Asalamu’alaikum.. Wr.. Wb..
Saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.
Asalamu’alaikum.. Wr.. Wb..
Saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.
Zainal Abidin Hanif (Ulama)
HIDUP kita hanya sebentar tinggal di planet bumi yang kecil ini. Menurut Rasulullah SAW tak lebih kurang 60 tahun (hatta balaghosittina’ammah). Oleh sebab itu kita minta dengan Allah SWT agar diberi kesempatan untuk melengkapi rukun Islam kita dengan datang memenuhi undangan-Nya, menjenguk rumah tuanya Baitullah Al Haram sekali seumur hidup sebagaimana firman Dia dalam Surat Ali Imran ayat 96-97 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa yang memasuki (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhmya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Renyuh perasaan kita agar terpilih menjadi hamba yang diundang untuk menjenguk rumah Allah Ka’bah dari dekat. Siang malam menjadi pikiran agar kita jangan mati dulu sebelum berkunjung ke sana. Dari doa ke doa dan dari tahajjud ke tahajjud kita minta dengan cucuran air mata ke Haribaan Allah. Alhamdulillah, Allah memanggil kita sebagaimana bunyi ayat QS Al-Hajj ayat 27 : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Kita pun datang dengan ‘undangan’ Allah SWT. Segalanya disiapkan oleh-Nya. Kita dipilihnya menjadi tamu terhormat. Allah SWT menyiapkan segala keperluan kita karena yang bersangkutan (hamba Allah) merasa tidak memiliki apap-apa, segala bergantung kepada-Nya. Syarat-syaratnya dipenuhi Allah SWT. Apa syaratnya? Dia membawa bekal dari Allah, yaitu taqwa. Dia punya kendaraan dari Allah, yaitu amal-amal yang saleh. Dia membawa senjata yang ampuh dari Allah, yaitu ditolong oleh selalu berdzikir. Dia dicari teman oleh Allah SWT, yaitu hamba sama taat kepada-Nya. Dia pun bersifat ‘dawam’ dari petunjuk Allah, untuk tidak lepas ingat dengan-Nya (baik berdiri, duduk maupun berbaring).
Syarat-syarat ini dipenuhi dengan ringan, sejuk, ikhlas dan karena Dia semata. Mengapa demikian? Karena volume ibadahnya dibesarkan Allah SWT, tidak tanggung-tanggung, mencapai 100 ribu kali (mi’ah alfin). Allahu Akbar.
Dia (hamba Allah) yang diundang Allah SWT. Ketika memasuki Masjidil Haram gemetar/merinding bulu romanya. Terus berjalan ke tengah-tengah masjid yang tiada beratap lalu ia turun ke lantai. Dihadapannya Ka’bah. Kiblat badannya setiap waktu menunaikan ibadah shalat. Apa yang terjadi ketika pandangannya tertuju kepada Ka’bah. Dia lengket dengan yang punya, Allah SWT.
Tangispun tak tertahankan. Air mata berderai, menderas, menganak sungai. Allahu Akbar. Doanya diijabah oleh Allah SWT, yaitu : “Ya Allah, ya Tuhanku, cicipi aku kelezatan memandang Wajah-Mu yang mulia. Rasakan kepadaku ya Allah rindu untuk terus berhubungan dengan-Mu.” Puncak dalam menemukan kebahagian di dunia. Dan memanglah, menurut Allah SWT, dalam firman-Nya dalam surat Yunus ayat 58, kegembiraan dan kelezatan ibadah itu tidak ada bandingnya kecuali dapat berhubungan timbal balik antara si hamba dengan Al-Khalik : “Katakanlah, hendaklah mereka bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu. Itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Sriwijaya Post — Jumat, 30 Oktober 2009 08:31 WIB
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa : 125)
TIDAK ada peristiwa pengorbanan besar yang tercatat dalam sejarah dunia kecuali kisah Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anak kandungnya, Ismail AS. Atas dasar ketundukan kepada perintah Allah SWT. Dan inilah kisah pengorbanan yang paling monumental dan oleh karenanya setiap tahun diperingati oleh umat muslim sedunia sebagai hari raya qurban.
Dua orang anak beranak dihadapkan pada satu perintah yang jelas tapi berat. Yang bisa saja diabaikan karena itu datangnya lewat bermimpi. Atau bisa saja meminta keringanan, mengingat pada saat itu Nabi Ibrahim AS baru memiliki seorang anak. Namun ternyata perintah tersebut dilaksanakan dengan sungguh dan penuh ketaqwaan. Karena Nabi Ibrahim yakin itu adalah mimpi yang benar.
Dan ingatlah saudaraku, pada saat akan disembelih, Nabi Ibrahim AS meminta pendapat kepada sang anak. Apakah ia bersedia disembelih sebagaimana yang ia lihat di dalam mimpi. Dan jawaban Ismail AS, sungguh luar biasa. Ia tidak menampakkan kekhawatiran sedikit pun. “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban sang anak, semakin menguatkan azzam Nabi Ibrahim AS. Kemudian Nabi Ibrahim AS membawa Ismail ke suatu tempat yang sunyi di Mina, tempat di mana para jemaah haji beratus-ratus tahun kemudian melakukan ibadah melempar jumrah. Sebuah tanah yang diberkahi Allah SWT.
Sebelum penyembelihan dimulai, Ismail mengajukan tiga permohonan :
Pertama, sebelum ia disembelih, hendaknya terlebih dahulu sang ayah mengasah pisau setajam-tajamnya. Agar ia lekas mati dan tidak menimbulkan rasa kasihan dan penyesalan dari sang ayah.
Kedua, ia meminta wajahnya harus ditutup, agar tidak timbul rasa ragu atau iba.
Ketiga, bila penyembelihan telah usai, agar pakaian dan Ismail yang berlumuran darah dibawa kehadapan ibunya, sebagai saksi bahwa qurban telah dilaksanakan.
Maka, sebagaimana diriwayatkan, dengan berserah diri kepada Allah SWT, Ismail pun dibaringkan dan dengan segera Nabi Ibrahim AS menyentakkan pisaunya mengiris urat leher Ismail. Dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor Qibasy (biri-biri) gemuk.
Maka sejak saat itu, qurban menjadi syariat yang diwajibkan bagi mereka yang mampu dan dilaksanakan melengkapi pelaksanaan ibadah haji setiap tahunnya. Allah Maha Penyayang, sebagaimana ujian kepada Nabi Ibrahim AS di atas, perintah qurban diganti dengan melakukan penyembelihan terhadap hewan qurban saja. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Wallahualam bis shawab
Buletin Jum’at Insan Mulia
Edisi 271/Tahun V/13 Novemben 2009
Tertutup Awan, Hilal tak Terlihat
PALEMBANG – Lebaran Idul Adha tahun ini tampaknya tak ada berbedaan di kalangan umat Islam. Baik warga Nahdlatul Ummat (NU) maupun Muhammadiyah sepertinya sepakat tanggal 27 November mendatang. “Biasanya, kalau Idul Fitri sudah sama, maka Idul Adha juga tidak akan ada perbedaan,” kata Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama (Kakanwil Depag) Sumsel Drs H Najib Haitami MM di kantornya, kemarin.
Perkiraan tersebut mengacu pada perhitungan awal bulan Dzulhijjah 1430 H. Kata Najib, tejadi ijtima’ (konjungsi) dimana bulan, bumi dan matahari berada dalam satu garis pada selasa (17/11) pukul 02.15 57′ 55″ WIB atau 19.15 57′ 55″ GMT.
Hal itu berarti kemungkinan besar 1 Dzulhijjah jatuh pada hari ini (18/11). Nah, dari perhitungan sistem komtemporer, ketinggian hilal berada pada 5 derajat 3 menit 47,03 detik dengan arah hilal -24 derajat 32 menit 16,24 detik atau 245 derajat 36 menit 43,7 detik selatan titik barat.
Posisi hilal pada -5 derajat 13 menit 33,23 detik sebelah selatan azimut matahari. Hilal dalam keadaan telentang (agak condong ke selatan). Saat itu, matahari terbenam pada pukul 17.54 menit 37,07 detik WIB dengan arah matahari -19 derajat 9 menit 43,01 detik atau 250 derajat 50 menit 16,9 detik selatan titik barat. “Lama hilal berdasarkan perhitungan 24 menit 38,77 detik,” ujar Kakanwil Depag lagi.
Lanjutnya, hilal terbenam sekitar pukul 18.00 19 menit 15,84 detik WIB dengan arah terbenam hilal pada posisi -24 derajat 34 menit 43,34 detik atau 16,6 detik selatan titik barat. “Berdasarkan perhitungan itu, maja kemungkinan besar Idul Adha akan tepat jatuh pada 27 November. Tapi semua masih menunggu sidang isbat Depag pusat,” tukasnya.
Kemarin, sekitar pukul 18.20 WIB, tim Kanwil Depag Sumsel, Pengadilan Tinggi Agama, Masjid Agung, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Muhammadiyah, NU, IAIN dan tim peserta pelatihan hisab dan rukiyat se-Sumbagsel melakukan rukyat dari atas puncak tertinggi Hotel Aryaduta Palembang. Menggunakan alat theodolit dan teleskop, bulan tidak dapat dilihat karena faktor tertutup awan mendung dan kabut asap.
Menurut Zulkifli, tim Kanwil Depag Sumsel hasil rukyat langsung di-faks ke Jakarta. “Keputusan akhir pada sidang isbat pusat,” tukasnya.
Terpisah, Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumsel, Drs H Nofrizal Nawawi, Lc mengatakan, penetapan Idul Adha 2009 pada 27 November berdasarkan hisab yang dilakukan majelis tarjih di pusat. “Hisab sendiri sebetulnya sudah dilakukan di penghujung Ramadhan lalu, dimana hari ini, Selasa ditetapkan awal hilal 1 Dzulhijjah. Hilal terlihat sudah di atas wukuf dengan ketinggi 5 derajat 49 menit,” urai Nofrizal. (22/46/mg44)
Sumatera Ekspres, Rabu, 18 November 2009.
PALEMBANG – Pemerintah kota ini merencang beberapa rencana strategis tahun 2010. Selain melanjutkan proyek pembangunan yang sudah berjalan, ke depan dua proyek baru menjadi prioritas. Yakni, Bus Rapid Transport (BRT) Trans Musi dan pembangunan Trans Studio berupa pusat rekreasi dan hiburan keluarga seperti Taman Impian Jaya Ancol Jakarta.
Kepala Bagian Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Palembang, Ir H Solahudin MM mengatakan, persiapan BRT Trans Musi dan pengerjaan sarana-prasarana berupa halte, saat ini sudah berjalan. “Target operasional Desember 2009,” ujarnya.
Saat ini 10 bus dari APBD Kota sudah siap. Tinggal menunggu 20 bus bantuan APBN. Begitu juga pengerjaan halte untuk 2 koridor yaitu Alang-Alang Lebar (AAL)–Ampera, dan Sako–Palembang Indah Mall (PIM).
Proyek baru kedua tahun 2010, kata Solahudin, berupa pembangunan pusat rekreasi Trans Studio. “Baru wacana, yang terlontar dari Pak Wali Kota. Lokasinya kita belum tahu. Yang mencari dan mengkaji kelayakan lahan nanti bagian Agraria. Ini juga mendukung program wali kota-wakil wali kota untuk mewujudkan kota internasional, sejahtera, dan berbudaya.”
Ia menambahkan, jika total lahan yang dibutuhkan mencapai 2,5 hektare, tentu yang cocok adalah daera Pulokerto Gandus atau Pulau Kemaro. Persoalannya, jika mengambil lokasi itu, diperlukan alat transportasi air, untuk lintas pulau.
Kabag Keagrariaan dan Batas Wilayah Setda Kota Palembang, H Syafawi SH MHum mengakui memang ada rencana pembangunan Trans Studio. Hanya, sejauh ini baru koordinasi untuk pencarian lahan.
Sementara itu, A Hadiansyah Lubis, marketing PR Dept Head Sales & Marketing Division PT Televisi Transformasi Indonesia saat berkunjung ke Graha Pena memaparkan bahwa proyek Trans Studio Theme Park merupakan kawasan yang akan menampilkan gemerlap dunia layar lebar dan TV. Mirip tampilan ala Hollywood era tahun 60-an.
Dikatakan, berbagai wahana bakal dibangun. Antara lain, Trans City Theater, Studo Tour, Hollywood Bumper Car, Bioskop 4D, Ballon House, Ayun Ombak, dan sebagainya. Lengkap dengan restoran, sarana dan prasarana lainnya.
“Kita invest di sini, karena Palembang masuk dalam rating 10 besar yang menjadi prioritas lokasi Trans Studio,” ungkapnya didampingi Ichwan Murni, Arviane DB, dan Nina Anastasia. Lanjutnya, investasi yang akan digelontorkan senilai Rp 2 triliun. Ia memprediksi, sebanyak 1.000 tenaga kerja bakal diserap.
Dibagian lain, pembangunan fisik Kota Palembang sepanjang Januari-September sudah mencapai 51,48 persen dengan penyerapan anggaran 42,85 persen atau senilai Rp 82, 198 miliar dari total anggaran Belanja Modal (fisik) Rp 250,954 miliar. Pendek kata, anggaran yang tersisa Rp 168,756 miliar. (mg29)
Sumatera Ekspres, Selasa, 17 November 2009.