Arsip untuk Oktober, 2008

Penyesalan Yang Tak Berguna (bagian 1).

“Atau supaya jangan ada orang yang berkata ketika melihat azab; ‘Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat baik.’ Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. Az-Zumar: 58-59).

Bila kita mengingat betapa singkatnya jatah hidup yang diberikan Allah SWT kepada kita. Mulai dari alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dan seterurnya. Maka betapa sangat rugi jika kita masih terus terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia, sementara usia yang terbatas ini terus berjalan tanpa ada kesempatan untuk mengulang kembali. Firman Allah SWT diatas menjelaskan, bahwa diakhirat nanti, ada manusia yang baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka setelah mereka melihat azab dengan mata kepalanya sendiri.

Ketika itulah mereka menyesal dan memohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan memperbaiki diri. Mereka berkata; “Lau anna karratan faa kunna minal muhsinin= Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentunya aku masuk golongan yang berbuat kebaikan.” Tetapi, Allah SWT dengan tegas mengatakan; “Bala, qad ja’aatka aayaatiy fakazzabta biha wastakbar ta wa kunta minal kaafirin= Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” Dalam ayat lain dijelaskan, setelah azab didepan mata barulah mereka menyesal dan berkata; “Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan.” (QS. Yaasin: 22).

Penyesalan yang tak berguna, sekarang inilah kesempatan yang paling baik untuk beriman dan beramal shaleh. Sebab, jika jiwa sudah berpisah dengan raga, maka tidak ada lagi kesempatan untuk hidup kembali guna memperbaiki diri. Allah SWT dengan sifat kasih dan sayang-Nya, selalu berupaya mengingatkan agar kita sadar bahwa dunia ini fana, dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Salah satu bentuk Maha Kasih dan Maha Sayang Allah yang diberikan kepada kita hamba-hamba-Nya, adalah tentang apa saja yang akan kita alami dikehidupan akhirat. Dengan adanya berita-berita itu, maka kita hendaklah berhati-hati agar tidak terjebak memperturutkan hawa nafsu, mengikuti bujuk rayu syaitan. (kebagian 2).

Tinggalkan sebuah Komentar

Penyesalan Yang Tak Berguna (Bagian 2).

Allah SWT berfirman; “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syaitan. Sengguhnya syaitan itu adalah musuhmu yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus.” (QS. Yassin).

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita agar kita mempunyai kesempatan. Tetapi, kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia. Dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Firman Allah SWT; “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi mereka kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42).

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, juga tak satupun yang luput dari catatan malaikat yang berada disebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendamping dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasang yang lebih canggih dan akurat selain dari pengawasan malaikat. Firman Allah SWT; “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yaasin: 12).

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sebab, jika saatnya tiba tidak ada satupun yang dapat menghalang-halanginya. Tidak dapat dimundurkan juga tidak dimajukan. Oleh karena umur ini tidak dapat ditambah juga tidak dapat diulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu menjalani kehidupan ini diatas jalan yang benar, seperti yang selalu kita pinta “Ihdinas sirathal mustaqim.”

Tinggalkan sebuah Komentar

Kejadiaannya Malaikat Maut.

Disebutkan dalam suatu riwayat. Dikala malaikat maut dijadikan Allah SWT, ia diberi tabir dari para makhluk dengan beribu-ribu tabir yang lebih besar dari seluruh langit dan bumi, niscaya tak akan jatuh barang setetespun dari air itu pada bumi. Adapun arah timur sampai arah baratnya bumi, adalah diantara kedua tangannya, seperti meja yang diatasnya diletakkan sesuatu dan diletakkan pada kedua tangan seseorang untuk memakannya, maka ia memakan apa yang dikehendaki.

Begitu pula malaikat maut membalikkan dunia, seperti halnya manusia membalikkan dirhamnya diantara kedua tangannya. Ia diikat dengan rantai, yang panjangnya dapat ditempuh perjalanan seribu tahun. Para malaikat tidak akan mendekatinya, mereka tidak akan mengetahui tempatnya, mereka tidak akan mendengar suaranya dan mereka tidak dapat mengitari seluruh keadaaannya dan ia tak tergantung situasi.

Apabila Allah SWT menjadikan mati dan Dia memerintahkan kepadanya, maka ia berkata; “Wahai Tuhanku, apakah mati itu?.” Maka Allah SWT memerintahkan hijab-hijab untuk membuka, sehingga malaikat maut melihatnya. Kemudian Allah SWT menyerukan kepada para malaikat; “Berdirilah dan lihatlah kalian, ini adalah maut.” Maka mereka seluruhnya sama berdiri. Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya; “Terbanglah kepada mereka dan kembangkanlah sayapmu, bukalah kedua matamu.” Setelah ia terbang, maka malaikat melihat maut, seketika mereka terpelanting dan pingsan. Setelah mereka sadar seraya berkata; “Wahai Tuhan kami, adakah Engkau menjadikan makhluk makhluk yang lebih besar daripada makhluk ini?.” Allah SWT menjawab; “Aku menjadikannya, dan Aku lebih besar daripada maut. Dan setiap makhluk pasti akan merasakannya.”

Allah SWT berfirman; “Wahai Izrail, ambillah itu, Aku memerintahkan kamu mengambil maut.” Izrail menjawab; “Wahai Tuhanku, dengan kekuatan apa apakah aku mengambilnya?, padahal ia lebih besar daripada aku.” Maka Allah SWT mengizinkan kepadanya, dan ia pun menyeru dengan suara keras: “Akulah maut, yang memisahkan antara seluruh kekasih. Akulah maut yang memisahkan suami istri. Akulah maut, yang memisahkan antara anak-anak dan ibu. Akulah maut yang memisahkan antara saudara laki-laki dan perempuan. Akulah maut yang merusak rumah dan gedung-gedung. Akulah maut yang meramaikan kubur-kubur. Akulah maut yang akan mencari dan menjumpai kamu semua walaupun kalian berada dalam gedung-gedung tinggi. Dan makhluk tidak akan kekal kecuali akan merasakan aku.”

Tinggalkan sebuah Komentar

Mengenang Nama Besar Sriwijaya (1/2).

SRIWIJAYA adalah kerajaan terbesar di Indonesia pada periode abad ke-7 sampai abad ke-14 yang wilayahnya mencakup hampir seluruh Nusantara, minus (Irian Jaya), dan beberapa negara ASEAN, bahkan sampai ke Madakastar. Kita bersyukur, Palembang mendapatkan kehormatan menjadi ibukota Inperium terbesar abad ke-13 ini. Walaupun sebagian sejarah masih memperdebatkan lokasi ibukota kerajaan Sriwijaya. Namun, secara defecto, pemerintah pusat telah memutuskan Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.

Hal ini terbukti dari pembangunan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Gandus, dengan bantuan APBN dari Pusat. Namun, kebesaran Sriwijaya hanya dikenal lewat kerajaannya semata. Hampir tak terdengar siapa yang telah membesarkan nama Sriwijaya dan bagaimana kiprah tokoh tersebut. Untuk Kerajaan Majapahit, kita mengenal nama seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Raden Wijaya, Tri Buana Tungga Dewa. Kerajaan Mataram, Sultan Agungnya. Kerajaan Singasari, tokoh Ken Arok dan Ken Dedesnya. Kerajaan Minangkabau, Aditya Warman dan seterusnya. Bagaimana dengan Sriwijaya?

Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Sungai Tatang Palembang adalah prasasti penting yang sangat menentukan titik awal Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Prasasti ini menggambarkan perjalanan seorang pembesar Minanga Tamwan pada bulan terang hari ke-11 tahun 605 Saka yang membawa bala tentara dengan perahu dua laksa dan berjalan darat sebanyak 1312 orang menuju ke Mukha Upang (Palembang) untuk mendirikan wanua (kota/negeri). Waktu perjalanan ini kemudian diabadikan sebagai hari jadi Kota Palembang.

Tokoh kuno prasasti ini adalah “Dapunta Hyang” bergelar Sri Jaya Naga. Beliau inilah dipercaya pendiri Kerajaan Sriwijaya. Melihat jumlah tentara yang dibawa dengan menggunakan perahu dan jalan darat, menunjukkan Dapunta Hyang dari negeri yang kuat dengan teknologi transportasi memadai pada masa itu. Pada masa pemerintahan Dapunta Hyang, Kerajaan Sriwijaya berkembang sampai ke Bangka, Jambi, Lampung, dan Jawa Tengah. Hal ini terbukti dari ditemukannya prasasti di wilayah tersebut yang menggambarkan kerajaan Sriwijaya.

Di Kota Palembang sendiri, kebesaran Sriwijaya digambarkan dalam dua prasasti lain, prasasti Telaga Batu dan Talang Tuo. Prasasti Telaga Batu berisi imbauan agar para warga kerajaan dari berbagai lapisan, untuk patuh kepada Kedatuan Sriwijaya, dengan ancaman akan dimakan sumpah dan kutukan. Sedangkan prasasti Talang Tuo digambarkan kerajaan Sriwijaya yang memulai pembangunan sebuah taman kerajaan yang besar dan indah dengan pohon-pohon yang dapat dimakan buahnya serta dilengkapi tebat dan telaga untuk kesejahteraan warga.

Sriwijaya periode II tokoh berikutnya adalah “Bala Putra Dewa” yang dipercaya oleh para ahli sejarah sebagai pendiri kerajaan Sriwijaya ke II dengan nama San-fo-tsi atau Swarna Bumi atau Swarna Dwipa. Bala Putra Dewa adalah keturunan Raja Sriwijaya dari dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa Tengah pada abad ke-9 Masehi. Dalam prasasti Siwa Graha diceritakan Bala Putra Dewa menyingkir dari Jawa Tengah ke Sumatera setelah berselisih paham dengan Raja Djitiningrat. Kedatangan Bala Putra Dewa ke Palembang telah membuat Sriwijaya kembali bersinar setelah hampir dua abad mengalami kemunduran. Hal ini terbukti dari kronik Cina yang mencatat sejak mulai berkuasanya Bala Putra Dewa, maka utusan kerajaan Sriwijaya yang datang ke negeri Cina frekwensinya meningkat.

Dalam prasasti Nalanda yang dikeluarkan oleh Raja Banggala (India) Dewa Pala, bahwa Raja Bala Putra Dewa cucu Raja Syailendra dari Yava Bhumi (Jawa) yang saat ini menjadi raja di Swarna Dwipa (Sumatera) memerintahkan untuk membangun sebuah biara di Nalanda. Raja Bala Putra Dewa juga dipercaya sebagai pendiri candi Borobudur di Jawa Tengah. Karena itu, Bala Putra Dewa diabadikan menjadi nama jalan raya utama menuju candi Borobudur. Di Palembang diabadikan sebagai nama museum di kawasan Km 5 dan nama jalan kecil di depan museum tersebut.

Lanjut –>

Komentar (1)

Mengenang Nama Besar Sriwijaya (2/2).

Tokoh ketiga yang patut dikenang adalah “Parameswara” yang merupakan raja terakhir kerajaan Sriwijaya Palembang. Dalam sejarah Melayu, Parameswara dikenal dengan nama Sang Nila Utama bergelar Sri Tri Buana. Parameswara adalah pendiri Temasik atau Singapura sekarang. Ia juga dianggap sebagai pendiri Kerajaan Malaka yang menurunkan raja-raja Melayu yang berkuasa sampai saat ini di Malaysia dan Brunai Darussalam.

Parameswara dilahirkan di Palembang pada tahun 1334 dan menjadi Raja Sriwijaya menggantikan Ma-na-ha-pau-lin-pang (Maha Raja Palembang) pada tahun 1390, kemudian pada tahun 1397, beliau meninggalkan Palembang karena saat itu terjadi serangan terhadap kerajaan Sriwijaya dari Majapahit. Walaupun hanya tujuh tahun berkuasa di Sriwijaya, Parameswara telah berjaya di negeri lain. Ia dianggap sebagai pendiri kerajaan Melayu yang identik dengan kerajaan Islam dan kemudian berkembang menjadi beberapa kerajaan Melayu di Nusantara seperti Malaka, Brunai, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Minangkabau, Melayu Jambi, Kesultanan Palembang, Melayu Pontianak, Melayu Banjar, dan Melayu Bugis.

Di zaman modern imperium, Melayu berkembang menjadi empat negara di Asia Tenggara : Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Dapunta Hyang, Bala Putra Dewa, dan Parameswara adalah pahlawan yang membesarkan Kerajaan Sriwijaya serta menjadikan Palembang terkenal seantero Nusantara.

<– Sebelum

www.indomedia.com/sripo

Tinggalkan sebuah Komentar

Tulisan yang Lebih Tua »
  • Arsip

  • Meta

  • Komentar Spam.

  • RSS LEMABANG 2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008.

  • RSS IWAN LEMABANG 2008-2009.

  • RSS IWAN LEMABANG 2009.

  • SocialVibe


  • http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/4mb0d8i.png
    http://lemabang.files.wordpress.com/2009/07/logo40.png