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk mereka.
2. Kesabaran.
Bila kita merenungi, peristiwa yang terjadi kepada Nabi Ibrahim dengan adanya perintah untuk menyembelih anaknya, merupakan suatu peristiwa luar biasa yang membutuhkan tingkat kesabaran yang luar biasa. Apalagi anak yang harus diqurbankan adalah seorang anak shaleh yang telah dinanti-nantikannya selama puluhan tahun, dan ketika apa yang mereka nanti-nantikan tersebut hadir, lalu ada perintah untuk menyembelihnya, tentu ini merupakan suatu hal yang sangat berat dilakukan untuk ukuran manusia biasa.
3. Ketaatan.
Perintah yang dijalankan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang dicintai membuktikan ketaatan yang luar biasa kepada Allah. Nabi Ibrahim telah menjadikan Allah SWT diatas segala-galanya, termasuk anak dan istrinya, firman Allah SWT; “Ketika Tuhanya berfiman kepadanya: Tunduk patuhlah!. Ibrahim menjawab: Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 131).
Demikian pula halnya dengan istrinya yaitu Siti Hajar, wanita shalehah yang mempunyai ketaatan yang luar biasa kepada Allah SWT, ketika mendengar perintah Allah dari suaminya dan beliau tidak berusaha menentangnya, karena ini adalah perintah Allah yang harus ditaati.
4. Pengorbanan.
Kisah penyembelihan seorang anak oleh seorang ayah dikarenakan ketaatannya kepada Allah merupakan kisah pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan yang bukan hanya dibuktikan Nabi Ibrahim saja sebagai seorang ayah, tetapi juga dibuktikan oleh Ismail dan Siti Hajar sebagai seorang anak dan istri. Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah tentu tidak mau membunuh seseorang yang menjadi darah dagingnya sendiri, apalagi yang dikorbankan adalah orang yang selama ini dinanti-nantikan selama puluhan tahun.
5. Keimanan.
Ketaatan adalah buah dari keimanan, keimanan hadir dari keyakinan, dan keyakinan tumbuh karena adanya hujjah dan pembuktian. Keimanan keluarga Nabi Ibrahim AS merupakan keimanan yang didasari pada keyakinan yang dalam karena mereka telah melihat bukti nyata tentang eksestensi Tuhan yang diyakini dan diimaninya. Dunia adalah bukti eksestensi Tuhan, bahkan jagat raya yang memiliki bermilyar-milyar galaksi merupakan bukti yang nyata akan eksestensi Tuhan.
Buah dari apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS adalah keimanan dan keyakinan yang dalam kepada Allah SWT, sehingga melahirkan hal-hal yang sebagaimana yang telah disebutkan diatas, yaitu ketulusan dan keikhlasan, kesabaran dan ketaatan. Sehingga apapun yang diperintahkan Allah, niscaya akan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan ketaatan. Dan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS merupakan pembuktian kualitas keimanan kepada Allah SWT.












Komentar: