Penyesalan Yang Tak Berguna.
24 October 2008 Leave a comment
“Atau supaya jangan ada orang yang berkata ketika melihat azab; ‘Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat baik.’ Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (Az-Zumar: 58-59)
Bila kita mengingat betapa singkatnya jatah hidup yang diberikan Allah SWT kepada kita. Mulai dari alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dan seterurnya. Maka betapa sangat rugi jika kita masih terus terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, sementara usia yang terbatas ini terus berjalan tanpa ada kesempatan untuk mengulang kembali. Firman Allah SWT diatas menjelaskan, bahwa diakhirat nanti, ada manusia yang baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka setelah mereka melihat azab dengan mata kepalanya sendiri.
Ketika itulah mereka menyesal dan memohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan memperbaiki diri. Mereka berkata:
“Lau anna karratan faa kunna minal muhsinin= Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat kebaikan.”
Tetapi, Allah SWT dengan tegas mengatakan:
“Bala, qad ja’aatka aayaatiy fakazzabta biha wastakbar ta wa kunta minal kaafirin= Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.”
Dalam ayat lain dijelaskan, setelah azab didepan mata barulah mereka menyesal dan berkata:
“Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan.” (Yaasin: 22)
Penyesalan yang tak berguna, sekarang inilah kesempatan yang paling baik untuk beriman dan beramal shaleh. Sebab, jika jiwa sudah berpisah dengan raga, maka tidak ada lagi kesempatan untuk hidup kembali guna memperbaiki diri. Allah SWT dengan sifat kasih dan sayang-Nya, selalu berupaya mengingatkan agar kita sadar bahwa dunia ini fana, dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Salah satu bentuk Maha Kasih dan Maha Sayang Allah yang diberikan kepada kita hamba-hamba-Nya, adalah tentang apa saja yang akan kita alami dikehidupan akhirat. Dengan adanya berita-berita itu, maka kita hendaklah berhati-hati agar tidak terjebak memperturutkan hawa nafsu, mengikuti bujuk rayu syaitan.
Allah SWT berfirman:
“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus.” (Yaasin: 60)
Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita agar kita mempunyai kesempatan. Tetapi, kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia. Dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh.
Firman Allah SWT:
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oloeh orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya Allah memberi mereka kesempatan (waktu)sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (Ibrahim: 42)
Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan ini selalu dalam pengawasan Allah SWT, juga tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada disebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendampingi dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasan yang lebih canggih dan akurat selain dari pengawasan malaikat. Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh). (Yaasin: 12)
Marilah kita manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Sebab, jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya. Tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak ada tambahan juga tidak dapat di ulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu menjalani kehidupan ini diatas jalan yang benar, seperti selalu yang kita pinta “Ihdinas sirathalmustaqim.













Komentar: