Asalamu’alaikum.. Wr.. Wb..
Saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.
Asalamu’alaikum.. Wr.. Wb..
Saya Muhammad Ridwan (iwandj) mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H. Minal aidin walfa’idzin, mohon maaf lahir dan batin.
WAHAI anak-anakku sering-seringlah mengingat maut dan memikirkan tentang keadaan yang akan enkau jumpai setelah itu. Sehingga dengan demikian ia akan mendatangi kelak dalam keadaan dirimu telah siap menerimanya dan telah mengencangkan ikat pinggangmu untuk menerimanya. Jangan sampai ia datang secara tiba-tiba sehingga membuatmu tersentak kebingungan.
Ketahuilah wahai anak-anakku, bahwa engkau diciptakan untuk kehidupan akhirat, bukan untuk dunia. Untuk kefanaan, bukan untuk kebakaan, untuk kematian bukan untuk kehidupan langgeng. Engkau kini berdiam dalam rumah sementara dengan keadaan yang hanya mencukupi kebutuhan. dan dibawa berjalan di atas jalan menuju akhirat. Dan engkau selalu dikejar oleh maut yang tidak seorangpun terlepas dari kejarannya, tidak pula mampu menghindarinya. Ia pasti mencapai mangsanya.
“Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh” (QS. An-Nisa : 78)
Maka waspadalah slalu, jangan sampai ia mencapaimu ketika engkau dalam keadaan buruk. Walaupun barangkali engkau pernah membisikkan keinginan bertaubat ke dalam hati sanubarimu, namun maut yang datang cepat dapat menjadi penghalang antara engkau dan niatanmu itu. Jika demikian itu terjadi, maka sesungguhnya engkau telah menjadi penyebab kebinasaan bagi dirimu sendiri.
“Secerdik-cerdiknya manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat” (HR. Ibnu Majah)
Wahai anak-anakku yakinilah seyakin-yakinnya bahwa engkau tak mungkin mencapai semua cita-citamu, melampaui ajalmu. Maka bersahajalah dalam pencaharianmu, jaga nilai-nilai kebersihan usahamu, jangan sampai engkau terjerumus ke dalam kecurangan. Jagalah dirimu dari segala perbuatan yang hina, meski ia mungkin mendatangkan sesuatu yang menjadi keinginanmu. Ketika engkau mati semuanya engkau tinggalkan kecuali amal baikmu yang akan setia mengantar dan menjagamu. (Usaid)
SUMBER :
Buletin Wasilah, edisi 08
06 Shafar 1431 H/22 Januari 2010
Pengamalan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan manusia sehari-hari merupakan kendali tingkah laku dan amal perbuatan. Orang yang tidak mempunyai kendali dalam dirinya dapat dengan mudah kehilangan kontrol. Ia mudah tergoda menurutkan hawa nafsunya melakukan perbuatan yang tidak terpuji seperti antara lain tidak jujur, tidak berdisiplin, tidak bertanggung jawab, suka merugikan atau mempersulit orang lain.
Orang yang benar-benar taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa secara built in telah diperlengkapi dirinya dengan kontrol. Seseorang yang benar-benar taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa tindak tanduknya dan perbuatannya akan terkontrol oleh ketaqwaannya. Orang yang benar-benar taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yakin bahwa amal perbuatan, tingkah laku maupun tindak-tanduknya tidak ada yang luput dari pengawasan atau kontrol Allah Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dengan keyakinannya itu amal perbuatan dan tingkah lakunya akan terkendali. Meskipun tidak ada orang yang mengetahui atau mengawasinya senantiasa ia akan menghindari tingkah laku dan perbuatan yang tercela dan berusaha melakukan yang terpuji, bermanfaat atau produktif seperti yang disuruhkan-Nya, memelihara diri dari noda dan dosa.
Allah Tuhan Yang Maha Esa tidak hanya mengetahui tingkah laku dan amal perbuatan seseorang akan tetapi juga mengetahui apa yang menjadi bisikan hatinya, Dia menyertai manusia, kapan dan dimana ia berada. Penerapan sikap mental Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam kegiatan administrasi dapat merupakan pengawasan atau kontrol (kendali) yang otomatis. Apabila seseorang pegawai, orang yang mengelola administrasi atau orang-orang yang berhubungan dengan kegiatan administrasi itu mampu menanamkan rasa Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya masing-masing lalu menerapkannya dalam kegiatan administrasi itu mampu menanamkan rasa Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam dirinya masing-masing lalu menerapkannya dalam kegiatan administrasi maka berarti mereka itu secara “built in” lah memperlengkapi dirinya masing-masing dengan sarana pengawasan, kontrol atau kendali. “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf : 201)
Zainal Abidin Hanif (Ulama)
HIDUP kita hanya sebentar tinggal di planet bumi yang kecil ini. Menurut Rasulullah SAW tak lebih kurang 60 tahun (hatta balaghosittina’ammah). Oleh sebab itu kita minta dengan Allah SWT agar diberi kesempatan untuk melengkapi rukun Islam kita dengan datang memenuhi undangan-Nya, menjenguk rumah tuanya Baitullah Al Haram sekali seumur hidup sebagaimana firman Dia dalam Surat Ali Imran ayat 96-97 : “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa yang memasuki (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhmya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Renyuh perasaan kita agar terpilih menjadi hamba yang diundang untuk menjenguk rumah Allah Ka’bah dari dekat. Siang malam menjadi pikiran agar kita jangan mati dulu sebelum berkunjung ke sana. Dari doa ke doa dan dari tahajjud ke tahajjud kita minta dengan cucuran air mata ke Haribaan Allah. Alhamdulillah, Allah memanggil kita sebagaimana bunyi ayat QS Al-Hajj ayat 27 : “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Kita pun datang dengan ‘undangan’ Allah SWT. Segalanya disiapkan oleh-Nya. Kita dipilihnya menjadi tamu terhormat. Allah SWT menyiapkan segala keperluan kita karena yang bersangkutan (hamba Allah) merasa tidak memiliki apap-apa, segala bergantung kepada-Nya. Syarat-syaratnya dipenuhi Allah SWT. Apa syaratnya? Dia membawa bekal dari Allah, yaitu taqwa. Dia punya kendaraan dari Allah, yaitu amal-amal yang saleh. Dia membawa senjata yang ampuh dari Allah, yaitu ditolong oleh selalu berdzikir. Dia dicari teman oleh Allah SWT, yaitu hamba sama taat kepada-Nya. Dia pun bersifat ‘dawam’ dari petunjuk Allah, untuk tidak lepas ingat dengan-Nya (baik berdiri, duduk maupun berbaring).
Syarat-syarat ini dipenuhi dengan ringan, sejuk, ikhlas dan karena Dia semata. Mengapa demikian? Karena volume ibadahnya dibesarkan Allah SWT, tidak tanggung-tanggung, mencapai 100 ribu kali (mi’ah alfin). Allahu Akbar.
Dia (hamba Allah) yang diundang Allah SWT. Ketika memasuki Masjidil Haram gemetar/merinding bulu romanya. Terus berjalan ke tengah-tengah masjid yang tiada beratap lalu ia turun ke lantai. Dihadapannya Ka’bah. Kiblat badannya setiap waktu menunaikan ibadah shalat. Apa yang terjadi ketika pandangannya tertuju kepada Ka’bah. Dia lengket dengan yang punya, Allah SWT.
Tangispun tak tertahankan. Air mata berderai, menderas, menganak sungai. Allahu Akbar. Doanya diijabah oleh Allah SWT, yaitu : “Ya Allah, ya Tuhanku, cicipi aku kelezatan memandang Wajah-Mu yang mulia. Rasakan kepadaku ya Allah rindu untuk terus berhubungan dengan-Mu.” Puncak dalam menemukan kebahagian di dunia. Dan memanglah, menurut Allah SWT, dalam firman-Nya dalam surat Yunus ayat 58, kegembiraan dan kelezatan ibadah itu tidak ada bandingnya kecuali dapat berhubungan timbal balik antara si hamba dengan Al-Khalik : “Katakanlah, hendaklah mereka bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu. Itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Sriwijaya Post — Jumat, 30 Oktober 2009 08:31 WIB
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa : 125)
TIDAK ada peristiwa pengorbanan besar yang tercatat dalam sejarah dunia kecuali kisah Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anak kandungnya, Ismail AS. Atas dasar ketundukan kepada perintah Allah SWT. Dan inilah kisah pengorbanan yang paling monumental dan oleh karenanya setiap tahun diperingati oleh umat muslim sedunia sebagai hari raya qurban.
Dua orang anak beranak dihadapkan pada satu perintah yang jelas tapi berat. Yang bisa saja diabaikan karena itu datangnya lewat bermimpi. Atau bisa saja meminta keringanan, mengingat pada saat itu Nabi Ibrahim AS baru memiliki seorang anak. Namun ternyata perintah tersebut dilaksanakan dengan sungguh dan penuh ketaqwaan. Karena Nabi Ibrahim yakin itu adalah mimpi yang benar.
Dan ingatlah saudaraku, pada saat akan disembelih, Nabi Ibrahim AS meminta pendapat kepada sang anak. Apakah ia bersedia disembelih sebagaimana yang ia lihat di dalam mimpi. Dan jawaban Ismail AS, sungguh luar biasa. Ia tidak menampakkan kekhawatiran sedikit pun. “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban sang anak, semakin menguatkan azzam Nabi Ibrahim AS. Kemudian Nabi Ibrahim AS membawa Ismail ke suatu tempat yang sunyi di Mina, tempat di mana para jemaah haji beratus-ratus tahun kemudian melakukan ibadah melempar jumrah. Sebuah tanah yang diberkahi Allah SWT.
Sebelum penyembelihan dimulai, Ismail mengajukan tiga permohonan :
Pertama, sebelum ia disembelih, hendaknya terlebih dahulu sang ayah mengasah pisau setajam-tajamnya. Agar ia lekas mati dan tidak menimbulkan rasa kasihan dan penyesalan dari sang ayah.
Kedua, ia meminta wajahnya harus ditutup, agar tidak timbul rasa ragu atau iba.
Ketiga, bila penyembelihan telah usai, agar pakaian dan Ismail yang berlumuran darah dibawa kehadapan ibunya, sebagai saksi bahwa qurban telah dilaksanakan.
Maka, sebagaimana diriwayatkan, dengan berserah diri kepada Allah SWT, Ismail pun dibaringkan dan dengan segera Nabi Ibrahim AS menyentakkan pisaunya mengiris urat leher Ismail. Dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor Qibasy (biri-biri) gemuk.
Maka sejak saat itu, qurban menjadi syariat yang diwajibkan bagi mereka yang mampu dan dilaksanakan melengkapi pelaksanaan ibadah haji setiap tahunnya. Allah Maha Penyayang, sebagaimana ujian kepada Nabi Ibrahim AS di atas, perintah qurban diganti dengan melakukan penyembelihan terhadap hewan qurban saja. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan amal hamba-hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Wallahualam bis shawab
Buletin Jum’at Insan Mulia
Edisi 271/Tahun V/13 Novemben 2009