Kebesaran Sriwijaya Yang Nyaris Tak Tersisa (Orang Palembang Mirip China).
22 November 2008 Leave a comment
Kenapa mayoritas orang Palembang di Sumatera Selatan mirip China, walaupun dia beragama Islam? Itulah sebagian ‘sisa hidup’ peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang pernah berjaya di kawasan Asia. Kerajinan tenun songket khas Palembang, pakaian adat Palembang yang mirip China, dan tarian-tarian tradisional, termasuk peninggalan Sriwijaya yang hingga kini masih dapat kita nikmati. Apakah pempek juga termasuk jenis undapan pada masa Sriwijaya berjaya? Mungkin saja begitu.
Pada abad ke – 7 hingga ke – 13 Masehi, Sriwijaya mengalami zaman keemasan. Sebagai kerajaan maritim, namanya dikenal hingga ke mancanegara. Kekuatan maritim dapat dilacak dari peninggalan kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di Sungai Buah, Palembanb, pada 1906-an. Kemudi yang dibuat dari kayu onglen hitam itu panjangnya mencapai delapan meter. Tak heran kalau armada kapal Sriwijaya mampu berlayar ke China dengan membawa komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas dan perak. Barang-barang itu dibeli atau ditukar dengen perselin, kain katun, atau kain sutera.
Pada masa kegemilangannya, banyak pendatang dari mancanegara singgah ke Sriwijaya sekedar untuk ttirah atau berniaga. Beragam jenis kapal bertambat dipelabuhan Sungai Musi. Mereka juga bermukim di Kerajaan Sriwijaya yang dulunya menjadi pusat pendidikan ajaran Buddha dan ilmu pengetahuan. Beberapa bangsawan dan orang kebanyakan menikah dengan pendatang dari China. Tak heran kini mayoritas orang Palembang berkulit kuning lansat dan bermata sipit.
Apabila para bangsawan Sriwijaya tak dibantai habis pasukan Majapahit, kemungkinan mereka adalahnya. Nasib ribuan pendeta Buddha juga tak jelas hingga kini. Apakah mereka dihabisi pasukan Majapahit atau menyingkir ke Tanah Jawa, Thailand, China dan India? Atau mungkin mereka berganti agama kala Islam masuk kebekas Kerajaan Sriwijaya? Tapi yang jelas, sebagian mereka adalah keturunan para pedagang China, dan juga para bajak laut asal China yang menguasai jalur sungai dan laut salama 200 tahun lamanya, usai Sriwijaya hancur lebur diserbu Majapahit. Keganasan perompak ini berakhir setelah Panglima Perang Chengho yang diutus penguasa China datang dan memerangi mereka.
Sebagian perompak yang selamat dari serbuan Chengho, lalu alih usaha didaratan, beranak-pinak, dan membentuk koloni tersendiri. Mereka memutus tradisi dan nilai-nilai yang berkembang di tanah leluhur bangsa China, dan sebaliknya menanamkan kehidupan khs perompak yang berangasan. Sebuah tugu prasasti di Kampung Kapiten, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, menunjukkan pemujaan kepada Dewa Samudera, sebagai peringatan adanya komunitas China yang menetap di Palembang. Adakah kaitan antara mereka dan ‘Preman Palembang’ yang kini tersohor itu? Sepertinya perlu ada penelitian yang lebih mendalam. Kalau di Palembang ada Kampung Jawa, bisa jadi mereka adalah keturunan pasukan Majapahit yang menetap disana.
Secuil peninggalan berbentuk benda mati seperti arca kini masih bisa Anda simak di Museum Bala Putradewa, Palembang, Sumatera Selatan. Tercatat ada 2 museum lagi di Palembang, yaitu Museum Situs Taman Purbakala Sriwijaya (TPKS), dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sejak penjajahan Belanda hingga kini, sisa-sisa kejayaan Sriwijaya berupa barang antik telah pindah tangan ke luar negeri. Palembang, Jambi dan Lampung adalah perburuan bagi kolektor dan pedagang barang antik. Kini tak lagi tersisa.
Dimanakah Pusat Kerajaan Sriwijaya?
Itulah pertanyaan yang hingga kini masih menggantung, karena belum juga ditemukan peninggalan istana atau keraton, kemungkinan besar pada saat penyerbuan pasukan Majapahit, istana tersebut dibumi hanguskan. Sejumlah manuskrip dan prasasti tentang Kerajaan Sriwijaya juga banyak yang rusak, hilang, atau masih terkubur dalam tanah. Ketidaklengkapan temuan arkeologis tersebut menyebabkan para peneliti kesulitan menyusun sejarah kemunculan dan pertumbuhan Kerajaan Sriwijaya secara lengkap dan runtut.
Sejarah Sriwijaya justru banyak disusun berdasarkan berita-berita dari pengelana asing, India atau Arab. Setidaknya ada 18 situs dari masa Sriwijaya di Palembang. Empat situs diantaranya memiliki penanggalan sekitar abad ke – 7 sampai ke – 9, yaitu Situs Candi Angsoko, Prasasti Kedukan Bukit, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung Rawa. Beberapa prasasti juga telah ditemukan, yang isinya menceritakan keberadaan Sriwijaya dan kutukkan bagi para pembangkang. Beberapa peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di Jambi, Lampung, Riau, dan Thailand.
Kebesaran Sriwijaya juga terlacak dari peninggalan di India dan Jawa. Prasasti Dewapaladewa dari Nalanda, India, abad ke – 9 Masehi menybutkan, Raja Balaputradewa dari Swarnadipa (Sriwijaya) membuat sebuah biara. Prasasti Rajaraja I tahun 1046 mengisahkan pula, Raja Kataha dan Sriwiyasa Marajayayottunggawarman dari Sriwijaya menghibahkan satu wilayah desa untuk pembangunan Biara Cudamaniwarna di Kota Nagipattana, India. Manuskrip sejarah, seperti Kitab Sejarah Dinasti Song dan Dinasti Ming, berada di China. Raja Sriwijaya juga mendukung penuh pembangunan Candi Borobudur di Pulau Jawa yang terbuat dari batu gunung. Sedangkan candi-candi peninggalan Sriwijaya di Sumatera semuanya terbuat dari batu bata yang cepat aus dimakan zaman, kenapa? Karena lokasinya jauh dari gunung.
Kabar terakhir dari Malaysia. Raimy Che-Rossa peneliti Malaysia, pada tahun lalu menemukan sebuah kota yang hilang dipedalaman Johor. Rahasia itu terkuak berawal dari sebuah naskah kuno milik Stamford Raffles. Ia memperkirakan reruntuhan puing itu berasal dari Kota Gelanggi yang pada tahun 1025 Masehi diserbu pasukan Chola dari India Selatan pimpinan Raja Rajendra Cholavarman. Kota itu dulunya terkait erat dengan Kerajaan Sriwijaya.
Pada 1612, Tun Seri Lanang, bendahara Royal Court di Johor, menyebutkan Kota Gelanggi yang hilang sebagai perbendaharaan permata (Treasury of Jewels) sebagai catatan, pasukan Chola bergabung dengan Kerajaan Majapahit menyerbu Sriwijaya pada 1377 hingga ludes. Palembang pun jadi kota mati, dan tak lama kemudian dikuasai para perompak dari China. Para bajak laut itu di gempur pasukan China pimpinan Chengho, armada Majapahit dengan dukungan Raja Adittiawarman dari Kerajaan Melayu.
Sriwijaya Telah Hilang Ditelan Zaman.
Menurut Budayawan dan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS), Djohan Hanafiah kepada Kompas, kebesaran Sriwijaya benar-benar terputus oleh kekuasaan Palembang Darussalam dan Belanda, yang membangun budaya jauh berbeda. “Beberapa candi dan peninggalan Sriwijaya sempat dihancurkan dan dikubur dalam tanah dengan alasan teologis, estetika, ilmu pengetahuan, dan seni yang berkembang pada masa Sriwijaya tak lagi tumbuh pada masa berikutnya sampai sekarang,” ujarnya.
Kebesaran Sriwijaya benar-benar telah hilang musnah ditelan zaman. Kota Palembang yang kini kian metropolis dan hingar-bingar membuat peninggalan masa lalu jadi bertambah kesepian. Pertanyaan penting: Masih adakah spirit untuk membangkitkan kebesaran masa lalu di hati sanubari masyarakat Sumatera Selatan, khususnya penduduk Palembang? Wallahua’lam
Kompas














Komentar: