Hakikat Muhasabah.
21 November 2008 1 Comment

Alkisah, hiduplah seorang tabiin shaleh bernama Atha As-Salami. Suatu hari Atha bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh si penjual kain, kemudian penjual kain itu berkata; “Ya Atha, sesungguhnya yang engkau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya.” Begite mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha termenung lalu menangis.
Melihat Atha menangis, penjual kain itu berkata; “Ya Atha sahabatku, aku mengatakan yang sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku dapat membelinya. Kalaulah karena itu engkau menangis, maka biarlah aku akan tetap membeli kainmu itu dan membayarnya dengan harga yang pas.”
Tetapi tawaran itu dijawab Atha; “Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis dikarenakan kainku ada cacatnya?. Ketahuilah, sesungguhnya aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi dimatamu sebagai ahlinya terlihat ada cacatnya. Begitulah aku menangis kepada Allah, dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang kulakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya. Tetapi, mungkin dalam pandangan Allah sebagai ahlinya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”
Ada dua hikmah yang dapat kita ambil dari kisah diatas. Pertama, kita harus sering melakukan muhasabah terhadap segala amal kebaikan yang telah kita kerjakan. Dr Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya yang berjudul “Ruhaniyatud-Da’iah” menjelaskan hakikat muhasabah sebagai berikut; “Hendaklah seorang mukmin menghisab dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan, apakah tujuan amal untuk mendapatkan ridha Allah atau apakah amalanya disusupi sifat ria’?.
Kedua, jangan bersandar kepada amal yang telah kita lakukan untuk dapat masuk kesurganya Allag SWT. Kita harus bersandar kepada rahmat dan ampunan Allah SWT. Sebagaimana hadist yang disampaikan Rasulullah SAW; “Berusahalah setepat dan sedekat mungkin, ketahuilah bahwa amal salah seorang dari kamu tidak dapat memasukkannya kesurga.” Sahabat bertanya; “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?.” Rasulullah menjawab; “Tidak juga aku, melainkan Allah mencurahkan kepadaku rahmat dan ampunan-Nya.”












thanks……..
aku tertarik dengan artikel ini……