Kejadiaannya Malaikat Maut.
14 October 2008 Leave a comment
Disebutkan dalam suatu riwayat. Dikala malaikat maut dijadikan Allah SWT, ia diberi tabir dari para makhluk dengan beribu-ribu tabir yang lebih besar dari seluruh langit dan bumi, niscaya tak akan jatuh barang setetespun dari air itu pada bumi. Adapun arah timur sampai arah baratnya bumi, adalah diantara kedua tangannya, seperti meja yang diatasnya diletakkan sesuatu dan diletakkan pada kedua tangan seseorang untuk memakannya, maka ia memakan apa yang dikehendaki.
Begitu pula malaikat maut membalikkan dunia, seperti halnya manusia membalikkan dirhamnya diantara kedua tangannya. Ia diikat dengan rantai, yang panjangnya dapat ditempuh perjalanan seribu tahun. Para malaikat tidak akan mendekatinya, mereka tidak akan mengetahui tempatnya, mereka tidak akan mendengar suaranya dan mereka tidak dapat mengitari seluruh keadaaannya dan ia tak tergantung situasi.
Apabila Allah SWT menjadikan mati dan Dia memerintahkan kepadanya, maka ia berkata; “Wahai Tuhanku, apakah mati itu?.” Maka Allah SWT memerintahkan hijab-hijab untuk membuka, sehingga malaikat maut melihatnya. Kemudian Allah SWT menyerukan kepada para malaikat; “Berdirilah dan lihatlah kalian, ini adalah maut.” Maka mereka seluruhnya sama berdiri. Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya; “Terbanglah kepada mereka dan kembangkanlah sayapmu, bukalah kedua matamu.” Setelah ia terbang, maka malaikat melihat maut, seketika mereka terpelanting dan pingsan. Setelah mereka sadar seraya berkata; “Wahai Tuhan kami, adakah Engkau menjadikan makhluk makhluk yang lebih besar daripada makhluk ini?.” Allah SWT menjawab; “Aku menjadikannya, dan Aku lebih besar daripada maut. Dan setiap makhluk pasti akan merasakannya.”
Allah SWT berfirman; “Wahai Izrail, ambillah itu, Aku memerintahkan kamu mengambil maut.” Izrail menjawab; “Wahai Tuhanku, dengan kekuatan apa apakah aku mengambilnya?, padahal ia lebih besar daripada aku.” Maka Allah SWT mengizinkan kepadanya, dan ia pun menyeru dengan suara keras: “Akulah maut, yang memisahkan antara seluruh kekasih. Akulah maut yang memisahkan suami istri. Akulah maut, yang memisahkan antara anak-anak dan ibu. Akulah maut yang memisahkan antara saudara laki-laki dan perempuan. Akulah maut yang merusak rumah dan gedung-gedung. Akulah maut yang meramaikan kubur-kubur. Akulah maut yang akan mencari dan menjumpai kamu semua walaupun kalian berada dalam gedung-gedung tinggi. Dan makhluk tidak akan kekal kecuali akan merasakan aku.”












Komentar: