Hikmah Idul Fitri.
3 October 2008 Leave a comment

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita, bulan suci yang melatih dan mendidik kita dalam mengendalikan hawa nafsu, bulan yang membersihkan diri kita dari segala dosa dan kemaksiatan. Semoga amal ibadah yang kita kerjakan dibulan Ramadhan diterima Allah SWT, serta memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan kita, yaitu mengembalikan kita kepada fitrah, suci bersih dari segala dosa. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan mengerjakan amal ibadah di dalamnya karena iman dan mencari ridha Allah, maka Allah SWT akan membebaskannya dari segala dosa-dosanya sehingga dia kembali suci bersih seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Ahmad)
Begitu matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan, kegembiraan dan kebahagian menyambut hari kemenangan datang begitu luar biasa kepada kaum muslimin dan muslimat, terutama mereka yang dapat menyelesaikan puasanya dengan baik. Takbir, tahlil dan tahmid berkumandang, bersahut-sahutan membahana seakan membelah langit dunia. Di kota-kota besar hingga ke desa-desa terpencil, kaum muslimin dan muslimat memadati masjid-masjid dan surau-surau semua merayakan hari kemenangan.
Kaum muslimin dan muslimat bersyukur kepada Allah SWT, karena baru saja menyelesaikan ibadah puasa, ibadah yang mengandung nilai-nilai pendidikan dalam mengendalikan dan menundukan hawa nafsu, ibadah yang membentuk jiwa kita teguh dan kuat dalam membentuk watak disiplin. Betapa haru dan syahdunya hati kita saat ini, karena kita merasakan Allah SWT begitu dekat dengan kita, sehingga tanpa terasa membuat kita meneteskan air mata. Air mata kemenangan juga keharuan karena berpisah dengan Ramadhan yang mungkin tahun depan belum tentu akan kita jumpai lagi. Seperti inilah yang selalu dialami Rasulullah SAW beserta sahabat-sahabat dekat beliau tatkala menyambut Idul Fitri dan berpisah dengan Ramadhan.
Marilah kita syukuri hari kemenangan ini bukan dengan pesta pora, dan bukan pula membuang-buang nikmat Tuhan secara sia-sia dan mubazir. Semoga kita tidak termasuk orang yang terjebak dalam pesta sesaat dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri dengan penampilan-penampilan yang penuh dengan kemewahan dan glamour, sebab penampilan yang demikian justru akan menghilangkan makna Idul Fitri tersebut. Sebagaimana diungkap oleh Ibnu Qoyyim; “Idul Fitri bukanlah milik orang-orang yang berpakaian baru, akan tetapi Idul Fitri adalah milik orang-orang yang bertambah iman dan ketaatannya.”
Penampilan mewah pada Idul Fitri justru akan semakin melukai perasaan kaum dhu’afa (orang lemah), para fakir miskin dan yatim piatu. Dihari kemenangan ini, marilah kita bagi kebahagiaan ini kepada mereka-mereka yang memerlukan. Kita distribusikan sebagian kelebihan rizki yang kita miliki, kita santuni anak-anak yatim piatu, kita bantu saudara-saudara kita yang tidak mampu, yang lemah dan yang kekurangan. Etika kemanusiaan ini memang selalu melekat dihati sanubari kita setiap muslim ketika merayakan Idul Fitri, akan tetapi hal ini sering kali dikalahkan oleh hawa nafsu yang mempengaruhi pada pemenuhan kepuasan diri dan tidak ada kepedulian kepada fakir miskin, kaum dhu’afa dan yatim piatu.
Orang yang berhasil dalam puasanya adalah orang yang bertambah nilai kebaikannya, karena munculnya kepekaan dan kepeduliannya terhadap fakir miskin, kaum dhu’afa dan yatim piatu dengan memberikan haknya yaitu zakat, infaq dan shadaqah. Selanjutnya, marilah kita rayakan Idul Fitri tahun ini dengan saling maaf dan memaafkan, pererat tali silaturrahmi kita, serta tanamkan kasih sayang diantara kita.
Sebagai penutup, saya Muhammad Ridwan (iwandj.wordpress.com/lemabang.wordpress.com), mengucapkan; Selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.












Komentar: